Air Sungai di Pekanbaru Bahaya Jika Disentuh
Tribun Pekanbaru - Rabu, 20 Maret 2013 08:26 WIB
tribunpekanbaru/Sesri
Warga Sungai Siak
TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU- Escherichia coli, atau biasa disingkat E. coli, adalah salah satu jenis
spesies utama bakteri gram negatif didalam kandungan air, biasanya
bakteri ini timbul akibat kualitas air yang sangat rendah, bisa saja
karena sampah dan kotoran lainnya termasuk kotoran manusia sendiri.
Standar baku mutu hanya 1000 permililiter air.
Namun saat ini yang
sangat mengkhawatirkan sungai di Pekanbaru sudah mencapai 270.000
kandungan ecoli pada satu mililiter, itu menandakan air di Pekanbaru
sudah tidak boleh disentuh oleh manusia lagi.
Terutama beberapa
sungai yang sangat mengkhawatirkan di Pekanbaru yakni Sungai Siak,
sungai sail dan Sungai Batak, serta sejumlah sungai kecil lainnya.
Demikian
disampaikan Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (Fordas) Riau Makruf
Maryadi Siregar kepada Tribun. hasil tersebut merupakan hasil penelitian
yang dilakukan oleh jajaran pecinta lingkungan Fordas di Pekanbaru.
"Kandungan
ecoli sudah sekitar 270 ribu permililiter air. Itu menandakan kondisi
air di Pekanbaru itu sudah sangat membahayakan bagi masyarakat, karena
standar Baku mutu hanya 1000 permililiter,"ujar Makruf Maryadi Siregar.
Penelitian
terakhir yang dilakukan kalangan akademisi dan bekerjasama dengan
Fordas beberapa waktu lalu, sejumlah jajanan makanan yang radius 15
hingga 20 meter dari Sungai itu juga sudah tercemar oleh ecoli. Hal ini
disebabkan sejumlah masyarakat yang masih menggunakan air tersebut untuk
mencuci piring seperti di pinggiran sungai Siak.
"Jangan kan
megangnya, kalau jajan dipinggir sungai itu, ecolinya itu sudah ada di
piring kita, terakhir penelitian kita terhadap serbetnya juga sudah
ditemukan bakteri Ecoli, ini menandakan bahaya itu sudah mengancam
keselamatan kita,"ujar Makruf.
Sehingga bahaya yang ditimbulkan
akibat bakteri ecoli ini bisa menyerang kulit manusia dan pencernaan
atau diare. Sehingga selama ini masyarakat yang masih bergantung di
Sungai Siak dan sejumlah Sungai lainnya di Pekanbaru seringkali
terserang diare.
"Penelitian kita terakhir juga bersama Dinas
Kesehatan, jika penderita penyakit kulit dan diare terbesar itu berada
di daerah pinggiran sungai di Pekanbaru,"ujar Dosen perikanan
Universitas Riau ini.
Penyebab utama terjadinya peningkatan ecoli
pada air ini menurut Makruf tidak lain dan tidak bukan karena kurangnya
kesadaran masyarakat itu sendiri akan pola hidup bersih. Sampah
domestik yang selama ini tetap diistirahatkan di aliran sungai tersebut.
"Sangat
susah mengubah pola pikir masyarakat kita itu, karena sudah kebiasaan
mungkin ya dari dulu taunya pembuangan sampah itu sungai,"ujarnya.
Selain
itu, Makruf menambahkan juga, penyebab terparah juga disebabkan
banyaknya kebocoran septi tank, (pembuangan kotoran manusia), malah
sebagian ada juga warga yang sengaja mebuang langsung ke Sungai karena
tidak memiliki septi tank itu.
"Pengendalian sampah domestik, dan
pengendalian septi tank yang diatur dalam perda sudah saatnya dibuat
demi menyelamatkan kehidupan anak cucu kita nantinya,"ujar Makruf.
Makruf
menambahkan, untuk ukuran kota besar seperti Pekanbaru sudah saatnya
membangunan sapti tank komunal, maksudnya misalnya 20 rumah hanya miliki
satu septi tank. Ini bertujuan untuk menghindari kebocoran dan menjaga
kualitas air,"ujarnya.
Selain di Sungai, Makruf juga mengatakan
jika sumur-sumur warga di Pekanbaru juga sudah banyak ditemukan ecoli,
ini disebabkan dari bocornya septi tank dan sebagainya.
"Namun
kadar Ecolinya belum setinggi kandungan didalam air sungai, tapi bisa
jadi kalau semakin lama kualitas airnya semakin rendah,"tuturnya.(*)
Penulis : Nasyuha
Editor : zid