A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Sisa-sisa Pembalakan Berserakan di Muara Sungai Serkap - Tribun Pekanbaru
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 24 April 2014
Tribun Pekanbaru

Sisa-sisa Pembalakan Berserakan di Muara Sungai Serkap

Senin, 4 Februari 2013 22:16 WIB
Sisa-sisa Pembalakan Berserakan di Muara Sungai Serkap
FAKHRURRODZI /TRIBUNPEKANBARU.COM
Kayu-kayu berdiameter di atas 40 sentimeter berserakan di muara Sungai Serkap, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Sabtu (2/2). Kayu-kayu bekas pembalakan liar puluhan tahun silam masih banyak ditemukan di sungai ini, bahkan timbul di permukaan sungai.
Dari tahun ke tahun, jumlah nelayan tradisional semakin berkurang mencari ikan di Sungai Serkap, Semenanjung Kampar. Dampaknya, pendapatan mereka jauh dari harapan sebelumnya. Selain itu, para nelayan sulit mendapatkan ikan selais, bahan baku ikan salai akibat rusaknya hutan di bagian hulu sungai tersebut.
 

Pong... Pong.... Pong. Bunyi dua perahu bermesin Dongfeng ukuran 16 dan 20 memecah kesunyian Sungai Serkap, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan. Burung-burung berhamburan terbang saat dua perahu melawan arus menuju hulu dari muara Sungai Serkap.

Juru mudi pompong, sebutan masyarakat lokal untuk perahu motor, acap kali harus memindahkan tuas pengendali kemudi dari kanan ke kiri. Kalau tidak cekatan, pompong pasti menabrak batang-batang kayu berdiameter paling kecil 20 sentimeter yang berserakan serta menyembul dari dalam sungai.

Tidak hanya itu, pemandangan batang pohon berserakan lengkap dengan akar tercabut tersebut, ikut menghiasi bagian muara Sungai Serkap. Sungai ini merupakan sungai rawa gambut bermuara di Sungai Kampar, Teluk Meranti. Jika di hilir air sungai berwarna jernih kecoklatan, maka di bagian hulu berwarna coklat kehitam-hitaman. Itulah tanda sungai ini sungai rawa gambut.

"Kayu-kayu iko (ini) hasil tobang (tebang) beberapa tahun lalu di bagian hulu. Selain itu, tabawok (terbawa) arus ombak bono Sungai Kampar hinggo ka siko (ke sini)," cerita Abdul Hamid, juru mudi, sambil menujuk ke arah batang pohon lengkap dengan akarnya ikut terbawa arus, Sabtu (2/2).

Hamid menceritakan, sekitar tahun 2006, terakhir kali ia melihat penebangan dilakukan oleh perusahaan maupun warga secara liar. Bahkan, beberapa nelayan yang kini menggantungkan hidup dari Sungai Serkap, juga pernah ikut kegiatan penebangan kayu tersebut. Namun, akhirnya mereka kembali ke pekerjaan semula, menangkap ikan selais dan baung untuk dijadikan ikan salai.

Mata Hamid menatap tajam ke depan, tangan kanannya memindahkan tuas mudi dari kiri ke kanan. "Lihat, itu pohon kempas. Di bagian muaro ini banyak kayu aro, arang-arang. Kayu-kayu itulah yang tinggal kini. Ndak ditobang (tidak ditebang) perusahaan dan sawmill," kata laki-laki berusia 50 tahun ini.

Pohon kempas ditunjuk Hamid, sungguh tinggi sekali. Dari pompong, jika ingin melihatnya terpaksa kepala mendongak ke atas. Diperkirakan tingginya sekitar 20-30 meter dengan diameter 40-75 meter. Namun, tak jarang juga, pohon kempas di pinggir sungai masih kecil diameternya dan tingginya hanya 10 meter saja.

Asyik melihat pohon kempas yang tinggi menjulang, seperti bangunan gedung di Jakarta, tiba-tiba Hamid menunjuk ke sebuah jembatan. "Iko (ini) jembatan dulunyo (dulunya) dipakai perusahaan bawok (bawa) kayu. Truk-truk balak lalu-lalang angkuik (angkut) kayu hutan siko (sini)," kata Hamid dengan logat bahasa daerah setempat.

Jembatan tersebut terbuat dari semen dan baja. Namun, kayu-kayu berukuran minimal 50 sentemeter disusun rapi menopang pondasi semen dan tiang baja jembatan. Lebarnya sekitar 5 meter dengan panjang 10 meter lebih.

Di perahu lainnya, dikemudikan Simin, berada di bagian depan perahu kami tumpangi, tiba-tiba  melihat dua ekor buaya rawa panjangnya sekitar 3 meter sedang mengintai kawanan monyet yang sedang bermain di tepi sungai. Sayangnya, deru mesin Dongfeng perahu pompong membuat hewan-hewan itu kabur.

Perjalanan menuju hulu Sungai Serkap semakin menantang. Kalau di bagian muara banyak kayu-kayu hasil penebangan liar dan terbawa arus ombak bono, maka di bagian tengah, juru mudi harus mengalahkan batang rasau yang menjulur hingga bagian tengah.

Dari 10 meter lebar sungai, nyaris menyisakan 4-5 meter. Bahkan ada hingga 1 meter, sangat pas dengan lebar pompong. Rasau ini akan menyatu dengan bakung, di bagian hulu, menutupi sungai.
Penulis: Rodzi
Editor: zulham
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
95173 articles 9 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
© 2014 TRIBUNnews.com All Right Reserved About Us Privacy Policy Help Terms of Use Redaksi Info iklan Contact Us Lowongan
Atas