Bank Riau Kepri Menjadi Bank Syariah, Suatu Wacana

Apabila Bank Riau Kepri mempunyai keinginan dikonversi menjadi bank syariah dapat dilaksanakan, tanpa ada aturan yang dilanggar, tinggal proses

Bank Riau Kepri Menjadi Bank Syariah, Suatu Wacana
Foto/Istimewa

Oleh: Afrial Abdullah
Direktur Bidang Syariah Bank Riau Kepri

BEBERAPA waktu yang lalu sahabat saya Haizir Sulaiman yang menjabat sebagai Direktur Syariah Bank Aceh menghubungi saya dan menyampaikan kabar gembira bahwa Insya Allah terhitung bulan Agustus 2016 Bank Pembangunan Daerah Aceh akan dikonversi dari bank konvensional menjadi bank syariah.

Dalam bulan Juni 2016 bertepatan dengan bulan suci Ramadhan 1437 H, saya mendapatkan lagi surprise berita tentang sudah disetujuinya dan disepakati oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat bersama-sama dengan DPRD Propinsi NTB untuk mengkonversi Bank NTB dari bank konvensional menjadi bank syariah.

Bahkan informasi teman-teman yang baru saja menghadiri seminar perkembangan bank syariah di Indonesia yang diselenggarakan oleh Asosiasi Bank Daerah (ASBANDA) bekerjasama dengan OJK, saat ini sedang dikaji proses konversi Bank Nagari (Bank Pembangunan Daerah Sumatera Barat) menjadi bank syariah.

Rasa haru, puji syukur bercampur dengan perasaan “iri” atas rencana realisasi serta diwacanakannya niat ketiga Bank Pembangunan Daerah tersebut menjadi bank syariah, dalam hati bertanya apakah Bank Riau Kepri berpeluang dan bisa menjadi bank syariah?

Untuk Bank Aceh orang-orang mungkin berpendapat bahwa Bank Aceh wajar saja kalau dikonversi menjadi bank syariah karena bukankah bumi Aceh adalah Negeri Serambi Mekah dan semua peraturan daerah (qanun) yang ada di Nanggroe Aceh Darussalam senantiasa berlandaskan syariah Islam, tapi untuk NTB dan Sumatera Barat segala peraturan yang berlaku lebih kurang sama dengan di Riau dan Kepri. Barangkali hanya niat dan kehendak yang membedakan, dan pada akhirnya sudah diputuskan oleh Gubernur dan DPRD Provinsi NTB untuk mengkonversi Bank NTB menjadi bank syariah.

Bila kita telusuri data pada prinsipnya terdapat persamaan core bisnis. Bank Aceh, Bank NTB, Bank Nagari dan Bank Riau Kepri. sama-sama Bank Pembangunan Daerah yang dimiliki oleh Pemda. Bank Pembangunan Daerah didirikan dengan tujuan untuk memberdayakan ekonomi daerah, mendorong pertumbuhan UMKM dan dari keuntungannya sama-sama sebagai salah satu sumber pendapatan Daerah (PAD).

Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional
Berikut disampaikan beberapa perbedaan antara bank syariah dan bank konvensional adalah:

1. Segala transaksi bank syariah harus berdasarkan akad yang dibenarkan oleh syariah Islam dengan dasar al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad SAW yang diterjemahkan ke dalam fatwa-fatwa Dewan Syariah Nasional MUI seputar perbankan dan jasa keuangan. Sedangkan bank konvensional beroperasi berdasarkan perjanjian pinjam-meminjam uang dengan tujuan mencari keuntungan yang sebesar-besarnya.

2. Untuk memperoleh keuntungan (profit) di bank syariah menggunakan akad bagi hasil (mudharabah dan musyarakah), akad jual beli (murabahah, salam, dan istishna’), akad sewa menyewa (ijarah dan ijarah muntahiya bit tamlik) dan akad keagenan (wakalah), sesuai dengan fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI). Sedangkan bank konvensional mendapatkan keuntungan dari instrumen bunga terutama bunga kredit serta pendapatan fee lainnya.

Halaman
123
Editor: harismanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help