Wanita Lebih Berisiko Depresi Karena Ponsel

Peneliti mengungkapkan, bahwa gadget membangkitkan hormon rasa bahagia. Inilah yang bisa menyebabkan seseorang menjadi adiktif dan memerpendek rentang

Wanita Lebih Berisiko Depresi Karena Ponsel
Syda Productions/Shutterstock
Ilustrasi 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Wanita yang ketergantungan pada smartphone berisiko mengalami depresi. Ini disebabkan karena aplikasi yang ada pada ponsel selalu memberikan kepuasan.

Peneliti mengungkapkan, bahwa gadget membangkitkan hormon rasa bahagia. Inilah yang bisa menyebabkan seseorang menjadi adiktif dan memerpendek rentang perhatian.

Penelitian menemukan, jika seseorang tak pernah lepas dari ponselnya bisa jadi ini merupakan gejala nomophobia, kondisi di mana seseorang menjadi begitu takut dan hampa tanpa ponselnya.

Para peneliti dari Binghamton University, New York percaya bahwa adiksi adalah efek terburuk di masa depan.

Penulis studi Dr Isaac Vaghefi mengatakan, bahwa ponsel telah menjadi alat pemberi kepuasan dalam waktu singkat.

“Neuron tak lagi aktif dan dopamin terus dilepaskan. Dari waktu ke waktu, ini akan membuat kita selalu menginginkan respon yang cepat dan kepuasan segera.”

Proses ini juga membuat rentang perhatian menjadi pendek dan terus semakin pendek, sehingga rentan membuat seseorang merasa lebih cepat bosan.

“Saya prediksikan adiksi pada teknologi ini akan membuat industri teknologi berlanjut meningkatkan kualitas aplikasi, games, dan pengembangan lainnya pada gadget demi memastikan para penggunanya memiliki ketertarikan dalam waktu lama,” jelas Vaghefi.

Para peneliti melibatkan 182 mahasiswa dan meminta mereka melaporkan kebiasaan sehari-hari dalam penggunaan smartphone.

Kemudian peneliti membagi mereka ke dalam lima kelompok sesuai dengan responnya, yaitu bijaksana, regular, sangat sering, fanatik dan kecanduan.

Halaman
12
Editor: Teddy Yohannes Tarigan
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help