Problematika Pendidikan di MDTA

Diskriminasi terhadap pendidikan di Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) sesuatu hal yang nyata adanya

Pengalaman penulis yang telah mengajar di MDTA sejak tahun 2003 hingga saat ini menjadi bukti nyata akan justifikasi apa yang akan penulis paparkan dalam tulisan ini. Ironisnya lagi, masih banyak yang memandang sebelah mata terhadap keberadaan MDTA.

Seorang pemuka warga, M Arifin kepada saya menyampaikan, titik kelemahan madrasah pada umumnya terletak pada tenaga pengelolanya, karena mereka kurang berorientasi pada profesionalisme.

Hal ini tidak dapat disalahkan sepenuhnya pada pengelola maupun majelis guru yang mengajar, karena biasanya MDTA hanya dianggap sebagai
“pelengkap” dan tenaga yang dipakai untuk mengajar hanya “tenaga sisa” dari tempat lain.

Secara garis besar, problematika pendidikan di MDTA dapat dibedakan menjadi dua yaitu faktor Internal dan faktor Eksternal. Internal meliputi birokrasi dan administrasi MDTA termasuk di dalamnya tenaga pelaksana yang terdiri dari pengelola, kepala sekolah dan para guru. Sedangkan eksternal berasal dari luar lembaga pendidikan tersebut.

Faktor internal saya mulai dari pengelola. Praktik manajemen di madrasah seringkali menggunakan model manajemen tradisional, yaitu model manajemen paternalistik dan feodalistik.

Dominasi senioritas jelas mengganggu perkembangan dan peningkatan kualitas pendidikan. Munculnya kreatifitas dan inovasi dari kalangan muda terkadang dipahami sebagai sikap yang tidak menghargai senior. Kondisi ini mengarah pada penilaian negatif, sehingga memunculkan kesan bahwa meluruskan atau mengoreksi kekeliruan langkah senior dianggap sebagai sikap
su’ al-adab (tabiat jelek).

Meski dalam beberapa kesempatan, masih banyak pengelola yang mau menerima dan menghargai pendapat kepala sekolah dan majelis gurunya.

Selanjutnya, faktor tenaga pendidik. Sejauh pantauan saya, mayoritas tenaga pendidik di MDTA adalah tamatan Pondok Pesantren atau tamatan Madrasah Aliyah (MA) sederajat. Hal ini tentunya sangat berpengaruh terhadap gaya dan model pendidikan yang digunakan. Model dan gaya pendidikan modern idealnya harus dikuasai oleh para pendidikan. Sebagai contoh, perubahan model pendidikan dari Teacher’s center menuju Studen’s center hari ini, harus dipahami oleh tenaga pendidik.

Dahulu asumsi yang mengajarkan bahwa anak yang harus mengikuti seluruh instruksi guru, maka model pendidikan hari ini memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada anak untuk mengembangkan inovasi dan kreativitasnya. Hal inilah yang dinamakan pendidikan “PAIKEM” (Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Edukatif dan Menyenangkan).

Kalau dahulu pendidikan dengan system Rotaniah, dalam arti setiap kesalahan yang dilakukan seorang murid langsung dipukul dengan kayu atau rotan oleh gurunya. Sekarang hal itu tidak dibenarkan lagi karena bertentangan dengan Hak azazi manusia dalam hal ini KOMNAS perlindungan anak, bisa-bisa malahan sang guru yang akan dilaporkan oleh murid ke polisi, akhirnya masuk penjara.

Halaman
123
Ikuti kami di
Editor: Zul Indra
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help