TribunPekanbaru/

Jelang May Day, Komunitas Riau Membaca Gelar Diskusi Publik Bersama Serikat Buruh

Komunitas Riau Membaca (KRM) mengajak serikat buruh dan serikat pekerja untuk berdiskusi bersama pemateri

Jelang May Day, Komunitas Riau Membaca Gelar Diskusi Publik Bersama Serikat Buruh
Istimewa
Komunitas Riau Membaca menggelar diskusi mengangkat tema Peranan Tenaga Kerja Dalam Mendorong Investasi dan Stabilitas Ekonomi ini menampilkan KadisNaker Trans Provinsi Riau, Dir Reskrimsus Polda Riau, Kombes Eddizon Iris, Aris Aruna dari Apindo dan Dr Futhriyatus Solihah dari UIR, Kamis (20/4/2017) kemarin. 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Kesejahteraan buruh masih menjadi mimpi yang tak kunjung terwujud. Hak-hak buruh yang tertuang dalam undang-undang yang diimplementasikan lewat upah minimum juga tinggal simbol saja.

May day yang idealnya menjadi 'lebaran' kaum buruh tak kunjung datang. Setiap tahun selalu menjadi aksi unjuk rasa menuntut hak yang tak kunjung terwujud.

Komunitas Riau Membaca (KRM) mengajak serikat buruh dan serikat pekerja untuk berdiskusi bersama pemateri yang berkompeten. Direktur Komunitas Riau Membaca Tatang Yudiansyah mengatakan, membicarakan pekerja atau buruh ini tidak ada tuntasnya. Selagi hak-hak buruh belum terpenuhi maka kesejahteraan jauh panggang dari api.

"Kami membuka ruang bagi kawan-kawan buruh untuk berdiskusi dan mengapresiasi aspirasi buruh karena narasumber yang kita hadirkan merupakan representasi dari pemerintah dan pengusaha",” kata Tatang dalam sambutan diskusi yang digelar Kamis (20/4/2017) kemarin di Whiz Hotel, Pekanbaru.

Diskusi yang mengangkat tema Peranan Tenaga Kerja Dalam Mendorong Investasi dan Stabilitas Ekonomi ini menampilkan KadisNaker Trans Provinsi Riau, Dir Reskrimsus Polda Riau, Kombes Eddizon Iris, Aris Aruna dari Apindo dan Dr Futhriyatus Solihah dari UIR.

Dr Fithriyatus mengatakan semua pihak harus memerankan fungsinya sebaik-baiknya. Pengusaha harus paham dengan kewajibannya sesuai dengan UU Ketenagakerjaan No 13 Tahun 2003 bahwa pekerja adalah mitra.

Demikian pula dengan Aris Aruna. Bagi dirinya sebagai pengusaha tidak berani menzolimi pekerjanya.

“Jika gaji terlambat saya akan meminta maaf kepada pekerja saya,” kata Aris.

Menghadapi May Day, langkah Polri mengedepankan persuasif dan humanis.

"Mari sama-sama kita merayakan May Day dengan meriah bukan dengan pengerahan massa. Jika persepsi di daerah kita positif maka investasi akan masuk. Saya yakin buruh kita di Riau tidak akan anarkis," ungkap Edizzon.

Diskusi mengalir ke rumusan aksi May Day yang lebih humanis. Muncul gagasan aksi buruh pada saat May Day lebih spiritual seperti syukuran dan doa bersama. Aksi ini lebih konkrit dan menampilkan kesan yang sejuk di masyarakat.

Diskusi berjalan santai dan interaktif, peserta diskusi tampak bersemangat dalam mengajukan pertanyaan dan mengemukakan pendapat. (*)

Editor: Raya Desmawanto Nainggolan
Ikuti kami di

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined property: stdClass::$video

Filename: articles/video_pilihan.php

Line Number: 18

KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help