Rabu, 1 Juli 2015

Neni, Komisoner KPU Pekanbaru Menangis di Persidangan

Jumat, 20 Januari 2012 08:46

Neni, Komisoner KPU Pekanbaru Menangis di Persidangan
tribunpekanbaru/ema damayanti
Suasana sidang perkara gugatan pemecatan Yusri Munaf di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Pekanbaru

Faisal Muharrami Saragih mencecar Neni agar menceritakan perihal penambahan delapan pemilih di DPT Pemilukada Pekanbaru, 18 Mei 2011. "Kok Anda banyak nggak tahu. Bukankah Anda komisioner yang mengetuai Pokja Pemutakhiran Data," kata Faizal.

Neni menjelaskan, ia baru tahu informasi adanya pelanggaran kode etik yang dilakukan Yusri Munaf usai pemungutan suara 18 Mei digelar.

Neni mengaku hak suaranya sebagai komisioner sering dikebiri. Dirinya tidak mengetahui proses penambahan delapan pemilih di DPT, yang ternyata kader dari partai politik pengusung salah satu calon dalam Pemilukada Pekanbaru.
"Saya tidak tahu, karena informasi itu sengaja disembunyikan," kata dia.

Emosi Neni kian membuncah saat ia dikonfrontir dengan mantan bosnya di KPU Pekanbaru, Yusri Munaf.  Ia menyatakan keberatan saat itu dirinya dikatakan tidak pernah hadir. Lantaran saat itu sedang hamil tua.

"Saya keberatan kalau saya dikatakan tidak pernah hadir. Karena saya selalu mengirimkan pesan ke Bapak," ujar Neni.

Neni pun terlihat tersentak saat Yusri mempertanyakan bahwa penambahan delapan pemilih tersebut terjadi saat ia melahirkan.

Yusri Munaf diberhentikan secara tidak hormat oleh KPU Provinsi Riau tak lama setelah Mahkamah Kostitusi (MK) membatalkan hasil pemungutan suara 18 Mei. MK kemudian memerintahkan pemungutan suara ulang (PSU).
Salah satu kesalahan yang ditimpakan kepada Yusri Munaf adalah memerintahkan pembukaan 49 kotak suara.

Halaman12
Editor: Zul Indra
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas