Minggu, 23 November 2014
Tribun Pekanbaru
Home » Jiran

Banjir Air Mata di Arafah

Minggu, 6 November 2011 10:40 WIB

Banjir Air Mata di Arafah
 MEKKAH, TribunaPekanbaru.com - Sekitar 2,5 juta jemaah haji dari berbagai belahan dunia, Sabtu (5/11), menunaikan ibadah wukuf di Padang Arafah, Arab Saudi, sebagai rangkaian puncak ibadah haji.

Ibadah wukuf dimulai sejak tergelincirnya matahari pukul 12.00 di Padang Arafah atau pukul 16.00 WIB.

Satu jam sebelum waktu zuhur, sebanyak 220 ribu jemaah haji Indonesia berkumpul di maktabnya masing-masing untuk berdoa, berzikir, salat sunnah dan membaca kitab Al-Quran. Dari jumlah itu terdapat seratusan jamaah yang sakit, sehingga tidak bisa wukuf di Arafah. Mereka disafari-wukufkan atau diwakili.

Saat pelaksanaan wukuf, deraian air mata membasasi pipi jemaah. Sebab di saat wukuf, jemaah banyak melakukan istighfar, koreksi diri atas doa-doa yang diperbuat, baik dosa kecil dan besar.

Jemaah haji menyadari betapa kecilnya makna hidup dihadapan Allah. Dia-lah Yang Maha Kuasa, lagi Maha Pengampun dan Maha Memiliki Segala-Nya.

Pangkat dan jabatan yang dimiliki manusia di dunia ini, tidak berarti dan bukan untuk dibawa mati. Semua sujud dan berjalan di bawah terik panas matahari. Yang kaya, yang miskin, sama dihadapan Allah SWT dan yang membedakannnya adalah iman dan taqwa.

Linangan air mata seakan tidak putus, kalimat toyybah dan doa, mohon ampunan terus menggema. "Labbaikallahumma Labbaik, Labbaika La Syarika Laka Labbaik, Innal Hamd wannikmata laka walmulka la syarika lak. (Aku datang memenuhi panggilan-Mu Ya Allah, Aku datang memenuhi
panggilan-mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu, sesungguhnya segala puji, nikmat dan kekuasaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu."

Naib Amirul Haj KH Hasyim Muzadi, kepada jamaah haji Indonesia berpesan, Arafah merupakan tempat berkumpulnya jamaah calon haji sedunia.

Tempat ini bukan hanya sebagai lokasi puncak haji, tapi juga merupakan tempat persatuan umat muslim dengan menanggalkan segala status keduniaan.

"Arafah sebagai puncak pertaubatan kita. Jangan lupa kita harus minta ampun. Selebar-lebar dosa dan maksiat kita, masih lebih besar lagi kerahmatan Allah SWT," kata Hasyim saat menyampaikan khotbah wukuf di Arafah, Sabtu (5/11).

Hadir dalam khotbah yang diadakan di dalam tenda tersebut, Menteri Agama sekaligus Amirul Hajj, Suryadharma Ali, Ketua Komisi VII DPR Abdul Kadir Kading, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Bahrul Hayat, Duta Besar RI untuk Arab Saudi Gatot Abdullah Mansyur, serta sekitar 1.000 jamaah Indonesia.

Hasyim menuturkan, zikir di Arafah merupakan penyatuan hati dan untuk melakukan tobat atas kesalahan dan dosa yang selama ini diperbuat.

"Tobat pun tidak mudah, karena harus ada pengakuan. Tanpa penyesalan, maka pertaubatan tidak akan terwujud,," kata Hasyim yang juga mantan ketua umum PBNU.

Setelah pertaubatan, zikir dan ampunan, kata Hasyim, Allah akan memberikan "kacamata" kepada hambaNya untuk bisa melihat yang benar akan terlihat benar dan yang salah akan terlihat salah.

Kesalehan individu itu, kata Hasyim, harus menular menjadi kesalehan sosial. Jika ingin memakmurkan Indonesia menurut Hasyim, maka hal yang harus dilakukan adalah kesalehan sosial.

Sementara tu, dalam sambutan wukuf di Arafah, Suryadharma Ali mengajak segenap jemaah haji Indonesia untuk memanfaatkan kesempatan emas ini dengan memperbanyak ibadah dan berdoa kepada Allah SWT untuk meraih haji mabrur.(pk/ant/kpc)
Editor: zid

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas