TribunPekanbaru/

Malam Pesta Durian Pemandang, Sebuah Tekad Mengawal Kearifan Lokal

Dan yang tidak kalah pentingnya, Pemandang sejak dulu sudah terkenal dengan buah-buahan lokal seperti durian, manggis, langsat

Malam Pesta Durian Pemandang, Sebuah Tekad  Mengawal Kearifan Lokal
TribunPekanbaru/DoddyVladimir
drh. Chaidir, MM 

Oleh: Chaidir**

Malam apresiasi durian Desa Pemandang (18/12/2016), barangkali bolehlah disebut sebagai upaya apresiasi sebuah kearifan lokal. Bagi masyarakat lokal ini tentu sangat membanggakan dan sangat memotivasi kemajuan.

PEMANDANG mungkin sebuah nama yang terasa agak aneh. Tapi sesungguhnya kampung itu (yang kemudian menjadi desa dalam struktur administrasi pemerintahan) lebih tua dari republik ini. Dari cerita-cerita orang tua-tua di kampung, dari sebuah bukit, Raja Rokan memandang ke hamparan lembah mencari lokasi untuk kampung. Raja menunjuk ke sebuah lembah. Lembah itulah kemudian yang menjadi tempat menetap beberapa kelompok orang-orang rimba yang sebelumnya nomaden. Maka, untuk mudahnya, gunung itu kemudian oleh nenek-moyang kampung itu diberi nama Gunung Mandang dan kampungnya, diberi nama Pemandang.

Pemandang adalah sebuah kampung yang tersuruk. Sebuah negeri “nun.” Nun di kaki bukit barisan, nun di pedalaman, nun jauh di sana di tengah rimba belantara. Posisinya kira-kira terletak pada sudut barat laut wilayah Provinsi Riau. Ke utara berbatasan dengan Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara; berakit  ke hulu sungai Batang Rokan ke arah barat masuk pula ke wilayah Pasaman, Provinsi  Sumatera Barat. Pemandang kira-kira tepat berada di jantung Sumatera bagian tengah, di wilayah segitiga emas Riau-Sumbar-Sumut. (Memberi julukan segitiga emas - The Golden Triangle, apalah salahnya)? Siapa tahu kelak wilayah ini sungguh-sungguh berkembang menjadi daerah kaya, karena buminya mengandung batu bara bahkan juga emas.

Wilayah luhak Pemandang memiliki Batang Pakis dengan hutan rimbanya yang masih alami; dipenuhi pepohonan ukuran raksasa yang berusia ratusan  tahun. Pada bagian hulu Batang Pakis juga terdapat beberapa air terjun yang sangat indah (wilayah ini sekarang sedang dipersiapkan untuk menjadi objek wisata alam). Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, hutan rimba perawan ini masih dihuni oleh “Orang Godang” (maksudnya mungkin orang utan) dan orang bunian (makhluk halus penunggu hutan rimba).

Dan yang tidak kalah pentingnya, Pemandang sejak dulu sudah terkenal dengan buah-buahan lokal seperti durian, manggis, langsat, duku (buahnya besar, bukan duku Palembang), rambai, juga salak. Buah-buahan ini umumnya tumbuh berkelompok secara alamiah di hutan di sekitar kampung, tidak dimiliki orang perorang (khususnya durian dan salak dimiliki oleh persukuan secara longgar).  Mungkin karena struktur tanahnya, maka durian Pemandang yang kemudian terkenal dengan merek dagang “Durian Mandang” memiliki keistimewaan dengan rasanya yang enak, eksotik, dengan aroma yang sangat tajam.

Di kota terdekat, Ujung Batu misalnya, durian Mandang menjadi idola dan dicari pembeli. “Durian Tapak”, “Durian Bohong”, “Durian Jantung”, “Durian Tombago”  dari Pemandang tak kalah kualitasnya dibanding durian Montong, yang berasal dari Bangkok, Thailand. Bagi orang kota yang pernah mencoba durian Montong dari Bangkok, durian Mandang bahkan diakui lebih unggul karena memiliki rasa lebih manis, pulen dan aroma harum genuine aduhai.

