A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Neni, Komisoner KPU Pekanbaru Menangis di Persidangan - Tribun Pekanbaru
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 3 September 2014
Tribun Pekanbaru

Neni, Komisoner KPU Pekanbaru Menangis di Persidangan

Jumat, 20 Januari 2012 08:46 WIB
Neni, Komisoner KPU Pekanbaru Menangis di Persidangan
tribunpekanbaru/ema damayanti
Suasana sidang perkara gugatan pemecatan Yusri Munaf di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Pekanbaru
TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU-Komisioner KPU Pekanbaru Neni Astuti terlihat kesal saat memberikan kesaksian dalam sidang perkara gugatan pemecatan Yusri Munaf di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Pekanbaru, Kamis (19/1). Dia bahkan sampai meneteskan air mata.
Ketika itu Neni terus didesak pengacara Yusri Munaf, yang tak terima dipecat secara tidak hormat dari jabatan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Pekanbaru.

Faisal Muharrami Saragih mencecar Neni agar menceritakan perihal penambahan delapan pemilih di DPT Pemilukada Pekanbaru, 18 Mei 2011. "Kok Anda banyak nggak tahu. Bukankah Anda komisioner yang mengetuai Pokja Pemutakhiran Data," kata Faizal.

Neni menjelaskan, ia baru tahu informasi adanya pelanggaran kode etik yang dilakukan Yusri Munaf usai pemungutan suara 18 Mei digelar.

Neni mengaku hak suaranya sebagai komisioner sering dikebiri. Dirinya tidak mengetahui proses penambahan delapan pemilih di DPT, yang ternyata kader dari partai politik pengusung salah satu calon dalam Pemilukada Pekanbaru.
"Saya tidak tahu, karena informasi itu sengaja disembunyikan," kata dia.

Emosi Neni kian membuncah saat ia dikonfrontir dengan mantan bosnya di KPU Pekanbaru, Yusri Munaf.  Ia menyatakan keberatan saat itu dirinya dikatakan tidak pernah hadir. Lantaran saat itu sedang hamil tua.

"Saya keberatan kalau saya dikatakan tidak pernah hadir. Karena saya selalu mengirimkan pesan ke Bapak," ujar Neni.

Neni pun terlihat tersentak saat Yusri mempertanyakan bahwa penambahan delapan pemilih tersebut terjadi saat ia melahirkan.

Yusri Munaf diberhentikan secara tidak hormat oleh KPU Provinsi Riau tak lama setelah Mahkamah Kostitusi (MK) membatalkan hasil pemungutan suara 18 Mei. MK kemudian memerintahkan pemungutan suara ulang (PSU).
Salah satu kesalahan yang ditimpakan kepada Yusri Munaf adalah memerintahkan pembukaan 49 kotak suara.

"Permasalahan logistik itu seharusnya tidak ada. Permasalahan muncul lantaran kotak suara sudah disegel," ujar Ketua KPU Pekanbaru Tengku Rafizal AR, yang kemudian turut memberikan kesaksian.

Namun saat  dikonfrontir dengan Yusri Munaf, ia mengakui tidak ada prosedur tetap terkait mekanisme pembukaan 49 kotak suara yang harus menghadirkan Panwaslukada. Sementara kotak suara tersebut belum bergeser dari  gudang tempat penyimpanan logistik KPU di Purna MTQ.

Rafizal mengatakan, ia tahu 49 kotak suara yang bermasalah dan harus dibuka dari staf sekretariat KPU, Azman. Pada saat itu Azman mengatakan kalau 49 kotak suara tersebut telah dibuka atas perintah Yusri Munaf. Namun ia tidak mengklarifikasi langsung hal tersebut ke Yusri Munaf.

Selain Neni dan Tengku Rafizal, sidang kemarin juga mendengarkan kesaksian Sekretaris KPU Pekanbaru Al Sayuti dan staf sekretariat KPU, Azman. (ema)
Editor: zid
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
17400 articles 9 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas