6 Terdakwa Kopassus Kaget Dengar Tembakan Serda Ucok

Enam saksi sekaligus terdakwa Kopassus kaget saat mendengar suara tembakan dalam penyerangan di Lapas Klas IIB Sleman

TRIBUNPEKANBARU.COM, YOGYAKARTA - Enam saksi sekaligus terdakwa Kopassus kaget saat mendengar suara tembakan dalam penyerangan di Lapas Klas IIB Sleman, DIY, pada 23 Maret lalu. Mereka tak menyangka Ucok Tigor Simbolon menembak mati empat tahanan titipan Polda DIY, Dicky, Deddy, Juan dan Adi.

Keenam saksi tersebut, Sertu Tri Juanto (saksi 39), Sertu Anjar Rahmanto (saksi 40), Serda Ihmawan Suprapto (saksi 41), Sertu Suprapto (saksi 42), Sertu Herman Siswanto (saksi 43), dan Sertu Martinus Roberto (saksi 44). Lima orang kecuali saksi 41 terdapat dalam berkas kedua. Sedangkan saksi 41 dalam berkas ketiga seorang diri.

Mereka memberi kesaksian dalam berkas pertama dengan terdakwa Serda Ucok Tigor Simbolon sebagai terdakwa 1, kemudian terdakwa 2 atas nama Serda Sugeng Sumaryanto, dan terdakwa 3 atas nama Koptu Kodik.

"Saya kaget pertama kali mendengar suara tembakan, tidak mengira ada penembakan," kata Siswanto di Pengadilan Militer (Dilmil) II-11 Yogyakarta, Rabu (17/7/2013).

Dia bersama saksi lainnya diberi senjata replika jenis AK-47 oleh terdakwa Koptu Kodik. Pemberian senjata replika itu dilakukan saat berhenti di depan Lapas Klas IIB Sleman.

"Berhenti, turun. Awalnya kaget (diberi senjata replika), tapi karena melakukan penyamaran dari Polda, tidak apa-apa mengenaikan senjata. Saya berfikir saat itu penyamaran yang cukup bagus," kata Tri Juanto.

Kedatangannya ke lapas yang mengaku dari Polda DIY mendapat sambutan baik. Penjaga membuka pintu depan dan tiga terdakwa (Ucok, Sugeng, dan Kodik) masuk ke pintu portal penjagaan lapas.

"Saya mengenakan sebo, masuk melalui pintu utama yang dibuka sipir. Posisi saya di belakang terdakwa 1. Saat itu suasana kondusif, tidak terjadi apa-apa," ucap Tri.

Suasana berubah 180 derajat saat Kepala Keamanan Lapas Kelas IIB, Margo Utomo, menghubungi seseorang menggunakan telefon genggam. Ponsel itu direbut terdakwa 1 dan langsung memerintahkan tiarap.

"Semuanya tiarap, insting saya ada CCTV itu harus diambil karena bisa membongkar, ternyata sudah diselesaikan teman," paparnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help