Tribun Pekanbaru
Duh, Sulitnya Mencari Musala di Bandar Serai
Tribun Pekanbaru - Kamis, 22 Desember 2011 10:12 WIB
Share |
bandar_serai21.jpg
skyscrapercity.com
Bandar Serai MTQ Pekanbaru
Laporan: Galih

KEBERADAAN
tempat ibadah yang layak di suatu pusat keramaian seharusnya menjadi sebuah keharusan. Misalnya seperti di pusat perbelanjaan, rekreasi rekreasi, dan lainnya.
Namun keadaan ini tidak terjadi di Bandar Seni Raja Ali Haji, Jalan Jend Sudirman. Di kawasan bangunan nan megah ini, ternyata belum tersedia tempat beribadah yang memadai.
Seorang warga Jalan Pepaya, Muhammad Ihfan, yang ditemui Tribun mengeluhkan kelayakan musala di areal tersebut. Menurutnya, jika dibandingkan dengan kemegahan gedung-gedung di sekitarnya, sangatlah tidak sebanding.
Ihfan menceritakan, beberapa hari lalu ia berkunjung ke area Purna MTQ untuk bertemu seorang temannya. Ia tiba di sana sekitar pukul 17.00. Masuk waktu Maghrib, ia pun bergegas hendak melaksanakan salat. Bersama temannya, ia lantas menanyakan keberadaan musala di areal tersebut.
Seorang yang ditemui Ihfan mengatakan musala Bandar Serai ada di bagian belakang. Keduanya pun lantas mencari musala yang dimaksud. Sesampainya di Anjungan Bengkalis, Ihfan menemukan musala. Namun ia mengurungkan niatnya untuk salat di tempat itu. Pasalnya, ada sepasang muda-mudi yang tampaknya tengah memadu kasih tidak jauh dari tempat itu.
Setelah bertanya sekali lagi, akhirnya ia menemukan musala yang dicari. Namun ia merasa kaget dengan tempat yang disebut sebagai musala.
"Bentuknya kecil dan tidak mencirikan kalau itu adalah musala," ujarnya. Meskipun demikian, keduanya tetap melaksanakan salat di tempat tersebut.
Ihfan juga mengeluhkan lokasi musala yang terlalu berdekatan dengan kamar mandi. karena itulah, Ihfan melanjutkan, aroma tidak sedap kadang tercium ketika ia sedang beribadah.
"Saya heran. Mengapa di komplek yang megah seperti ini saya sulit menemukan tempat ibadah. Padahal di sini sering dilaksanakan acara yang besar dan menyedot banyak massa," imbuhnya.
Seorang pedagang yang tidak mau namanya disebutkan menceritakan, bangunan yang kini difungsikan sebagai musala, dulunya merupakan kantor dan mess pekerja pada saat Gedung Idrus Tintin dibangun. Ia menyebut, musala tersebut sebagai kreativitas para pekerja yang membutuhkan tempat ibadah.
Awalnya, hanya pekerja proyek saja yang salat di tempat tersebut. Namun lama-kelamaan banyak orang yang melaksanakan ibadah di tempat itu.
"Mungkin karena lokasinya dekat dengan kamar mandi umum juga. Sehingga semakin hari, semakin banyak orang yang mengetahuinya," ucap wanita berjilbab ini.
Ia menambahkan, sebenarnya banyak tempat yang dijadikan sebagai sarana ibadah di Bandar Serai. Hanya saja, keberadaannya bersatu dengan gedung-gedung. Sehingga tidak banyak orang yang mengetahuinya.
Sementara itu, seorang staf pengelola Bandar Serai, Azwan Razak menuturkan, sebenarnya sudah ada rencana pembangunan tempat ibadah di komplek tersebut. Namun hingga kini, paket pembangunan tempat ibadah belum juga terealisasikan.
Menurut Azwan, mengenai pembangunan di areal Bandar Serai merupakan hak Pemerintah Provinsi Riau. Sementara pihak yayasan sifatnya hanya mengelola apa yang sudah ada. (cr11)

Editor : zid

© 2010 Tribun pekanbaru. All Right Reserved | Redaksi | Contact Us | Info iklan