Rabu, 5 Agustus 2015

Dilema Dosen Perguruan Tinggi Swasta

Senin, 29 April 2013 10:00

Dilema Dosen Perguruan Tinggi Swasta
net
STIE Pelita Indonesia Pekanbaru

PERANAN dosen pada sebuah perguruan tinggi sangatlah penting. Dosen yang profesional merupakan tuntutan yang tidak bisa ditawar dalam proses perkuliahan di perguruan tinggi. Dosen yang profesional akan menghasilkan mahasiswa yang berkualitas. Dosen yang profesional harus mempunyai kompetensi dan kualifikasi yang mumpuni.

Dosen yang kompeten adalah dosen yang memiliki kompetensi paedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial. Artinya, dosen harus mempunyai kemampuan di atas rata-rata di bidang yang digelutinya. Untuk bisa mempunyai kemampuan di atas rata-rata tersebut, dosen diwajibkan untuk melaksanakan Tridharma perguruan tinggi. Dosen harus mampu secara akademik serta mampu melakukan transfer informasi kepada mahasiswanya. Untuk itu dosen harus memahami metode pembelajaran di kelas, tidak hanya materi yang akan diberikan, namun juga penguasaan kelasnya. Untuk memahami hal ini, dosen wajib mengikuti pelatihan pekerti dan Applied Approach (AA).

Sebagai insan ilmuwan, seorang dosen juga harus bisa melihat kenyataan di lapangan dengan melakukan penelitian. Mengingat ilmu yang ada selalu berkembang, maka dosen juga diwajibkan untuk selalu mengikuti pelatihan, seminar maupun pendidikan  formal ke jenjang lebih lanjut. Agar perguruan tinggi tidak menjadi menara gading, maka setiap dosen juga diwajibkan untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat.

Sementara dosen yang mempunyai kualifikasi yang mumpuni, diartikan bahwa seorang dosen wajib mempunyai kualifikasi yang melebihi kualifikasi mahasiswa yang akan diajarkan. Mahasiswa S1 harus diasuh oleh dosen dengan kualifikasi S2, sementara mahasiswa S2 harus diasuh oleh dosen dengan kualifikasi S3. Begitu juga mahasiswa S3 harus diasuh oleh dosen dengan kualifikasi guru besar.

Untuk itulah Pemerintah dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 diperkuat dengan Undang-Undang Guru dan Dosen nomor 14 tahun 2005 serta Undang-Undang Pendidikan Tinggi nomor 12 tahun 2012 menegaskan agar kualifikasi minimum dosen harus setingkat lebih tinggi dibanding dengan mahasiswa yang diasuhnya.

Dosen yang sudah memiliki kompetensi akan diberikan jabatan fungsional yang sesuai dengan tingkat kompetensinya. Mulai dari asisten ahli, lektor, lektor kepala dan guru besar. Sementara dosen yang sudah memiliki kompetensi dan kualifikasi di atas rata-rata, akan diberikan sertifikat pendidik yang menerangkan bahwa dosen tersebut sudah profesional.

Itulah gambaran ideal dari seorang dosen. Kenyataan di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Menurut Direktur Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Supriyadi Rustad, di lapangan masih terdapat 60.000 dosen yang masih S-1 (kompas 25 Maret 2013).

Halaman1234
Editor: harismanto
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas