Pensiunan Polisi Berprofesi Dukun Ini Cabuli Gadis SMA

Pada hari pertama, korban P hanya dipijat di bagian paha. Namun, pada aksi kedua hingga keempat, terdakwa bertindak di luar batas.

Pensiunan Polisi Berprofesi Dukun Ini Cabuli Gadis SMA
Internet
Ilustrasi

TRIBUNPEKANBARU.COM, SEMARANG — Seorang pensiunan polisi yang pernah bertugas di Mapolda Jawa Tengah disangka telah melakukan pencabulan terhadap korban P yang tercatat masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA) di Kota Semarang. Tidak tanggung-tanggung, pencabulan dilakukan di rumahnya sendiri selama empat kali dalam rentang hari pada bulan Agustus 2013.

SB (57), warga Tembalang, Kota Semarang, dikenal warga sebagai seorang dukun yang acap menyembuhkan orang sakit. Saat itu, korban, P, mengalami sakit perut hingga dibawa pihak keluarga ke rumah pelaku untuk diobati. Korban sendiri diketahui adalah tetangga pelaku.

Merasa tak ada curiga, keluarga memasrahkan pengobatan kepada SB. Namun, SB justru memanfaatkan situasi ini untuk bertindak cabul. Semula, SB mengatakan bahwa korban sedang diguna-gunai sehingga harus ada ritual khusus untuk menghilangkan guna-guna yang menempel di perutnya.

"Tindak pencabulan itu dilakukan empat kali di rumah sendiri. Dia mengatakan, korban dalam keadaan guna-guna," kata Kepala Seksi Pidana Umum Kejari Semarang, Teguh Imanto, setelah menerima berkas perkara dari kepolisian, Jumat (19/9/2014).

Dia mengatakan, perkara pencabulan dengan tersangka SB ini bermula dari laporan polisi bernomor LP/B/1435/VIII/2013/Jateng/Restabes, tertanggal 28 Agustus 2013. Berkas itu kini diserahkan dari polisi ke kejaksaan beserta dengan tersangka. Polisi cabul ini dijerat dengan dakwaan Pasal 289 juncto Pasal 290 ayat 1 KUHP.

Empat kali tindak pencabulan yang dilakukan di rumah SB ini ialah pada Senin, 12 Agustus 2013, pukul 19.00 WIB, kedua, tanggal 15 Agustus 2013 pukul 19.00 WIB, ketiga, 18 Agustus 2013 pukul 19.30 WIB, dan keempat tanggal 19 Agustus 2013 pukul 20.30 WIB.

Pada hari pertama, korban P hanya dipijat di bagian paha. Namun, pada aksi kedua hingga keempat, terdakwa bertindak di luar batas. Aksi itu dilakukan karena korban percaya sedang terkena guna-guna sehingga ritual yang dilakukan SB sebagai upaya terapi.

Editor: Muhammad Ridho
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved