• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Senin, 1 September 2014
Tribun Pekanbaru

Riau Berpotensi Kembangkan Energi Terbarukan

Kamis, 12 September 2013 22:08 WIB
Riau Berpotensi Kembangkan Energi Terbarukan
Tribunpekanbaru.com/NAS
Petani kelapa sawit 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Riau merupakan salah satu daerah yang mempunyai potensi energi biomassa terbesar yang dapat digunakan sebagai pembangkit listrik. Pemanfaatan limbah dari perkebunan kelapa sawit seperti limbah cair, tandan kosong dan cangkangnya akan mampu menghasilkan energi listrik. Jika potensi tersebut dapat dimaksimalkan, maka persoalan kekurangan energi listrik yang selama ini terjadi akan dapat ditanggulangi.

Berdasarkan data Dinas Perkebunan Provinsi Riau, ketersediaan limbah cair sawit kini bisa memproduksi 261 Mega Watt (MW) listrik dan 340 MW dari limbah padat. Limbah padat dan cair sawit Riau tersebut berasal dari 174 pabrik kelapa sawit (PKS). Melimpahnya sumber energi yang berasal dari biomassa seharusnya dapat menjadi perhatian lebih oleh pemerintah dalam mengelola sumber daya energi yang terbarukan dan berkelanjutan.

Biomassa adalah sumber energi yang mengacu pada bahan biologis yang berasal dari organisme yang belum lama mati. Ada tiga jenis proses yang digunakan untuk mengkonversi biomassa menjadi bentuk yang energi yang berguna yaitu: konversi termal dari biomassa, konversi kimia dari biomassa, dan konversi biokimia dari biomassa.  Dibandingkan bahan bakar fosil, pembangkit listrik dengan energi dari biomassa juga dapat mengurangi emisi karbon.

"Program pemanfaatan energi terbarukan biomassa sendiri telah dimulai oleh PTPN V dengan memproduksi listrik sebesar 2 MW dan PT Musimas sebesar 1 MW. Ke depannya diharapkan akan lebih banyak lagi dibangun pembangkit listrik serupa terutama untuk memenuhi kebutuhan listrik bagi perusahaan itu sendiri dan masyarakat sekitar," ujar Kepala Dinas Perkebunan Riau, Zulher, saat dihubungi oleh Tribun, Kamis (12/9).

Saat ini, sistem kelistrikan Riau yang menjadi bagian dari sistem kelistrikan Sumatera bagian tengah membutuhkan pasokan daya sebesar 450 MW. Menurut General Manajer Perusahaan Listrik Negara (PLN) Wilayah Riau dan Kepulauan Riau, Doddy Benyamin Pangaribuan, permasalahan kekurangan  energi listrik yang terjadi saat ini tidak bisa dihindari karena pasokan daya dari pembangkit listrik lainnya yang tergabung dalam sistem interkoneksi tersebut juga berkurang.

"Defisit listrik yang kita alami saat ini sekitar 30-50 MW. PLN sangat serius mencoba mencari sumber energi alternatif yang terbarukan. Rencananya dalam waktu dekat kita akan siap untuk membeli daya dari perusahaan yang telah memiliki pembangkit listrik biomassa di Riau," ujarnya lebih lanjut.

Di Provinsi Riau, hampir seluruh kabupaten/kota memiliki areal perkebunan sawit yang cukup luas kecuali Pekanbaru, Dumai dan Kepulauan Meranti. Data pada tahun 2013 memperlihatkan bahwa luas perkebunan sawit di Riau mencapai 2,25 juta hektar atau hampir 30 persen dari luas total perkebunan kelapa sawit Indonesia.

Direktur Lembaga Riset Energy Research Centre (EnReach), Kunaifi, mengungkapkan bahwa biomassa dapat mejadi solusi dalam menangani permasalahan kekurangan pasokan energi listrik yang  selama ini terus terjadi."Sumber energi biomassa sangat potensial untuk dimanfaatkan bila mampu dikelola dengan baik. Sebagai energi terbarukan dan berkelanjutan, biomassa memiliki sifat bisa dilakukan intervensi oleh manusia dalam pengelolaannya."

Saat ini, EnReach yang merupakan pusat studi energi yang berada di bawah Fakultas Ilmu Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim Riau masih terus meneliti potensi energi biomassa yang berasal dari limbah sawit. Bekerjasama dengan pemerintah Finlandia dan Dinas Perkebunan Provinsi Riau, sejumlah tahapan proses penelitian masih terus dilakukan.

"Hal pertama yang sedang kita lakukan adalah mendapatkan data aktual terkait seberapa besar potensi tersebut dimiliki oleh provinsi Riau. Saat ini pengumpulan data dari 12 kabupaten/kota yang sedang dalam proses. Diharapkan pada Desember 2013 nanti nilai potensi sebenarnya bisa didapat," ungkapnya lebih lanjut.

Setelah melalui tahapan pertama, maka selanjutnya adalah melihat kebutuhan pasar, terutama yang berasal dari industri dan masyarakat. Dalam hal ini faktor sosial dan ekonomi akan dikaji lebih lanjut, termasuk di dalamnya daya beli masyarakat. Kemudian yang terakhir adalah penerapan teknologi yang tepat.

Peneliti muda yang berkonsentrasi di bidang energi terbarukan ini melanjutkan, "Ketiga tahapan tersebut saling berkaitan untuk melihat potensi yang sebenarnya. Diharapkan pemanfaatan energi biomassa dari limbah sawit merupakan salah satu jawaban dalam mengembangkan energi terbarukan dan berkelanjutan. Pengembangan ini sebaiknya selalu memperhatikan aspek lingkungan hidup, energi dan sosial."

Potensi energi biomassa Indonesia berdasarkan data Kementerian ESDM, secara teori diperkirakan mencapai sekitar 49.810 MW. Angka ini diasumsikan dengan dasar kadar energi dari produksi tahunan sekitar 200 juta ton biomassa dari residu pertanian, kehutanan, perkebunan dan limbah padat perkotaan. Kapasitas pembangkit listrik yang memanfaatkan biomassa di Indonesia hanya sebesar  1100 MW atau sekitar 2,2% dari potensi yang ada.

Studi yang dilakukan ADB dan Golder Associate (2006) yang dikutip dalam TNA Sektor Energi (2009) memperkirakan potensi biomassa dari limbah pabrik minyak kelapa sawit di Indonesia setara dengan sekitar 230.530 TJ per tahun dan produksi listrik potensial yang dapat dihasilkan adalah sekitar 4.243.500 MWh per tahun. Asumsi yang digunakan untuk perhitungan ini adalah potensi TBS sebesar 15,18 juta ton/ tahun, 70% nya digunakan untuk pembangkit listrik yang beroperasi 8000 jam per tahun.

Penulis: Melvinas Priananda
Editor: zulham
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
226843 articles 9 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas