Kecelakaan Hidup

Telah aku biarkan hidupku seperti air. Mengalir. Terus saja mengalir

Kecelakaan Hidup
ist
Si Raja Penyair Pinto Janir 

Oleh: Pinto Janir
Si Raja Penyair, Penggiat Sastra di Sumbar

APAKAH aku sampai? Apakah aku sudah mampu memutuskan satu kesimpulan hidup dalam hidupku yang kurasa , ya hidup saja dulu apa adanya.

Telah aku biarkan hidupku seperti air. Mengalir. Terus saja mengalir. Aku tak peduli memang, air ini akan mengalir ke muara mana? Tak aku repotkan pikiranku untuk memikirkan muara itu. Bila sampai pada sebuah muara, lalu ada yang tumbuh, di situ pula aku menyiangnya. Bila ia ilalang, enggan pula aku hendak menebang. Seburuk rimba ilalang, ia pasti akan berbunga kembang.

Bila hidupku seperti air dari hulu menuju muara, mungkin itu adalah biasa. Adat air, ia senantiasa mencari tempat yang rendah. Kalau terpalang dinding batu, terhadang dataran tinggi, ia menggenang. Bila genangannya menjadi danau, ia indah. Tapi, bagaimana bila genangannya liar tak terkendalikan, lalu membludak seperti air bah, maka yang kukirim itu adalah musibah, bukan berkah.

Bagi laut, sebanyak apapun muara berkirim air, laut tak pernah muntah.  

Suatu kali aku berpikir, bila dulu aku adalah air dari hulu yang berjalan di batang sungai menuju ke muara yang sepikirpun tak kurencanakan, bagaimana bila sekarang di tahun 2014 ini, aku adalah air dari laut yang mencari muara untuk menghulukan hidup dan pikiranku! Hulu itu tinggi, adakah airku kan mampu sampai menjangkaunya dan berdermaga di sana?

Aku yakin, pada kalimat "tak ada yang tak mungkin".

Ketakmungkinan bila kita kancah dengan menghargai ruang, menghargai waktu, terpusat, kerja keras, kesungguhan, keniatan, ketawakalan, kecakapan, kepengetahuan, kesabaran, kekukuhan, keakalan, kehatian, kepikiran, keteraturan--akan dapat mewujudkan "tidak mungkin" menjadi mungkin, menjadi bisa, menjadi ada, menjadi sesuatu yang sesuai harapan kita.

Ada yang mesti kucatatkan dalam benak pikiranku, terlalu berlama-lama berada dalam bilik hayalan tidak baik juga, itu adalah kesengsaraan yang tak jelas.  Terkadang hayalan menjadi derita dalam hidup ini, terkadang juga menjadi indah ketika kita tak mampu masuk dalam realita yang kelat. Khayalan menjadi wadah, menjadi tempat untuk segala  muntah.

Aku adalah orang yang tidak "taat" waktu. Bagiku, waktu itu tidak ada. Yang ada itu ruang. Yang ada itu pikiran dan perbuatan atau kerja. Makanya, bila aku bekerja tak peduli waktu. Yang penting kerjaku selesai. Maupun aku kerjakan itu tergantung ruang, bukan waktu. Maka jadilah aku tukang putar balik waktu. Siangku jadi malam, malamku jadi siang.

Halaman
1234
Editor: harismanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved