Sabtu, 1 Agustus 2015

Problematika Pendidikan di MDTA

Kamis, 21 Februari 2013 09:35

Pengalaman penulis yang telah mengajar di MDTA sejak tahun 2003 hingga saat ini menjadi bukti nyata akan justifikasi apa yang akan penulis paparkan dalam tulisan ini. Ironisnya lagi, masih banyak yang memandang sebelah mata terhadap keberadaan MDTA.

Seorang pemuka warga, M Arifin kepada saya menyampaikan, titik kelemahan madrasah pada umumnya terletak pada tenaga pengelolanya, karena mereka kurang berorientasi pada profesionalisme.

Hal ini tidak dapat disalahkan sepenuhnya pada pengelola maupun majelis guru yang mengajar, karena biasanya MDTA hanya dianggap sebagai
“pelengkap” dan tenaga yang dipakai untuk mengajar hanya “tenaga sisa” dari tempat lain.

Secara garis besar, problematika pendidikan di MDTA dapat dibedakan menjadi dua yaitu faktor Internal dan faktor Eksternal. Internal meliputi birokrasi dan administrasi MDTA termasuk di dalamnya tenaga pelaksana yang terdiri dari pengelola, kepala sekolah dan para guru. Sedangkan eksternal berasal dari luar lembaga pendidikan tersebut.

Faktor internal saya mulai dari pengelola. Praktik manajemen di madrasah seringkali menggunakan model manajemen tradisional, yaitu model manajemen paternalistik dan feodalistik.

Dominasi senioritas jelas mengganggu perkembangan dan peningkatan kualitas pendidikan. Munculnya kreatifitas dan inovasi dari kalangan muda terkadang dipahami sebagai sikap yang tidak menghargai senior. Kondisi ini mengarah pada penilaian negatif, sehingga memunculkan kesan bahwa meluruskan atau mengoreksi kekeliruan langkah senior dianggap sebagai sikap
su’ al-adab (tabiat jelek).

Meski dalam beberapa kesempatan, masih banyak pengelola yang mau menerima dan menghargai pendapat kepala sekolah dan majelis gurunya.

Halaman1234
Editor: Zul Indra
KOMENTAR
berita POPULER
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas