Senin, 22 Desember 2014
Tribun Pekanbaru

Produksi Turun Hingga 35%, Harga Lada Makin Pedas

Senin, 22 November 2010 09:41 WIB

Produksi Turun Hingga 35%, Harga Lada Makin Pedas
JAKARTA, TRIBUNNEWSPEKANBARU.com - Perubahan iklim yang cukup ekstrim akhir-akhir ini mempengaruhi produksi komoditas pertanian, termasuk lada. Akibatnya, produksi lada dunia diperkirakan menurun sekitar 20% hingga 35%. Produksi yang menyusut ini akan menggiring harga menjadi lebih mahal.

Harga lada di bursa National Comodity and Derivatives Exchange (NCDEX) seperti dikutip situs Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) menunjukkan, pekan lalu harga lada di pasar spot Kochi Market India ada pada posisi 21.780 Rupe per 100 kg. Kenaikan harga lada ini dipicu oleh menurunnya produksi lada di beberapa negara produsen lada seperti Vietnam, India, Srilanka, China, Malaysia dan Indonesia akibat perubahan cuaca.

Asal tahu saja, Vietnam adalah produsen lada terbesar di dunia, diikuti oleh India yang menyuplai 13% lada dunia, Brazil 13%, Indonesia 9%, Malaysia 8%, Srilanka 6%, China 6% dan Thailand 4%.

Kenaikan harga lada dunia ini tentu saja mengerek harga lada di dalam negeri. Berdasarkan data Bappebti, harga lada putih di Pangkal Pinang sudah mencapai Rp 58.878 per kg, naik 43,45% ketimbang harga lada putih di awal Januari lalu yang seharga Rp 41.044 per kg. Sedangkan harga lada hitam di Lampung sudah menapai Rp 33.991 per kg, naik 36% dari harga awal Januari lalu yang sebesar Rp 25.000 per kg.

Direktur Pemasaran Domestik Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (PPHP) Kementerian Pertanian Gardjita Budi menuturkan suplai lada baik di tingkat domestik maupun di tingkat dunia yang menurun membuat tren harga lada terus naik. "Padahal, sebenarnya permintaan lada cukup stabil, artinya tidak ada permintaan yang naik secara ekstrem," jelasnya kepada KONTAN akhir pekan lalu.

Permintaan Bembengkak

Data yang dirilis oleh Bappebti menunjukkan, harga lada hitam pada tingkat pedagang pengumpul di sentra produksi Kabupaten Kepahiang, Bengkulu, pada Selasa (16/11) pekan lalu naik Rp 28.000 dari sebelumnya Rp 25.000 per kilogram. Sementara pada pedagang di KotaBengkulu tetap Rp 20.000 per kilogram.

Naiknya harga lada hitam di daerah itu, karena tingginya permintaan dari pedagang besar dari luar Bengkulu antara Sumatra Barat, sedangkan pasokan dari petani cenderung turun. Lada hitam di Bengkulu dipasok dari beberapa sentra produksi antara lain di Kabupaten Kepahiang, Bengkulu Selatan dan Kabupaten Kaur, sementara permintaan paling tinggi dari pedagang besar dari Medan dan Sumbar.

Gardjita menambahkan, tingginya curah hujan saat pembungaan, proses panen dan setelah pemanenan membuat kualitas lada juga menurun. Melihat kondisi cuaca ke depan yang diperkirakan masih belum bersahabat untuk tanaman lada, Gardjita memprediksi harga lada masih akan naik. "Hingga semester I tahun depan cuaca ekstrim masih akan terjadi,sehingga tendensinya beberapa komoditas masih akan mengalami kenaikan harga," ungkapnya.

Awalnya, Kementerian Pertanian menargetkan produksi lada hitam nasional tahun ini akan mencapai 87.551 ton. Target ini lebih tinggi ketimbang realisasi produksi lada hitam tahun 2009 yang sebanyak 84.506 ton. Gardjita sendiri mengaku belum bisa memperkirakan seberapa besar penurunan produksi lada hitam. Tapi, jika mengacu prediksi IPC dan AMIC, maka produksi lada hitam Indonesia hanya akan mencapai maksimal 59.154 ton.

Sementara itu, Agricultural Market Intellegence Centre (AMIC) pernah memprediksi, produksi lada putih di seluruh dunia pada tahun 2010 ini memang akan melorot antara 15%-20%. AMIC juga memperkirakan produksi lada Indonesia turun 30% - 35%. Jika melihat proyeksi ini maka produksi lada hitam Indonesia hanya akan mencapai maksimal 59.154 ton. (*)

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas