• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 24 September 2014
Tribun Pekanbaru

6 Terdakwa Kopassus Kaget Dengar Tembakan Serda Ucok

Rabu, 17 Juli 2013 22:52 WIB

TRIBUNPEKANBARU.COM, YOGYAKARTA - Enam saksi sekaligus terdakwa Kopassus kaget saat mendengar suara tembakan dalam penyerangan di Lapas Klas IIB Sleman, DIY, pada 23 Maret lalu. Mereka tak menyangka Ucok Tigor Simbolon menembak mati empat tahanan titipan Polda DIY, Dicky, Deddy, Juan dan Adi.

Keenam saksi tersebut, Sertu Tri Juanto (saksi 39), Sertu Anjar Rahmanto (saksi 40), Serda Ihmawan Suprapto (saksi 41), Sertu Suprapto (saksi 42), Sertu Herman Siswanto (saksi 43), dan Sertu Martinus Roberto (saksi 44). Lima orang kecuali saksi 41 terdapat dalam berkas kedua. Sedangkan saksi 41 dalam berkas ketiga seorang diri.

Mereka memberi kesaksian dalam berkas pertama dengan terdakwa Serda Ucok Tigor Simbolon sebagai terdakwa 1, kemudian terdakwa 2 atas nama Serda Sugeng Sumaryanto, dan terdakwa 3 atas nama Koptu Kodik.

"Saya kaget pertama kali mendengar suara tembakan, tidak mengira ada penembakan," kata Siswanto di Pengadilan Militer (Dilmil) II-11 Yogyakarta, Rabu (17/7/2013).

Dia bersama saksi lainnya diberi senjata replika jenis AK-47 oleh terdakwa Koptu Kodik. Pemberian senjata replika itu dilakukan saat berhenti di depan Lapas Klas IIB Sleman.

"Berhenti, turun. Awalnya kaget (diberi senjata replika), tapi karena melakukan penyamaran dari Polda, tidak apa-apa mengenaikan senjata. Saya berfikir saat itu penyamaran yang cukup bagus," kata Tri Juanto.

Kedatangannya ke lapas yang mengaku dari Polda DIY mendapat sambutan baik. Penjaga membuka pintu depan dan tiga terdakwa (Ucok, Sugeng, dan Kodik) masuk ke pintu portal penjagaan lapas.

"Saya mengenakan sebo, masuk melalui pintu utama yang dibuka sipir. Posisi saya di belakang terdakwa 1. Saat itu suasana kondusif, tidak terjadi apa-apa," ucap Tri.

Suasana berubah 180 derajat saat Kepala Keamanan Lapas Kelas IIB, Margo Utomo, menghubungi seseorang menggunakan telefon genggam. Ponsel itu direbut terdakwa 1 dan langsung memerintahkan tiarap.

"Semuanya tiarap, insting saya ada CCTV itu harus diambil karena bisa membongkar, ternyata sudah diselesaikan teman," paparnya.

Keenam saksi mengaku tidak mengetahui saat terdakwa 1 (Ucok) mengeksekusi empat tahanan. Mereka mengaku berada di sekitar pintu portil dan perkantoran, sedangkan terdakwa 1, 2, serta 3 masuk ke dalam lapas (Blok A-5).

Saksi 44, Martinus Robert mengaku memecahkan kaca tempat penyimpanan kunci di Blok A-5. Namun, dia hanya membantu sipir yang tidak bisa memecah kaca untuk mengambil kunci ruang A-5.

"Ada sipir lari dari dalam, sampai di dekat saya dia berusaha memecah kaca untuk mengambil kunci. Sipir tidak bisa memecah kaca. Kaca saya pecah pakai kopor (gagang senjata), dia yang ambil kunci jumlahnya banyak," jelasnya.

Tak sampai lima menit, terdengar suara tembakan setelah sipir berlari masuk ke dalam membawa kunci Blok A-5. "Saya tidak mengetahui kunci yang diambil, kemudian mendengar suara tembakan,” ujarnya.

Setelah itu, ketiga terdakwa berlari keluar meninggalkan Lapas Klas IIB Sleman. "Saya menyusul menuju mobil, setelah itu pulang ke asrama," jelasnya.

Sebelum tiba di asrama Grup 2 Kandang Menjangan, sembilan prajurit Kopassus yang mengenakan dua unit mobil ini berhenti.

"Saya berhenti di tengah jalan, saya turun ganti naik mobil APV menuju asrama. Terdakwa 1,2, dan 3 menggunakan mobil Avansa menuju Gunung Lawu untuk latihan," kata Ihmawan.

Sebagaimana diketahui, Serda Ucok Tigor Simbolon mengakui telah mengeksekusi empat tahanan titipan Polda DIY. Keempat tahanan itu sedang menjalani proses hukum karena melakukan pembunuhan terhadap Serka Heru Santoso di Hugo's Cafee pada 19 Maret lalu. (Okezone.com)

Editor: zulham
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
196753 articles 9 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas