TribunPekanbaru/

Tour de Borneo Jelajah 2335 Km

Tasman dan Syaiful Menjajal Bamboo Rafting di Lok Sado

Kita mengikuti bamboo rafting dan melihat objek wisata lainnya seperti air terjun Haratai.

Tasman dan Syaiful Menjajal Bamboo Rafting di Lok Sado
Facebook Tasman jen
Tasman Jen dan Syaiful menjajal Bamboo Rafting di Lok Sado 

Mulai Kamis 13 Oktober 2016, Tasman Jen (60), salah seorang personel Trio Lisoi memulai penjelajahannya dalam Tour de Borneo atau Borneo Long Distance Cycling. Bersama Syaiful dari Komunitas Sepeda Pekanbaru Bikepacker, mereka akan melintasi rute sepanjang 2.335 km di pulau terbesar ketiga di dunia itu. Berikut catatan perjalannya yang dituliskan Tasman Jen.

PUKUL 07.00 pagi, kami menelusuri kota Banjarmasin ke luar dari jalan Beruntung Jaya lalu masuk jalan Jend Ahmad Yani. Jalan sudah mulai ramai oleh kendaraan. Beberapa teman komunitas menelpon kami minta maaf tidak bisa melepas. Kami memaklumi karena kesibukan mereka bekerja di hari pertama minggu itu.

Target kami hari ini adalah daerah Rantau yang berjarak kira kira 110 Km dari kota Banjarmasin. Jalan datar dan mulus serta desa dan perumahan penduduk sepanjang jalan membuat kayuhan kami terasa tidak membosankan.

Sekitar jam 12 siang kami sudah mencapai sejauh 70 Km. Lalu kami berhenti di daerah Matraman untuk sholat zuhur lalu makan di warung jawa dekat masjid. Tiba-tiba hujan lebat turun mengguyur. Kami tunda keberangkatan sampai hujan reda.

Hujan mulai reda tapi masih rintik-rintik dan jam sudah menunjukkan pukul 13.45 siang. Kami meneruskan kayuhan sepeda. Jalan yang umumnya datar dan tidak ada tanjakan bisa mempercepat rata rata 25 Km/jam. Di satu tikungan yang yang cukup tajam kami dijebak kemacetan.

Hujan turun makin deras. Kami melewati kemacetan dengan melewati bahu jalan dan sela-sela kendaraan yang antre. Ternyata di depan ada tabrakan yang sewaktu aku lewati sedang dilakukan evakuasi korban.

Lepas dari kemacetan sepeda kembali aku kebut mengingat hari terasa semakin gelap. Kami sampai di Rantau jam 4 sore. Di pintu gerbang bundaran kota Rantau sudah menunggu teman komunitas sepeda Rantau Oca Nirmalawati yang dari pagi memantau keberadaan kami.

Malam ini kami putuskan untuk menginap di penginapan tanpa nama dengan tarif Rp 175 ribu. Alhamdulillah penginapan yang sederhana ini terasa nyaman sekali karena sudah mandi dan badan sudah kembali bersih setelah hampir seharian bersepeda dan diguyur hujan.

Keesokan harinya, dengan dilepas oleh beberapa komunitas sepeda Rantau lalu kami melanjutkan perjalanan ke Lok Sado. Lok Sado adalah taman nasional di sebuah kecamatan kecil di kaki Pegunungan Meratus. Tempat ini menawarkan begitu banyak pesona keindahan alam bagi para pencinta traveling.

Halaman
12
Editor: harismanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help