Durian adalah “icon” Pemandang. Dulu, bila musim durian tiba, berton-ton durian menumpuk, tidak termakan, dan tak lagi berharga. Di puncak panen, penduduk hanya memilih durian terbaik dari yang terbaik, selebihnya dibuat asam durian (tempoyak) atau dibuat lempuk (dodol) durian. Asam durian disimpan unik dalam bambu betung dan dikubur dalam tanah selama beberapa hari, dan jadilah asam durian kualitas terbaik di dunia. Sekarang, dengan semakin baiknya prasarana jalan, bila musim durian tiba, orang-orang kota berdatangan ke Desa Pemandang untuk membeli durian. Kendaraan roda empat pun lalu-lalang siang malam. Durian Mandang yang dulu tak bernilai ekonomi, kini sudah bisa dijual 20-30 ribu per buah. Orang Mandang tersenyum.

The best of the best dari durian Mandang adalah durian Tapak. Durian Tapak berukuran agak besar, durinya lebar, kulitnya tebal, isinya juga tebal dan kuning. Mungkin karena kulitnya tebal maka durian Tapak biasanya baru matang setelah durian lain matang semua alias langkas. Masaknya durian Tapak adalah klimaks dari musim durian di Desa Pemandang.

Durian Bohong adalah kompetitor durian Tapak. Cita rasanya tak kalah. Durian Bohong hanya kalah dalam penampilan. Bentuknya tidak atraktif seperti durian Tapak. Durian Bohong memperoleh nama yang kurang adil.  Hanya karena penduduk  merasa dibohongi, maka diberi nama durian Bohong. Durian ini dianggap pembohong karena ukurannya tak sebanding dengan isinya yang sedikit. Dalam satu ruang buah, isinya umumnya hanya satu nabu (satu biji), tapi kualitasnya, amboi, dagingnya tebal, bijinya kecil, dan rasanya kelas satu.

Pohon durian Mandang umumnya tinggi menjulang, bahkan ada yang berumur ratusan tahun. Lingkaran batangnya bisa mencapai dua depa orang dewasa, bahkan bisa lebih. Oleh karena itu hanya  kera atau beruk yang mungkin memanjatnya. Dan oleh karena itu pulalah, durian Mandang masak jatuh dari pohon. Tak dikenal istilah durian masak diperam. Durian yang sudah masak akan jatuh dengan sendirinya.

Panen durian Mandang unik. Durian masak yang jatuh dari pohonnya bebas milik siapa saja. Di sini berlaku peraturan tak terulis, siapa pun yang menemukan durian masak yang jatuh tersebut, dialah yang jadi pemilik, biar anak kecil sekalipun yang menemukannya. Orang dewasa yang bertangan hampa akan berlapang dada mengatakan, “Itu rezekmu, ambillah”. Kalau kebetulan ada dua orang atau lebih yang secara bersamaan menemukan dan memegang durian tersebut, maka pemenangnya adalah yang terpegang tampuk durian.

Musim durian di Pemandang tidak hanya menghadirkan kegembiraan dan juga penghasilan. Musim durian juga mengajarkan nilai-nilai kebersamaan dalam masyarakat, saling menghargai, tetapi sekaligus juga saling berkompetisi secara fair. Nilai sportivitas dijunjung tinggi. Di samping itu durian bagi masyarakat Pemandang juga mitos; bila masyarakatnya tidak saling menghormati dan sering melakukan hal-hal yang tidak senonoh, maka duriannya tak akan berbuah. Bila ingin durian berbuah setiap tahun jangan berbuat hal yang tidak patut. (*)

** Mantan Ketua DPRD Riau, Putra Asli Pemandang

Editor: Raya Desmawanto Nainggolan
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help