Jumat, 31 Juli 2015

Sisa-sisa Pembalakan Berserakan di Muara Sungai Serkap

Senin, 4 Februari 2013 22:16

Sisa-sisa Pembalakan Berserakan di Muara Sungai Serkap
FAKHRURRODZI /TRIBUNPEKANBARU.COM
Kayu-kayu berdiameter di atas 40 sentimeter berserakan di muara Sungai Serkap, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Sabtu (2/2). Kayu-kayu bekas pembalakan liar puluhan tahun silam masih banyak ditemukan di sungai ini, bahkan timbul di permukaan sungai.


Pong... Pong.... Pong. Bunyi dua perahu bermesin Dongfeng ukuran 16 dan 20 memecah kesunyian Sungai Serkap, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan. Burung-burung berhamburan terbang saat dua perahu melawan arus menuju hulu dari muara Sungai Serkap.

Juru mudi pompong, sebutan masyarakat lokal untuk perahu motor, acap kali harus memindahkan tuas pengendali kemudi dari kanan ke kiri. Kalau tidak cekatan, pompong pasti menabrak batang-batang kayu berdiameter paling kecil 20 sentimeter yang berserakan serta menyembul dari dalam sungai.

Tidak hanya itu, pemandangan batang pohon berserakan lengkap dengan akar tercabut tersebut, ikut menghiasi bagian muara Sungai Serkap. Sungai ini merupakan sungai rawa gambut bermuara di Sungai Kampar, Teluk Meranti. Jika di hilir air sungai berwarna jernih kecoklatan, maka di bagian hulu berwarna coklat kehitam-hitaman. Itulah tanda sungai ini sungai rawa gambut.

"Kayu-kayu iko (ini) hasil tobang (tebang) beberapa tahun lalu di bagian hulu. Selain itu, tabawok (terbawa) arus ombak bono Sungai Kampar hinggo ka siko (ke sini)," cerita Abdul Hamid, juru mudi, sambil menujuk ke arah batang pohon lengkap dengan akarnya ikut terbawa arus, Sabtu (2/2).

Hamid menceritakan, sekitar tahun 2006, terakhir kali ia melihat penebangan dilakukan oleh perusahaan maupun warga secara liar. Bahkan, beberapa nelayan yang kini menggantungkan hidup dari Sungai Serkap, juga pernah ikut kegiatan penebangan kayu tersebut. Namun, akhirnya mereka kembali ke pekerjaan semula, menangkap ikan selais dan baung untuk dijadikan ikan salai.

Mata Hamid menatap tajam ke depan, tangan kanannya memindahkan tuas mudi dari kiri ke kanan. "Lihat, itu pohon kempas. Di bagian muaro ini banyak kayu aro, arang-arang. Kayu-kayu itulah yang tinggal kini. Ndak ditobang (tidak ditebang) perusahaan dan sawmill," kata laki-laki berusia 50 tahun ini.

Pohon kempas ditunjuk Hamid, sungguh tinggi sekali. Dari pompong, jika ingin melihatnya terpaksa kepala mendongak ke atas. Diperkirakan tingginya sekitar 20-30 meter dengan diameter 40-75 meter. Namun, tak jarang juga, pohon kempas di pinggir sungai masih kecil diameternya dan tingginya hanya 10 meter saja.

Halaman12
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas