A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Kelangkaan Jengkol di Pekanbaru Karena Hukum Alam - Tribun Pekanbaru
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 29 Agustus 2014
Tribun Pekanbaru

Kelangkaan Jengkol di Pekanbaru Karena Hukum Alam

Kamis, 6 Juni 2013 15:42 WIB
Kelangkaan Jengkol di Pekanbaru Karena Hukum Alam
ilustrasi/net
 TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU- Kelangkaan jengkol dan petai di Kota Pekanbaru itu adalah akibat "hukum alam" disebabkan kedua tanaman itu mulai jarang ditanam sementara generasi muda sekarang sudah enggan mengkosumsinya terkait dengan bau dan gengsinya.

"Jika dilihat dari perkembangan zaman, 'kita-kita' dulu mungkin tidak se-modern saat ini. Remaja zaman dulu juga jauh berbeda dengan remaja zaman sekarang yang begitu mengutamakan penampilan dan dampaknya pasokan jadi berkurang," kata Kepala Disperindag Pekanbaru, Elsyabrina, seperti dikutip Antara, Kamis (6/6).

Pernyataan Syabrina itu adalah menanggapi mahalnya harga petai dan jengkol di sejumlah pasar tradisional Kota Pekanbaru dalam beberapa hari terakhir.

Penelusuran Antara sebelumnya, harga petai yang semula Rp40 ribu per kilogram, saat ini menjadi Rp80 ribu per kilogram (kg).  Sementara jengkol yang normalnya dijual Rp1.000 per lima buah, saat ini menjadi Rp500 per biji.

Saat ini, demikian Syabrina, diindikasikan peminat jenis sayuran dengan 'bau wangi' ini hanya tinggal kalangan tua saja, sementara para remaja lebih tidak menyukainnya karena dikhawatirkan mengganggu penampilan mereka.

Itu artinya, menurut dia, peminat jengkol dan petai 'terpotong' setengah generasi sehingga jual beli atas jenis sayuran ini sudah mulai terbatas.

Dengan kondisi demikian, menurut Elsyabrina, maka secara hukum ekonomi, pedagang akan mengurangi porsi penjualannya, sementara petani mulai beralih tanaman.

"Untuk diketahui, bahwa tanaman jengkol dan petai merupakan tanaman yang cukup sensitif. Ketika sebuah pohon berbuah kemudian jengkol dan petainya tidak dipanen, maka akan mempengaruhi produktifitasnya di kemudian hari. Kondisi ini bahkan bisa menyebabkan tanaman untuk dua jenis sayuran ini menjadi mati," katanya.

Kondisi demikian yang menurut Syabrina disebut sebagai "hukum alam" dimana jengkol dan petai yang tadinya merupakan menu makanan favorit sebagai "perangsang" selera makan, kini tidak lagi digemari oleh generasi penerus bangsa.

"Dengan kelangkaan ini, kemudian harga jengkol dan petai di pasaran mulai melambung. Biasanya, ketika 'barang' itu sudah mulai langka, maka akan menjadi 'barang' yang dicari-cari," katanya.(ant)
Editor: zid
Sumber: Antara
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
171583 articles 9 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas