• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 31 Oktober 2014
Tribun Pekanbaru

10 Balita Gizi Buruk Di Negeri Kaya

Selasa, 22 Januari 2013 10:55 WIB
10 Balita Gizi Buruk Di Negeri Kaya
tribunpekanbaru/galih
Dani, balita penderita gizi buruk saat dirawat di RSUD Arifin Ahmad
TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU-Kasus temuan gizi buruk Balita di Negeri Kaya  Kota Pekanbaru masih tinggi dan tidak mengalami angka penurunan. Data dinas Kesehatan Kota Pekanbaru melaporkan selama tahun 2012, setidaknya 10 balita mengalami gizi buruk. Angka ini mengalami peningkatan drastis dua kali lipat jika dibandingkan setahun sebelumnya (2011) dimana terdapat lima kasus gizi buruk.

Penyebaran balita yang mengalami gizi buruk tersebut hampir menyebar di seluruh Kota Pekanbaru, terutama berada di pinggiran kota.

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Keluarga Diskes Kota Pekanbaru, dr Isnaeni Anas mengatakan, kasus gizi buruk yang terjadi di Kota Pekanbaru umumnya karena penyakit penyerta atau juga bawaan lahir.

"Banyak faktor yang mempengaruhinya (gizi buruk), penyakit yang mendasari atau penyakit penyerta serta ekonomi. Umumnya di Pekanbaru karena penyakit penyerta bukan karena faktor ekonomi atau kurang asupan gizi," ujar Isnaeni Anas kepada wartawan Senin (21/1) kemarin.

Diskes Kota Pekanbaru sendiri dalam penanganan kasus gizi buruk memberikan bantuan berupa rekomendasi dalam hal merujuk ke rumah sakit. Sehingga korban gizi buruk yang ada di Pekanbaru dapat segera mendapatkan perawatan di Rumah Sakit.

Selain merekomendasikan balita gizi buruk tersebut ke rumah sakit, diskes Pekanbaru dalam hal antisipasi balita gizi buruk melakukan beberapa program pemberian asupan makanan tambahan.

"Pemberian makanan tambahan untuk balita dilakukan dalam program posyandu. Minimal program pemberian makanan tambahan di posyandu tersebut dilaksanakan sebulan sekali, jadi setiap satu posyandu untuk 100 balita. Jika balita di satu RW mencapai 200 balita maka harus ada dua posyandu," terangnya.

Menurut Isnaeni, sebagian besar kasus gizi buruk karena perilaku masyarakat, seperti keluarga yang mengkesampingkan pola makan dan pola asuh bayi sesuai pertumbuhannya.

"Kemiskinan memang ada, teapi tidak mutlak karena kemiskinan. Pengetahuan keluarga terhadap asupan makanan bergizi yang kurang pun jadi penyebabnya," terang dia.

Ditemukan kasus gizi buruk beberapa keluarga seringkali karena lebih mementingkan hal lainya, ketimbang asupan susu dan sumber makanan bergizi bagi buah hatinya.

"Itulah sebabnya terus kita lakukan sosialisasi melalui kader-kader di tingkat RW dan Kelurahan, karena kebanyakan yang menderita gizi buruk ini merupakan warga kita pendatang,"ujar Iznaeni. (*)
Penulis: Nasyuha
Editor: zid
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas