TribunPekanbaru/

Kapan Pramugari Garuda Indonesia Berganti Warna Seragam?

"Ketika kebutuhan Maitre d'Cabin itu meningkat, kita mulai menilai siapa sih (pramugari) yang cocok. Siapa yang

Kapan Pramugari Garuda Indonesia Berganti Warna Seragam?
WAWAN H PRABOWO
Para pramugari Garuda Indonesia melakukan performer usai menerima penghargaan Worldâ??s Best Cabin Staff dari Skytrax yang berbarengan dengan ajang pameran kedirgantaraan Farnborough Air Show 2016 di Farnborough, Inggris, Selasa (12/7). Penghargaan ini merupakan yang ketiga kalinya bagi Garuda Indonesia. 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Setiap pekerjaan tentu punya jenjang karir, tak terkecuali pramugari. Para pramugari Garuda Indonesia memiliki empat tingkatan jenjang karir. Mulai dari pramugari junior, pramugari senior, Maitre D'Cabin, sampai Flight Manager Service.

"Kenaikan kelas (pramugari) itu harus mengikuti training. Untuk junior warnanya hijau toska dan oranye. Misalnya dua tahun pertama sesuai requirement, junior jadi senior," kata salah satu Flight Service Manager (FMS) Garuda Indonesia, Hastari Agustien saat berbincang dengan KompasTravel di sela-sela Garuda Indonesia Travel Fair (GATF) 2017 di Jakarta, Jumat (10/3/2017).

FMS sendiri adalah jenjang tertinggi dalam dunia pramugari. FMS di kabin pesawat ditandai dengan seragam berwarna biru.

"Junior dan senior itu warna bajunya hijau toska dan oranye, fungsinya sebagai pelaksana dalam pesawat. Jika naik lagi menjadi ungu lyla, itu berarti koordinator di setiap kelas seperti Business Class, Economy Class, dan First Class," kata Hastari.

Posisi selanjutnya setelah pramugari senior adalah Maitre d'Cabin (MDC). Posisi itu ditandai oleh seragam warna ungu lyla.

"Ketika kebutuhan Maitre d'Cabin itu meningkat, kita mulai menilai siapa sih (pramugari) yang cocok. Siapa yang dibutuhkan di setiap kelas," ujar Hastari.

 Menurut Hastari, setiap kenaikan jenjang dari junior ke senior memerlukan sistem penilaian tersendiri. Ia menyebut jika pramugari junior selama dua tahun pertama sesuai permintaan oleh perusahaan, maka ia bisa naik jenjang.

"Asal mereka dianggap qualified sesuai training dan persyaratan kita, kemudian mereka bisa naik jenjang," tambahnya.

Yang berbeda adalah ketika dari jenjang MDC menuju FSM. FSM memerlukan kompetensi dan standar tinggi.

"Mereka (MDC) yang kompeten dan mampu memenuhi persyaratan tertentu bisa bidding menjadi FSM. Kemudian FSM itu ada tes dan lain-lain. Kalau lulus tes, masuk pendidikan dan lulus pendidikan, bisa jadi FSM," ujar Hastari. (*)

Editor: Raya Desmawanto Nainggolan
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help