Disdik Audit Kepsek SDN 42

Guru Minta Kepsek Diganti

Disdik Audit Kepsek SDN 42
tribunpekanbaru/Hendra Efivanias
Kepala Bidang Pendidikan TK dan SD Disdik Pekanbaru, Naguib Nasution SPd melakukan dialog dengan guru-guru SDN 42 Pekanbaru terkait aspirasi mereka memprotes kepemimpinan Kepala Sekolah. Sebelumnya, Naguib melakukan audit atas kinerja kepala sekolah

Laporan: Hendra Efivanias

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Kepemimpinan Kepala SDN 42 Pekanbaru, Nurhasanah SPd digugat para guru. Kepala sekolah tersebut dinilai kurang tranparan dalam hal pengelolaan keuangan sekolah. Bahkan, memanfaatkan uang infaq sekolah diluar dari keperluan siswa secara langsung. Namun, Nurhasanah menganggap tudingan tersebut justru disebabkan para guru enggan mengikuti aturan disiplin sekolah.

Sebelumnya, 29 pendidik dan tenaga kependidikan di SD tersebut membuat surat pernyataan yang menyatakan ketidaksetujuan mereka dengan kepemimpinan Nurhasanah. Tak tanggung-tanggung, dalam surat pernyataan itu mereka juga menuangkan sembilan butir alasan.

Seperti, Nurhasanah dianggap tidak transparan dalam pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Pembelanjaan dana BOS dilakukan sendiri tanpa pernah memusyawarahkannya bersama majelis guru. Majelis guru juga tidak pernah tahu rincian pembenjaan yang menggunakan dana BOS.

Penggunaan dana BOS pun tidak sesuai dengan Rencana Kerja Anggaran Sekolah (RKAS). Para guru mencontohkan, dalam RKAS dianggarkan dana untuk siswa miskin atau kurang mampu memakai dana BOS. Tapi sekarang dana itu justru ditiadakan. Saran dari guru-guru pun tidak pernah diterima.

Uang lomba siswa yang mendapat juara di sejumlah iven juga tidak diberikan. Akibatnya orangtua siswa yang mengikuti lomba tidak senang dan berniat memindahkan anaknya. Lalu, pada bulan Mei lalu, Nurhasanah juga memakai uang infaq sekolah sebesar Rp 7.000.000 dengan alasan ingin memperbaiki mushola. Nyatanya, guru-guru menganggap tidak banyak perubahan yang terjadi pada Mushola itu. "Hanya pintu dan sejumlah sajadah saja yang baru," ungkap salah seorang guru.

Ironisnya, sampai saat ini laporan penggunaan uang infaq itu belum diserahkan oleh Nurhasanah. "Sampai sekarang saya belum menerima bukti pemakaian uang itu. Kalau memang ada belanja, tentu ada kwitansinya," ungkap Hj Jismita SPd, pengelola uang infaq SDN 42 kepada Tribun, Senin (19/8).

Menurut Jismita, berdasarkan kesepakatan selama ini, infaq tersebut ditujukan untuk membantu anak yatim mulai kelas I hingga VI. Disamping itu untuk membiayai perobatan siswa yang mengalami kecelakaan saat ada di lingkungan sekolah. Infaq ini dikumpulkan setiap hari Jumat oleh guru kelas masing-masing. Jismita juga membuat catatan tertulis pendapatan maupun pengeluaran uang infaq tersebut.

Jismita mengaku sempat beberapakali ditanya guru-guru lain terkait penggunaan uang infaq itu. Namun, karena tidak ada penjelasan dari kepala sekolah, ia tidak tahu menjawab apa. Jismita mengaku sulit tidur karena takut uang infaq tersebut disalahgunakan.

Dalam mengambil keputusan rehabilitasi dan pengecatan sekolah, Nurhasanah pun tak pernah memusyawarahkannya dengan guru. Demikian pula saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) lalu. Adanya penambahan daya tampung serta penetapan besaran biaya seragam siswa baru tanpa sepengetahuan guru.

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: Hendra Eifivanias
Editor: Zul Indra
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help