Senin, 24 November 2014
Tribun Pekanbaru

Air Sungai di Pekanbaru Bahaya Jika Disentuh

Rabu, 20 Maret 2013 08:26 WIB

Air Sungai di Pekanbaru Bahaya Jika Disentuh
tribunpekanbaru/Sesri
Warga Sungai Siak
TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU- Escherichia coli, atau biasa disingkat E. coli, adalah salah satu jenis spesies utama bakteri gram negatif didalam kandungan air, biasanya bakteri ini timbul akibat kualitas air yang sangat rendah, bisa saja karena sampah dan kotoran lainnya termasuk kotoran manusia sendiri. Standar baku mutu hanya 1000 permililiter air.

 Namun saat ini yang sangat mengkhawatirkan sungai di Pekanbaru sudah mencapai 270.000 kandungan ecoli pada satu mililiter, itu menandakan air di Pekanbaru sudah tidak boleh disentuh oleh manusia lagi.

Terutama beberapa sungai yang sangat mengkhawatirkan di Pekanbaru yakni Sungai Siak, sungai sail dan Sungai Batak, serta sejumlah sungai kecil lainnya.

Demikian disampaikan Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (Fordas) Riau Makruf Maryadi Siregar kepada Tribun. hasil tersebut merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh jajaran pecinta lingkungan Fordas di Pekanbaru.

"Kandungan ecoli sudah sekitar 270 ribu permililiter air. Itu menandakan kondisi air di Pekanbaru itu sudah sangat membahayakan bagi masyarakat, karena standar  Baku mutu hanya 1000 permililiter,"ujar Makruf Maryadi Siregar.

Penelitian terakhir yang dilakukan kalangan akademisi dan bekerjasama dengan Fordas beberapa waktu lalu, sejumlah jajanan makanan yang radius 15 hingga 20 meter dari Sungai itu juga sudah tercemar oleh ecoli. Hal ini disebabkan sejumlah masyarakat yang masih menggunakan air tersebut untuk mencuci piring seperti di pinggiran sungai Siak.

"Jangan kan megangnya, kalau jajan dipinggir sungai itu, ecolinya itu sudah ada di piring kita, terakhir penelitian kita terhadap serbetnya juga sudah ditemukan bakteri Ecoli, ini menandakan bahaya itu sudah mengancam keselamatan kita,"ujar Makruf.

Sehingga bahaya yang ditimbulkan akibat bakteri ecoli ini bisa menyerang kulit manusia dan pencernaan atau diare. Sehingga selama ini masyarakat yang masih bergantung di Sungai Siak dan sejumlah Sungai lainnya di Pekanbaru seringkali terserang diare.

"Penelitian kita terakhir juga bersama Dinas Kesehatan, jika penderita penyakit kulit dan diare terbesar itu berada di daerah pinggiran sungai di Pekanbaru,"ujar Dosen perikanan Universitas Riau ini.

Penyebab utama terjadinya peningkatan ecoli pada air ini menurut Makruf tidak lain dan tidak bukan karena kurangnya kesadaran masyarakat itu sendiri akan pola hidup bersih. Sampah domestik yang selama ini tetap diistirahatkan di aliran sungai tersebut.

"Sangat susah mengubah pola pikir masyarakat kita itu, karena sudah kebiasaan mungkin ya dari dulu taunya pembuangan sampah itu sungai,"ujarnya.

Selain itu, Makruf menambahkan juga, penyebab terparah juga disebabkan banyaknya kebocoran septi tank, (pembuangan kotoran manusia), malah sebagian ada juga warga yang sengaja mebuang langsung ke Sungai karena tidak memiliki septi tank itu.

"Pengendalian sampah domestik, dan pengendalian septi tank yang diatur dalam perda sudah saatnya dibuat demi menyelamatkan kehidupan anak cucu kita nantinya,"ujar Makruf.

Makruf menambahkan, untuk ukuran kota besar seperti Pekanbaru sudah saatnya membangunan sapti tank komunal, maksudnya misalnya 20 rumah hanya miliki satu septi tank. Ini bertujuan untuk menghindari kebocoran dan menjaga kualitas air,"ujarnya.

Selain di Sungai, Makruf juga mengatakan jika sumur-sumur warga di Pekanbaru juga sudah banyak ditemukan ecoli, ini disebabkan dari bocornya septi tank dan sebagainya.

"Namun kadar Ecolinya belum setinggi kandungan didalam air sungai, tapi bisa jadi kalau semakin lama kualitas airnya semakin rendah,"tuturnya.(*)
Penulis: Nasyuha
Editor: zid

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas