Sabtu, 29 November 2014
Tribun Pekanbaru

Jadi Guru tak Sekedar Isi Waktu Luang

Rabu, 25 April 2012 08:38 WIB

Laporan: Hendra Efivanias

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU
- Psikolog, Rina menilai, saat ini banyak orang yang menjadi guru tanpa didasari niat sebagai pendidik. Bahkan, ada yang menjadi guru hanya karena tak ada pekerjaan lain. Padahal, sikap ini seharusnya tidak boleh terjadi. Karena pendidik, terutama guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) punya peran yang besar dalam perkembangan anak.

Hal ini disampaikan Rina ketika menjadi pembicara dalam Seminar Etika Profesi yang diadakan oleh Himpunan Pendidik Anak Usia Dini (Himpaudi) Pekanbaru, Selasa (24/4). Seminar itu sekaligus menjadi pembekalan terhadap pengurus Himpaudi Pekanbaru yang baru dilantik sebelumnya.

Dihadapan sekitar 800 peserta, ia menegaskan, bahwa profesi guru PAUD tidaklah gampang. Karena gurulah yang akan memberi warna pada kehidupan anak didiknya. Dengan kata lain, guru termasuk orang yang berperan mensukseskan baik tidaknya estafet generasi di negeri ini. Karena itulah seorang pendidik PAUD harus mampu menjadi guru yang baik.

Menurutnya, pekerjaan guru PAUD bukan sekedar melatih anak belajar membaca atau menulis. Tapi, guru PAUD harus mengutamakan melatih akhlak anak. Karena bagaimana pun juga, akhlak lebih penting dalam menentukan masa depan anak. Untuk itu, guru harus memiliki kopetensi. Yaitu dengan melakukan tindakan cerdas dan penuh tanggungjawab.

Sementara itu, artis yang juga praktisi kepribadian, Ratih Sanggarwati yang turut menjadi narasumber menegaskan bahwa penampilan guru perlu diperhatikan. Baik penampilan secara umum ketika mengajar maupun di luar jam mengajar.

Hal ini dianggap perlu karena kecenderungan guru lebih dipercaya anak daripada orangtuanya sendiri. " Guru itu adalah orang yang digugu dan ditiru," ungkap Ratih. Karena itulah guru harus mampu menampilkan sosok dirinya yang memberi kesan baik.

Menurutnya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika seseorang ingin menjadi sosok guru PAUD yang ideal. Diantaranya, seseorang itu harus tahu persis perannya sebagai guru. Jangan sampai profesinya sebagai pendidik sekedar untuk mengisi waktu luang.

"Guru harus paham apa peran pentingnya. Guru juga harus tahu, bahwa dibalik profesinya tersebut, ada 20 atau lebih orangtua yang menggantungkan harapannya pada guru untuk mewarnai kepribadian anak-anaknya," ungkap Ratih. Dia yakin, jika guru telah memahami esensi dari keberadaannya, tak akan ada lagi yang berani macam-macam.

Untuk menjadi guru ideal lainnya, seseorang juga harus bisa membuat anak asuhnya memiliki sikap cerdas dan kreatif. Baik secara akademis maupun sosial. "Itulah sebabnya kenapa seorang guru perlu banyak belajar, membaca dan mengisi diri. Sehingga dari pengetahuan yang ia raih, seorang guru bisa memacu kreativitasnya ketika mendidik anak," tutur Ratih.

Sementara itu, Ketua Himpaudi Kota Pekanbaru, Diah Masliah yang ditanyai Tribun menganggap seminar ini sebagai ajang pembekalan.

Baik bagi pengurus Himpaudi yang baru dilantik maupun kepada ratusan guru PAUD dan khalayak umum yang turut hadir. Menurutnya, selama ini guru PAUD sering mendapat pengetahuan tentang kurikulum. Sementara, untuk informasi terkait etika profesi termasuk jarang dilakukan.  Padahal, pengembangan nilai diri itu jauh lebih penting.

Diah berharap, lewat seminar ini para guru PAUD di Pekanbaru bisa mendapat pencerahan. Sehingga mereka lebih tahu lagi bagaimana cara praktis yang tepat dalam mengembangkan diri dan mencerdaskan anak didiknya. Sementara bagi pengurus Himpaudi, Diah berharap harus bisa menjadi model yang baik bagi guru-guru PAUD lainnya. (www.tribunpekanbaru.com/hes)
Penulis: Hendra Eifivanias
Editor: zid

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas