Kamis, 2 April 2015

Liswanti Hidupkan Budaya Gotong Royong di Simpang Baru

Minggu, 13 Mei 2012 11:19

"Risiko memimpin unit kelurahan selalu ada, tetap saja ada orang yang suka dan tidak terhadap saya. Tapi itu tak mengurungkan niat saya untuk menjalankan tugas sesuai prosedur," ulas lurah yang akrab di sapa Wati ini saat berbincang dengan Tribun.

Menurut wanita berjilbab ini, gangguan dalam menjalankan tugas selalu ada. Apalagi jabatan lurah bukanlah hal baru baginya. Mulai dari persoalan RW yang sulit diajak bekerjasama hingga persoalan sengketa tanah.

Awal karier perempuan kelahiran Tepi Selo, Lintau, 16 April 1963 sebagai lurah dimulai pada tahun 2011. Pada tahun itu dirinya dipercaya memimpin Kelurahan Kampung Melayu. Ia merasa sangat kaget ketika diberi amanat tersebut.

Maklum ia mendapat informasi mendapat amanah sebagai lurah, setengah jam sebelum pelantikan. "Waktu itu dilantik sebagai lurah dengan baju pinjaman di Kantor Wali Kota oleh wali kota saat itu, Herman Abdullah," ungkapnya.

Walau sempat kaget diberi amanah sebagai lurah, Wati yakin bisa menjalankan tugas dengan baik. Apalagi ia sudah memiliki pengalaman 15 tahun di beberapa kelurahan seperti di Tangkerang Tengah, Tangkerang Selatan dan Simpang baru.

Selama 10 bulan memimpin di Kelurahan  Kampung Melayu, Wati berupaya untuk terus mendekatkan diri dengan masyarakat. Targetnya, satu pekan bisa mengunjungi sekaligus mengenal secara dekat satu Rukun Warga (RW). Kini, 9 RW sudah rampung ia kunjungi dan ke depan kunjungan itu akan dilakukan secara rutin.

Tak hanya itu, ia pun berupaya mengaktifkan program Badan Kontak Majelis Taklim dan memberdayakan para kaum ibu lewat program PKK. Serta berupaya menggalakkan gotong royong rutin guna menciptakan lingkungan kelurahan yang bersih.

Halaman12
Editor: harismanto
KOMENTAR

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas