Senin, 22 Desember 2014
Tribun Pekanbaru

Mesum Berkedok Tempat Urut Marak di Pekanbaru

Senin, 10 Desember 2012 08:51 WIB

Mesum Berkedok Tempat Urut Marak di Pekanbaru
ilustrasi/net
TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU  - Andri Rahman (32), kaget saat datang ke sebuah tempat urut di kawasan Sukajadi, Kota Pekanbaru, Minggu (9/12). Di tempat itu, ia ditawarkan jasa "esek-esek" oleh tukang pijit yang bekerja di sana. Awalnya, Andri bermaksud untuk mengurut tangannya yang keseleo setelah bermain badminton.

"Saat main badminton di Jalan Rajawali, tangan saya keseleo. Ketika hendak pulang, saya menyempatkan mampir ke tukang urut. Saya singgah karena terpasang plang nama berukuran cukup besar. Di sana tertulis, jasa urut terkilir," kata pria yang berdomisili di Jalan Delima, Panam tersebut.

Andri mengatakan, saat diurut, ia samasekali tak memiliki prasangka macam-macam. Hingga akhirnya, tukang urut perempuan berusia paruh baya itu, menawarkan jasa esek-esek. "Saya kaget, dia menawarkan jasa seks dan meminta sejumlah uang," sebutnya.

Mendengar tawaran itu, Andri pun serta merta menolak. Dan langsung meninggalkan tempat itu. "Jantung saya deg-degan. Saya tak menyangka, tempat urut itu rupanya menjadi lokasi mesum terselubung," sebutnya.

Jasa esek-esek dengan kedok tempat urut tersebut sebenarnya bertebaran di sejumlah titik di Kota Pekanbaru. Berdasarkan penelusuran Tribun, ke sejumlah tempat urut berdasarkan iklan di sebuah media massa lokal, beberapa di antaranya ternyata menawarkan jasa mesum.

Lokasinya tersebar di Jalan Teuku Umar, Jalan Soekarno-Hatta, Jalan Durian, Jalan Tuanku Tambusai dan beberapa kawasan lain. Modus yang digunakan tempat-tempat urut itu sama. Memasang plang jasa pemijitan karena keseleo hingga refleksi.

Temuan dari penelusuran Tribun, tak berbeda dengan apa yang dialami BB (inisial). Warga Jalan Kijang itu bercerita, ia seringkali ke tempat pijit untuk menyalurkan hasratnya . "Biayanya murah. Dan yang terpenting aman," sebutnya.

Malahan, kata BB, di tempat-tempat urut itu, ia samasekali tak mendapat layanan pijit seperti yang terpampang lewat plang nama. "Ditawari mesum kemudian nego harga. Baru eksekusi. Tak ada urut," sebutnya.

Maraknya praktik mesum dengan modus tempat urut mengundang kritik dari anggota Komisi I DPRD Kota Pekanbaru Kamaruzzaman. Ia mengingatkan Pemko untuk segera merealisasikan janji janjinya untuk melakukan penertiban.
"Kita mengharapkan agar Pemko segera melakukan penertiban, tentu akan melibatkan satker yang akan melakukan penertiban yakni satpol PP,"ujar Kamaruzzaman, kemarin.

Menurut Politisi partai Demokrat ini ada dua jenis panti pijat yang mesti diamankan dan ditertibkan Pemko tersebut yakni berstatus liar atau tanpa izin dan panti pijat yang meresahkan masyarakat sekitarnya karena dijadikan tempat prostitusi.

"Tidak tertutup kemungkinan juga bagi usaha yang memiliki Izin, kalau dia meresahkan masyarakat maka harus dilakukan penertiban, intinya kepada Pemko diharapkan melakukan peninjauan ulang terhadap lokasi dan izin praktek tersebut,"ujarnya.

Ia menambahkan, dengan adanya peninjauan ulang, keresahan masyarakat pun dapat diatasi. Selain itu, pendapatan daerah dari hasil pajak retribusi usaha tersebut juga dapat diperoleh.

"Intinya harus berkordinasi antar satker yang berwenang, baik itu Satpol PP, dan bagian perizinan pemko,"ujar Kamaruzzaman.
 
Menanggapi maraknya fenomena praktik mesum berkedok tempat urut, Kepala Seksi Operasional  Satuan Polisi Pamong Praja Kota Pekanbaru. Iwan Simatupang tak bercerita banyak. Ia hanya mengatakan, pihaknya baru akan melakukan penertiban bila ada instruksi dari Walikota Pekanbaru.  "Kita bekerja sesuai dengan instruksi. Kalau disuruh menertibkan, maka akan kita tertibkan," sebutnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Pekanbaru, Ayat Cahyadi menyebutkan, pihaknya samasekali tidak pernah mengeluarkan izin tempat maksiat. "Kalau pun tempat urut yang memiliki izin melakukan praktik mesum tentunya sudah menyalahi perizinan. Dan ini harus ditertibkan," sebutnya.

Ia juga menyebutkan, akan menginstruksikan Satuan Polisi Pamong Praja untuk segera melakukan penertiban terhadap tempat-tempat pijit yang diduga menjadi tempat mesum tersebut. "Tak sekadar melakukan penertiban. Satpol PP juga harus intensif melakukan pengawasan. Sebab, hal ini sudah menyangkut kenyamanan masyarakat banyak," tegasnya.

Sosiolog Universitas Riau, Risdayati menilai, maraknya tempat urut yang menawarkan jasa esek-esek itu dikarenakan bermacam faktor. Satu di antaranya adalah untuk menambah nilai jual bisnis terselubung tersebut.
Dikatakannya, semakin terselubungnya suatu tempat seperti itu, maka nilai jualnya akan semakin bertambah. Sebaliknya, apabila tempat esek esek dibuat vulgar, maka yang akan terjadi adalah nilai jual dari bisnis tersebut tidak terlampau tinggi.

Selain itu, apabila tempat semacam itu dibuat vulgar, kemungkinan para lelaki hidung belang akan berpikir ulang untuk masuk ke tempat tersebut. Pasalnya, calon pelanggan akan merasa malu medatangi tempat semacam itu.

"Lelaki hidung belang tidak akan merasa sungkan apabila datang. Karena bisa saja dia beralasan untuk pijat," jelasnya.

Di sisi lain, kemudahan untuk memperoleh uang dengan cara mudah dan cepat juga menjadi faktor penentu lainnya. Diakui ataupun tidak, kata Risda, bisnis esek esek sangatlah menjanjikan secara finansial.

Risda mengaku miris dengan banyaknya tempat esek esek berbalut tempat urut. Pasalnya, di tempat semacam itu akan sangat rawan terjadinya ekploitasi. Si perempuan hanya dimanfaatkan oleh pemilik modal.

"Panti pijit yang benar benar melakukan praktik pijit juga akan dirugikan karena keberadaan tempat semacam itu," imbuh Risda.

Untuk menekan semakin menjamurnya panti pijit plus plus, menurut Risda, harus ada kemauan semua lapisan masyarakat untuk memberangus praktik tersebut. Demikian juga dengan pemerintah dan seluruh jajarannya.
Tindakan tegas yang dilakukan secara berkala dan konsisten sedikit banyak pasti akan berpengaruh terhadap pertumbuhan tempat semacam itu. "Jangan sampai ada aparat yang justru malah memanfaatkan itu untuk kepentingan pribadinya," ujarnya. (*)
Penulis: Galih
Editor: zid

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas