TribunPekanbaru/

Bandar Bakau Jadi Wisata Bahari di Dumai

Menepis Mitos Hantu Bandar Bakau

Bandar Bakau berupa hamparan hutan Mangrove ini memiliki luas mencapai 20 hektare hingga batas timpas surut terendah Muara Sungai Dumai.

Menepis Mitos Hantu Bandar Bakau
TribunPekanbaru/Fernando
Pemandangan di Bandar Bakau, Kota Dumai. 

Laporan Wartawan Tribun Pekanbaru, Fernando Sikumbang
TRIBUNPEKANBARU.COM, DUMAI - Selama ini, Dumai lebih dikenal sebagai Kota Pelabuhan dan Industri. Sebab kota yang berjarak sekitar 176 Km dari Kota Pekanbaru ini menjadi satu pusat industri di Pesisir Timur Sumatera. Namun di balik deru mesin industri dan aktifitas pelabuhan, ternyata Kota Dumai memiliki satu objek wisata yang siap menyapa nusantara.

Suasana sunyi dan jauh dari keramaian begitu terasa saat mengunjungi Bandar Bakau. Rombongan Safari Jurnalistik PWI tahun 2017 pertengahan April lalu sempat merasakan sensasi berbeda ketika mengunjungi Hutan Mangrove di Jalan Nelayan Laut, Kota Dumai. Jaraknya berkisar 3 Km dari Pusat Kota Dumai, bisa dicapai dengan kendaraan roda dua atau roda empat.

Pengunjung tengah melangkah di titian Bandar Bakau Dumai
Pengunjung tengah melangkah di titian Bandar Bakau Dumai (TribunPekanbaru/Fernando)

Apalagi akses jalan ke lokasi sudah cukup mulus. Di balik rimbunnya aneka jenis Pohon Bakau ini tersimpan Legenda Putri Tujuh. Kisah tentang Tujuh Putri Ratu Cik Sima dari Kerajaan Sri Bunga Tanjung memang melekat di lokasi tersebut.

Saat memasuki Kawasan Konservasi Bandar Bakau, para pengunjung diajak untuk melihat kembali sepotong kisah Pangeran Empang Kuala, yang punya kisah tragis di Bandar Bakau.

Setelah murka saat pinangannya ditolak satu dari Putri Tujuh, Mayang Mengurai. Ketika menyusuri titian di Situs Legenda Putri Tujuh tersebut, hamparan Hijau Daun Bakau ada di kiri dan kanan mengingatkan tentang kisah tapak peristiwa wafatnya pangeran peminang, yang berhajat terhadap Putri Tujuh itu.

Awalnya Sang Pangeran masuk dari Muara Sungai Dumai bersama pasukannya. Ternyata ketika sedang rehat di rindangnya Pohon Bakau, ia malah tertimpa Buah Bakau yang dikendalikan kekeramatan Jin. Jin yang bersemayam di Hulu Sungai Dumai atau dikenal dengan Bukit Jin. Kisah magis di Bandar Bakau tidak cuma itu saja.

Pengelola Bandar Bakau, Darwis Mohammad Saleh bertutur dulunya masyarakat sekitar pernah percaya Mitos Hantu Bandar Bakau. Sehingga orangtua di sekitar Jalan Nelayan Laut, Kelurahan Pangkalan Sesai, Kecamatan Dumai Barat tidak mengizinkan anak-anak bermain di sana.

Namun perlahan Mitos Hantu di Bandar Bakau itu sirna. Terutama ketika pria 47 tahun ini menggagas berdirinya Perpustakaan Intan Payung di dalam areal Bandar Bakau. Ajang kreatifitas juga kerap digelar di lokasi ini.

Seperti Sanggar Seni dan Sekolah Alam yang dipayungi Pecinta Alam Bahari (PAB). Sekolah Alam sendiri sudah digagas sejak Oktober 2010. Para siswa setiap hari Minggu diajak untuk lebih dekat dengan Alam. "Ada juga Festival Layang-Layang yang rutin digelar setiap tahun," ujar Darwis, akhir pekan lalu.

Bandar Bakau berupa hamparan hutan Mangrove ini memiliki luas mencapai 20 hektare hingga batas timpas surut terendah Muara Sungai Dumai. Padahal awalnya luas Bandar Bakau diakui Darwis hanya 2,5 hektare.

Halaman
1234
Penulis: Fernando
Editor: harismanto
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help