Mesum Berkedok Tempat Urut Marak di Pekanbaru

Berdasarkan penelusuran Tribun, ke sejumlah tempat urut, beberapa di antaranya ternyata menawarkan jasa mesum.

Mesum Berkedok Tempat Urut Marak di Pekanbaru
Tribun Pekanbaru/Budi Rahmat
Ilustrasi 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU  - Andri (32), kaget saat datang ke sebuah tempat urut (pijat) di kawasan Sukajadi, Kota Pekanbaru, Minggu (9/12).

Di tempat itu, ia ditawarkan jasa "esek-esek" oleh tukang pijit yang bekerja di sana. Awalnya, Andri bermaksud untuk mengurut tangannya yang keseleo setelah bermain badminton.

"Saat main badminton di Jalan Rajawali, tangan saya keseleo. Ketika hendak pulang, saya menyempatkan mampir ke tukang urut. Saya singgah karena terpasang plang nama berukuran cukup besar. Di sana tertulis, jasa urut terkilir," kata pria yang berdomisili di Jalan Delima, Panam tersebut.

Andri mengatakan, saat diurut, ia samasekali tak memiliki prasangka macam-macam. Hingga akhirnya, tukang urut perempuan berusia paruh baya itu, menawarkan jasa esek-esek.

"Saya kaget, dia menawarkan jasa seks dan meminta sejumlah uang," sebutnya.

Mendengar tawaran itu, Andri pun serta merta menolak. Dan langsung meninggalkan tempat itu.

"Jantung saya deg-degan. Saya tak menyangka, tempat urut itu rupanya menjadi lokasi mesum terselubung," sebutnya.

Jasa esek-esek dengan kedok tempat urut tersebut sebenarnya bertebaran di sejumlah titik di Kota Pekanbaru.

Berdasarkan penelusuran Tribun, ke sejumlah tempat urut berdasarkan iklan di sebuah media massa lokal, beberapa di antaranya ternyata menawarkan jasa mesum.

Lokasinya tersebar di Jalan Teuku Umar, Jalan Soekarno-Hatta, Jalan Durian, Jalan Tuanku Tambusai dan beberapa kawasan lain.

Modus yang digunakan tempat-tempat urut itu sama. Memasang plang jasa pemijitan karena keseleo hingga refleksi.

Temuan dari penelusuran Tribun, tak berbeda dengan apa yang dialami BB (inisial). Warga Jalan Kijang itu bercerita, ia seringkali ke tempat pijat untuk menyalurkan hasratnya.

"Biayanya murah. Dan yang terpenting aman," sebutnya.

Malahan, kata BB, di tempat-tempat urut itu, ia samasekali tak mendapat layanan pijat seperti yang terpampang lewat plang nama. "Ditawari mesum kemudian nego harga. Baru eksekusi. Tak ada urut," sebutnya.

Maraknya praktik mesum dengan modus tempat urut mengundang kritik dari anggota Komisi I DPRD Kota Pekanbaru Kamaruzzaman.

Ia mengingatkan Pemko untuk segera merealisasikan janji janjinya untuk melakukan penertiban.

"Kita mengharapkan agar Pemko segera melakukan penertiban, tentu akan melibatkan satker yang akan melakukan penertiban yakni satpol PP,"ujar Kamaruzzaman, kemarin.

Menurut Politisi partai Demokrat ini ada dua jenis panti pijat yang mesti diamankan dan ditertibkan Pemko tersebut yakni berstatus liar atau tanpa izin dan panti pijat yang meresahkan masyarakat sekitarnya karena dijadikan tempat prostitusi.

"Tidak tertutup kemungkinan juga bagi usaha yang memiliki Izin, kalau dia meresahkan masyarakat maka harus dilakukan penertiban, intinya kepada Pemko diharapkan melakukan peninjauan ulang terhadap lokasi dan izin praktek tersebut,"ujarnya.

Ia menambahkan, dengan adanya peninjauan ulang, keresahan masyarakat pun dapat diatasi. Selain itu, pendapatan daerah dari hasil pajak retribusi usaha tersebut juga dapat diperoleh.

"Intinya harus berkordinasi antar satker yang berwenang, baik itu Satpol PP, dan bagian perizinan pemko," ujar Kamaruzzaman.

Menanggapi maraknya fenomena praktik mesum berkedok tempat urut, Kepala Seksi Operasional  Satuan Polisi Pamong Praja Kota Pekanbaru. Iwan Simatupang tak bercerita banyak.

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: Zul Indra
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help