TribunPekanbaru/

Jessica Berharap Mukjizat di MA

Saat itu, terpidana kasus tewasnya Wayan Mirna Salihin tersebut menangis. Jessica pun sempat bertanya kenapa kemungkinan besafr bandingnya

Jessica Berharap Mukjizat di MA
Warta Kota/Junianto Hamonangan
Jessica Iskandar menggunakan hak suaranya di Pilkada DKI 2017 

TRIBUNPEKANBARU.COM, JAKARTA -- Terpidana kasus pembunuhan kopi sianida, Jessica Kumala Wongso, sedih dan menangis karena harapannya ada mukjizat di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, tak terwujud. Hakim Pengadilan Tinggi menolak banding terpidana 20 tahun penjara itu.

Kondisi Jessica yang berbalut kesedihan diungkap penasihat hukum, Otto Hasibuan, saat menjelaskan reaksi Jessica atas putusan Pengadilan Tinggi. "Dia sehat, (tapi) sangat sedih sekali, dia nangis," kata Otto, Senin (13/3).

Otto mengaku sudah memprediksi Pengadilan Tinggi (PT) DKI akan menolak bandingnya. Otto pun jauh-jauh hari sudah mengingatkan Jessica untuk tidak berharap dari proses banding.

Saat itu, terpidana kasus tewasnya Wayan Mirna Salihin tersebut menangis. Jessica pun sempat bertanya kenapa kemungkinan besafr bandingnya ditolak Pengadilan Tinggi DKI Jakarta.

Untuk menenangkan, Otto pun menyatakan semoga ada mukjizat pada proses banding. "Saya bilang, mukjizat bisa terjadi," kata Otto. "Ternyata nggak terjadi. Kalau di Mahkamah Agung (MA) sungguh-sungguh kami berharap," kata Otto.

Otto menjelaskan, jauh-jauh hari ia mengingatkan Jessica untuk tidak menaruh harapan terlalu besar pada proses banding di Pengadilan Tinggi DKI. Nasihat itu ia sampaikan berdasarkan pengalamannya sebagai lawyer.

Otto menyatakan, sangat sulit untuk mendapatkan hasil yang memuaskan ketika mengajukan banding pada tingkat Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. "Berharap boleh, tapi jangan terlalu banyak. Pengalaman saya sebagai lawyer, tidak dapat (hasil) banyak di PT," ungkapnya.

Jessica dijatuhi vonis oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada tanggal 27 Oktober 2016 lalu.
Jessica Kumala Wongso dijatuhi hukuman 20 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Oktober 2016.

Hakim menilai Jessica terbukti melakukan perbuatan seperti yang dituduhkan jaksa yakni pembunuhan berencana terhadap rekannya, Wayan Mirna Salihin. Modusnya adalah mencampurkan racun sianida pada minuman es kopi vietnam pesanan Mirna.

Penasihat hukum Jessica menilai kliennya tidak bersalah. Apalagi, ada kelemahan bukti-bukti yang disertakan pada surat dakwaan. Di antaranya adalah tidak ada proses otopsi terhadap jenazah Mirna. Padahal, pada kasus pembunuhan, hasil otopsi merupakan alat bukti yang sangat penting. (*)

Editor: Raya Desmawanto Nainggolan
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help