TribunPekanbaru/

Tour de Borneo Jelajah 2335 Km

Tasman dan Syaiful Mengganjal Perut di Pasar Terapung

Di dalam perahu terlihat hasil hasil ladang mereka seperti pisang, ubi, timun, jeruk, sayur, ayam. Ada juga perahu yang hanya menjual kuliner

Tasman dan Syaiful Mengganjal Perut di Pasar Terapung
Foto/Tasman jen
Tasman jen, Syaiful dan komunitas sepeda dari banjarmasin di pasar terapung Lok Baintan 

Mulai Kamis 13 Oktober 2016, Tasman Jen (60), salah seorang personel Trio Lisoi memulai penjelajahannya dalam Tour de Borneo atau Borneo Long Distance Cycling. Bersama Syaiful dari Komunitas Sepeda Pekanbaru Bikepacker, mereka akan melintasi rute sepanjang 2.335 Km di pulau terbesar ketiga di dunia itu. Berikut catatan perjalannya yang dituliskan Tasman Jen.

PADA tanggal 5 November 2016, selesai sholat Subuh kami langsung persiapkan sepeda untuk menuju pasar terapung Lok Baintan, sungai Martapura di kabupaten Banjar. Pasar terapung di lok Baintan ini masih natural atau bukan hasil rekayasa pemerintah untuk wisata seperti halnya di pasar terapung di Sirin di kota Banjarmasin.

Kita bisa naik perahu kira-kira setengah jam dari Banjarmasin ke Lok Baintan atau lewat jalan darat yang agak jauh dan sulit ditempuh. Tapi tidak ada salahnya kami mencoba ke situ bersepeda melalui jalan tradisional.

Kawan-kawan pesepeda Banjarmasin menelpon kami untuk segera berangkat agar kami sempat ke pasar tradisional tersebut sebelum bubar jam 9 pagi. Jam 6 pagi kami sudah meluncur dengan sepeda tanpa pannier dari jl Raya Beruntung menuju Lok Baintan sejauh lebih kurang 20 Km.

Jalan aspal berakhir setelah 10 menit perjalanan lalu diganti dengan jalan tanah berkerikil dan berbatu batu pecah/runcing sebesar tinju. Sepeda bergetar-getar sewaktu roda menggelinding diatas batu batu tersebut. Masuk dan keluar desa dengan kecepatan 10 Km per jam cukup kencang bagiku saat itu.

Lebih kurang 1 jam bersepeda di jalan berbatu selebar 2 meter. Lampu sepeda yang aku letakan di tas depan hand bar sempat copot kena getaran sepanjang jalan. Sementara sepeda pak Sudirman penunjuk jalan kami putus rantai. Akhirnya jam 8 pagi kami sampai di desa Lok Baintan kabupaten Banjar.

Kiri kanan jalan bangunan rumah penduduk yang sederhana umumnya dari kayu dan kelihatan lingkungannya bersih. Penduduknya umumnya muslim dan agak pemalu tapi ramah menyapa.

Kami menuju sebuah barak atau rumah penduduk yang terletak persis menjorok ke sungai Martapura. Teman kami dari Banjarmasin mencarter satu perahu untuk kami berperahu ke tengah pasar terapung yang sedang ramai tersebut.

Di sungai yang lebar itu terlihat perahu-perahu dengan pedagang pedagangnya yang semuanya perempuan yang berjilbab. Di dalam perahu terlihat hasil hasil ladang mereka seperti pisang, ubi, timun, jeruk, sayur, ayam. Ada juga perahu yang hanya menjual kuliner seperti kopi dan teh panas lalu ada juga kue kue basah, serta nasi kebuli dan lain-lain.

Halaman
12
Editor: harismanto
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help