IPB Basmi Hama dengan Melepas 2.000 Tawon

IPB bekerjasama dengan International Center for Tropical Agriculture (CIAT) dan FAO melepaskan 2.000 tawon untuk mencegah penyebaran hama kutu putih

IPB Basmi Hama dengan Melepas 2.000 Tawon
umich.edu
Anagyrus lopezi 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerjasama dengan International Center for Tropical Agriculture (CIAT) dan Food and Agriculture Organization (FAO) melepaskan 2.000 tawon spesies Anagyrus lopezi untuk mencegah penyebaran hama kutu putih (Phenacoccus manihot).

Kutu putih adalah hama paling berbahaya pada tanaman singkong. Hama itu dilaporkan mampu menurunkan produksi singkong hingga 84 persen. Diduga, hama ini berasal dari Amerika Selatan, tempat asal tanaman singkong.

Serangan kutu putih di Asia dilaporkan pertama kali di Thailand pada tahun 2008. Sejak saat itu, hama menyebar ke Myanmar, Kamboja, Laos, hingga China. Baru-baru ini, kutu putih ditemukan di tanaman singkong di Lampung dan sejumlah wilayah di Jawa.

Aunu Rauf, ahli serangga pertanian dari IPB mengatakan, pelepasan tawon untuk menumpas kutu putih ini penting. Indonesia adalah salah satu produsen singkong terbesar di dunia. Ada satu juta hektar lahan di Indonesia yang ditanami singkong. Kalau hama tak diatasi, kerugian bakal besar.

“Singkong telah mendukung jutaan petani skala kecil di Indonesia dan telah menikmati periode yang relatif bebas dari ancaman hama," kata Aunu dalam rilis yang diterima Kompas.com, Rabu hari ini.

"Tapi, kini ada hama. Kami harus mengambil tindakan cepat yang ramah lingkungan untuk melindungi mata pencaharian petani singkong, dan menjaga keamanan pangan Indonesia," imbuh Aunu.

Efektivitas tawon untuk membasmi kutu putih telah terbukti. Tahun 1980-an, pelepasan tawon bisa mendukung jutaan petani di sub Sahara Afrika dan menyelamatkan pertanian singkong yang  telah merugi hingga 20 miliar Dollar AS.

Secara ilmiah, begitu dilepaskan, tawon akan tumbuh dan berkembang biak. Tawon akan meletakkan telurnya pada larva kutu putih. Begitu menetas, tawon akan memakan larva itu dari dalam. Proses ini membantu menekan populasi larva.

Aunu menambahkan, "Tawon ini tak merugikan manusia, hewan atau serangga lain, dan hanya memakan kutu putih. Metode kontrol biologis ini lebih baik daripada membasmi dengan pestisida yang bisa mengakibatkan dampak lingkungan serius dan berbiaya besar."

Jan Willem Ketelaar dari FAO mengatakan bahwa ancaman kutu putih adalah bukti bahwa penyebaran spesies invasif merugikan. Spesies invasif terbukti mengakibatkan kerugian miliaran dollar AS dalam pertanian maupun manajemennya.

Rangaswamy Muniappan dari Integrated Pest Management Innovation Lab, Virginia Tech menyatakan, petani dan peneliti perlu bekerjasama untuk merespon ancaman kutu putih serta ancaman lain di masa depan.

Editor: Muhammad Ridho
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved