• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 22 Oktober 2014
Tribun Pekanbaru

Pohon Ramin Bekas Gergaji Ditemukan di Areal PT SRL

Minggu, 1 April 2012 11:03 WIB
Pohon Ramin Bekas Gergaji Ditemukan di Areal PT SRL
net
Ilustrasi
Laporan: Galih
TRIBUNPEKANBARU.COM, BENGKALIS
- Ditemukannya sejumlah pohon ramin dalam keadaan tumbang di kawasan hutan Desa Pergam, Rupat Selatan, Rabu (28/3/2012) cukup mengejutkan Tribun bersama Tim Eye on the Forest (EoF). Apalagi ada unsur kesengajaan menebangi pohon ramin, karena ada bekas gergaji di batang bagian bawah.  

Editor Eof, Afdhal Mahyuddin, menyatakan, titik ditemukannya kayu ramin di lokasi tersebut merupakan kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) PT Sumatera Riang Lestari (SRL). Menurutnya, SRL mempunyai areal HTI seluas 38.210 hektare di blok Pulau Rupat.

Penebangan terhadap pohon ramin di kawasan tersebut jelas merupakan sebuah pelanggaran. Pasalnya, ramin merupakan jenis spesies yang masuk kategori Apendix II. Kayu yang sudah mulai langka, dan harus dijaga kelestariannya.

Afdhal menjelaskan, meskipun perusahaan tidak menebang ramin, namun membiarkannya hidup sendiri, sama saja dengan membunuhnya secara perlahan. Buktinya, di kawasan tersebut ia menemukan ramin yang sama sekali tidak mempunyai daun.

Untuk menyelamatkan ramin, jalan satu-satunya adalah menyelamatkan habitatnya. Titik-titik ramin harus teridentifikasi dengan jelas. Kemudian pada titik-titik tumbuhnya ramin, dijadikan lahan konservasi.
Sejauh pengetahuannya, sebuah perusahaan HTI harus mempunyai areal untuk konservasi sebesar 20 persen dari luas lahan yang dimilikinya. "Namun akan lebih baik lagi kalau tidak ada lagi penebangan di hutan," tegasnya.

Melihat hasil temuan ini, Afdhal berharap pemerintah segera melakukan tindakan. Peraturan tentang perlindungan ramin harus ditegakkan. Tidak hanya menjadi peraturan semata. Menguatkan argumentasi, Afdhal juga membawa sampel kayu ramin yang telah roboh.

"Saya akan membawa ke laboratorium untuk menelitinya lebih lanjut," lanjutnya.

Dikatakan Afdhal, berhubung ia menemukan ada ramin yang ditebang di kawasan HTI perusahaan pulp dan paper, maka ia akan meneliti apakah ada kertas yang mengandung kayu ramin.

Senada dengan Afdhal, dosen luar biasa Fakultas Kehutanan Universitas Lancang Kuning, Ir. Jonotoro, MSi berpendapat lebih keras. Dihubungi Tribun, Jumat (30/3), ia mengatakan, membiarkan ramin hidup sendiri, sama saja dengan melakukan pembunuhan yang terencana.

Jonotoro menyatakan ada beberapa penyebab mengapa ramin tidak bisa hidup sendiri. Satu di antaranya adalah turunnya permukaan air di dalam tanah karena berubahnya kawasan hutan. Dampaknya akar pohon apapun akan kesulitan menjangkau air. Sehingga, suplai air yang dibutuhkan untuk menunjang kehidupannya tidak akan terpenuhi.

Sama dengan Afdhal, Jonotoro menegaskan, untuk menjaga kelestarian ramin, adalah dengan menjaga habitatnya. Seluruh kawasan yang mempunyai tanaman ramin tidak boleh ditebang.

"Ramin tumbuh di kawasan hutan gambut. Jadi, untuk melestarikannya, tentulah seluruh hutan alam di kawasan gambut jangan sampai ditebang," ujarnya.

Ia menambahkan, apabila ramin yang tidak ditebang oleh perusahaan adalah ramin yang berukuran besar, maka peraturan tentang perlindungan ramin menjadi rancu. Pasalnya, ia yakin  pasti ada ramin-ramin yang berukuran kecil atau bahkan baru saja tumbuh di sekitar ramin dewasa.

"Yang namanya dilindungi, dari ukuran paling kecil hingga ke ukuran yang paling besar," ujarnya. (www.tribunpekanbaru.com/gap)
Editor: harismanto
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
20404 articles 9 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas