Suara Meriam Tanda Gunung Sahilan Dipimpin Raja yang Baru

Ledakan keras suara Meriam Bambu atau Lelo (bahasa Kampar) menggetarkan sekitar Istana Kerajaan Gunung Sahilan

Suara Meriam Tanda Gunung Sahilan Dipimpin Raja yang Baru
Tribun Pekanbaru/Nando
Tengku Yang Dipertuan M. Nizar foto bersama Gubernur Riau dan Pj. Bupati Kampar setelah dinobatkan menjadi Raja Gunung Sahilan di Istana Kerajaan Gunung Sahilan, Minggu (22/1/2017). 

Laporan wartawan Tribun Pekanbaru, Fernando Sihombing

TRIBUNPEKANBARU.COM, GUNUNG SAHILAN - Ledakan keras suara Meriam Bambu atau Lelo (bahasa Kampar) menggetarkan sekitar Istana Kerajaan Gunung Sahilan, Minggu (22/1/2017). Suara Lelo menjadi pertanda Gunung Sahilan sudah mendapat raja yang baru.

Tengku Muhammad Nizar dinobatkan sebagai Raja Gunung Sahilan yang baru. Kerajaan ini sebelumnya mengalami kekosongan gelar raja sejak 1978. Artinya, Nizar mengakhiri kekosongan itu selama kurang lebih 39 tahun.

Nizar sebagai pewaris kerajaan diiringi suara Lelo saat menduduki kursi singgasananya. Mulai hari itu, gelar Tengku Yang Dipertuan Muhammad Nizar melekat di dirinya. Penobatan disaksikan bukan saja ribuan rakyat kerajaan. Pun kerajaan tetangga, seperti Pagaruyung (Sumatera Barat) dan Kerajaan Bone (Sulawesi Selatan).

Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman, Ketua DPRD Riau Septina Primawati Rusli, Ketua Lembaga Ada Melayu (LAM) Riau, Al Azhar, Penjabat Bupati Kampar Syahrial Abdi, Ketua DPRD Kampar Ahmad Fikri dan Ninik Mamak se-Kampar turut hadir.

Prosesi penobatan itu sudah dimulai sejak Sabtu, 21 Januari 2017. Seperti menyambut pesta, panitia atau pengurus rumah tangga kerajaan mencuci benda-benda pusaka. Di tempat terpisah, para Khalifah menggelar rapat penetapan pewaris gelar raja di Kuntu Darussalam.

Setelah itu, raja yang baru diarak dengan perahu di aliran Sungai Kampar Kiri. Prosesi ini seurut dengan aslinya sejak dahulu kala. Pada generasi ini, penabalan didaulat oleh Raja Adat Tengku Arial yang kini menjabat Asisten III Sekretariat Daerah Kabupaten Meranti.

Berdasarkan catatan kerajaan, Nizar adalah raja kesebelas sejak Gunung Sahiilan didirikan pada Abad 16 silam. Sebelum Nizar, pewaris tahta dipegang oleh Raja Ghazali sejak tahun 1939.

Kerasaan ini berdiri dengan raja pertama, Tengku Yang Dipertuan Bujang Sati atau Sutan Pangubayang dari Kerajaan Pagaruyung, tahun 1700-1740. Pada penabalan itu, silsilah kerajaan dengan sebutan lainnya Rantau Kampar Kiri ini dibacakan.

Pj Bupati Syahrial Abdi mengaku bangga dengan Kerajaan Gunung Sahilan yang masih terjaga dan terus dipertahankan. Apalagi, kerajaan ini berhubungan baik dengan kerajaan tetangga.

"Ini artinya orang-orang tua kita dulu telah menjalin sinergitas se-nusantara. Tentunya harus menjadi budaya kita untuk saling berhubungan," kata Abdi.‬ Ia berharap, pengetahuan tentang sejarah kerajaan tidak terputus dan terus diwariskan secara utuh ke generasi berikutnya.

Abdi menuturkan, Istana Gunung Sahilan merupakan ikon wisata di Kampar dan Riau. Oleh karena, kata dia, harus dikembangkan. (*)

Penulis: nando
Editor: Muhammad Ridho
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help