Pengunggah Soal "4 x 6 atau 6 x 4" Minta Maaf Telah Buat Heboh di Medsos

Muhammad Erfas Maulana, pengunggah soal Matematika "4 x 6 atau 6 x 4" meminta maaf karena telah membuat kehebohan di media sosial

Pengunggah Soal
kompas.com
ilustrasi 

TRIBUNPEKANBARU.COM, SEMARANG — Muhammad Erfas Maulana, pengunggah soal Matematika "4 x 6 atau 6 x 4" meminta maaf karena telah membuat kehebohan di media sosial. Ia menuliskan permohonan maaf itu di dinding akun Facebook-nya. 

Keriuhan soal "4 x 6 atau 6 x 4" bermula dari posting-an Erfas yang mempertanyakan alasan guru menyalahkan jawaban dari soal yang dikerjakan adik Erfas yang duduk di kelas II sekolah dasar di Semarang, Jawa Tengah.

"Mohon maaf, saya sudah menghebohkan media sosial beberapa hari terakhir ini. Baru saja saya mengkonfirmasikan ini kepada guru. Saya juga sudah meminta maaf sebesar-besarnya kepada beliau. Sekali lagi saya mohon, jangan ada yang menyalahkan guru karena guru sudah mengajarkan sesuai konsep dan buku yang ada. Saya sangat menyesal atas semua yang sudah terjadi. Terima kasih," tulis Erfas di dinding akun Facebook-nya, Senin (22/9/2014). Ia mengedit pernyataan maaf itu hingga empat kali. Redaksional terakhir lebih panjang. 

Posting-an Erfas yang mempertanyakan perbedaan antara 4 x 6 dan 6 x 4 bahkan mengundang komentar sejumlah guru besar perguruan tinggi, seperti Profesor Thomas Djamaluddin dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Profesor Yohanes Surya (pendidik juara olimpiade dunia), dan dosen Matematika ITB, Iwan Pranoto.

Berikut pernyataan permohonan maaf Erfas selengkapnya yang disalin secara utuh dari akun Facebook-nya.

"mohon maaf, saya sudah menghebohkan media sosial beberapa hari terakhir ini. baru saja saya mengkonfirmasikan ini kepada guru. saya juga sudah meminta maaf sebesar-besarnya kepada beliau.

sekali lagi saya mohon, jangan ada yang menyalahkan guru karena guru sudah mengajarkan sesuai konsep dan buku yang ada. sang guru juga tidak menyalahkan pendapat saya.

sesuai kurikulum 2013 yang membebaskan murid menyelesaikan suatu persoalan sesuai kemampuan nalar masing-masing, saran saya adalah untuk memperbaiki buku dengan tidak hanya terfokus dengan satu cara penyelesaian, namun memberikan banyak cara penyelesaian. disitu murid akan memilih cara sesuai pemahaman termudah masing-masing murid.

itu saran saya saja sih, kalo ada yang kurang berkenan dengan saran saya, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

berbicara mengenai kurikulum 2013, menurut saya, kurikulum tersebut sangat baik. siswa tidak hanya dituntut untuk mengetahui pengetahuan, namun juga diajari berketrampilan sehingga siswa diharapkan lebih kreatif dan bersikap agar dapat mempunyai moral yang baik saat hidup bermasyarakat. jadi ada 3 aspek penilaian disini, pengetahuan, ketrampilan, dan sikap.
dengan kurikulum ini, saya melihat bahwa anak-anak lebih senang untuk pergi ke sekolah. mereka menjadi bersemangat karena di sekolah diajari untuk membuat berbagai kerajinan tangan atau membuat sesuatu yang menarik bagi mereka.

Halaman
12
Editor: Muhammad Ridho
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved