TribunPekanbaru/

Kampar

Baru April, Sudah 214 Pasutri di Kampar Bercerai

Terdiri dari cerai gugat 48 perkara dan cerai talak 24 perkara. Sedangkan Maret, ada 78 perkara. Cerai gugat 54 perkara dan cerai talak 24 perkara.

Baru April, Sudah 214 Pasutri di Kampar Bercerai
Ilustrasi/Antara
Ilustrasi Cerai

Laporan wartawan Tribun Pekanbaru, Nando

TRIBUNPEKANBARU.COM, BANGKINANG - Kasus perceraian di Kampar tergolong tinggi. Ini berdasarkan perkara perceraian yang ditangani Pengadilan Agama Bangkinang. Baru sampai April saja, PA Kelas I B sudah menangani 214 perkara.

Panitera Muda Hukum PA Bangkinang, Nurazmi menyebutkan, jumlah perkara dihitung dari Januari hingga Maret. Gugat cerai adalah yang terbanyak dengan jumlah 148 perkara. Disusul cerai talak sebanyak 66 perkara.

"Kelihatannya meningkat dari bulan ke bulan," kata Nurazmi, Selasa (25/4/2017). Ia memaparkan, pada Januari tercatat 64 perkara. Terdiri dari cerai gugat 46 perkara dan cerai talak 18 perkara.

Pada Februari, terdapat 72 perkara. Terdiri dari cerai gugat 48 perkara dan cerai talak 24 perkara. Sedangkan Maret, ada 78 perkara. Cerai gugat 54 perkara dan cerai talak 24 perkara.

Nurazmi membandingkan jumlah perkara pada tahun sebelumnya. Pada tahun 2015, kata dia, PA Bangkinang menangani 907 perkara perceraian. Naik sedikit pada tahun 2016 menjadi 918 perkara.

Menurut Nurazmi, jumlah perkara cerai gugat cenderung lebih banyak daripada cerai talak. Tahun 2015, cerai gugat 638 perkara dan cerai talak 269 perkara. Tahun 2016, cerai gugat 668 perkara dan cerai talak 250 perkara.

"Memang lebih banyak perceraian yang diajukan pihak istri," jelas Nurazmi. Seperti diketahui, cerai gugat adalah perkara yang diajukan oleh istri. Sedangkan cerai talak adalah sebaliknya.

Lebih jauh, Nurazmi menjelaskan, rata-rata pihak yang berperkara mengaku hubungan tidak harmonis. Penyebabnya beragam. Di antaranya, ekonomi, perselingkuhan dan lainnya.

Menurut dia, ketidakharmonisan pasangan suami istri dalam setiap perkara berpangkal dari pertengkaran. Suami berselingkuh dan masalah ekonomi yang melilit keluarga menimbulkan pertengkaran.
‬‪

"Di samping itu, penyakit yang dialami suami, juga menjadi faktor istri menggugat cerai," ujar Nurazmi. Ia mencontohkan, suami mengalami kemandulan dan mengidap penyakit kelamin. "Tapi kalau alasannya karna penyakit, sulit dibuktikan. Harus diperiksa," pungkasnya. (*)

Penulis: nando
Editor: M Iqbal
Ikuti kami di

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined property: stdClass::$video

Filename: articles/video_pilihan.php

Line Number: 18

KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help