TribunPekanbaru/

Pasang Surut Laut Dumai, Meng-kolam-kan Setengah Wilayah Kota

Terlebih kota Dumai didukung oleh 15 sungai, sehingga saat pasang terjadi, persoalan ini bisa teratasi dengan baik.

Pasang Surut Laut Dumai, Meng-kolam-kan Setengah Wilayah Kota
Facebook/Husnul Kausarian
Husnul Kausarian PhD, Ketua Interdiscipline & Integrated Research Center Universitas Islam Riau & Dosen Geologi Pemetaan Satelit di Universitas Islam Riau, alumni Program Doktor Pemetaan Geologi Satelit, Chiba University, Jepang. 

Oleh: Husnul Kausarian PhD,
Ketua Interdiscipline & Integrated Research Center Universitas Islam Riau &
Dosen Geologi Pemetaan Satelit di Universitas Islam Riau,
Alumni Program Doktor Pemetaan Geologi Satelit, Chiba University, Jepang

KETIKA menyempatkan diri pulang ke Dumai untuk menghadiri kenduri arwah ibu saya dan menyambut bulan puasa, secara kebetulan saya “disambut” oleh fenomena alam bulanan yang pasti dialami oleh setiap warga pesisir; pasang air laut. Namun kejadian fenomena alam ini, jika tidak ditangani dengan baik akan memberikan dampak negatif bagi wilayah yang tepat berada di pinggir pantai.

Salah satu kota di Provinsi Riau yang berhadapan langsung dengan tepian laut adalah kota Dumai. Kota ini merupakan kota strategis yang berada di pesisir utara pulau Sumatra, sehingga secara ekonomis memberikan harapan dan peluang bagi masyarakat untuk menetap dan beraktifitas di kota terbesar di Indonesia berdasarkan luas wilayahnya ini.

Persoalan muncul belakangan ketika aktifitas urbanisasi meningkat di kota Dumai, dengan tingginya aktifitas masyarakat dan pembangunan, memberikan dampak luar biasa terhadap persoalan lingkungan, terutama yang berkaitan dengan fenomena alam pasang surut air laut.

Masih jelas dalam ingatan saya ketika tumbuh di kota ini saat kecil dahulu, pasang air laut memang tidak bisa dihindari, menyebabkan banjir meski hujan tidak turun di kota Dumai. Namun kini persoalan itu semakin besar, dimana ketika saat terjadinya pasang surut, maka banjir pasang yang dulunya hanya berada di sekitar daerah muara sungai dan sekitar bibir pantai, kini meluas hingga ke sebagian besar wilayah kota.

Sebagai perbandingan, tempat saya tumbuh di kota ini adalah di jalan Sidorejo yang terletak di kecamatan Dumai Selatan, kelurahan Ratu Sima, yang merupakan wilayah selatan dari kota Dumai, dan posisi laut berada didepan kota Dumai di wilayah utara. Kini Jalan Sidorejo sebagiannya sudah terendam air pasang yang tingginya bisa mencapai betis orang dewasa.

Data satelit memperlihatkan Jalan Sidorejo secara garis lurus berjarak 2,5 kilometer dari laut kota Dumai, suatu jarak daratan yang cukup jauh dari bibir pantai, sebenarnya. Banjir pasang ini menjadi persoalan penting buat kota Dumai saat ini dalam usaha menyongsong sebagai tuan rumah Kota Industri Strategis Nasional.

Hasil pengamatan lapangan membuktikan saat terjadi pasang air laut, daerah setengah kota mulai dari kawasan muara hingga ke daerah bagian tengah kota sudah tenggelam. Jika dibandingkan dengan masa lalu (dalam hitungan 2 dekade), wilayah kota Dumai yang mengalami banjir akibat pasang air laut mengalami peningkatan, artinya sebaran wilayah yang terkena dampak banjir akibat pasang ini kini meluas hingga ke tengah kota.

Persoalan ini jika dibiarkan terus menerus akan membuat kota Dumai suatu hari nanti akan “tenggelam” ketika pasang air laut terjadi. Hitungan waktu ini tergantung dengan laju pertumbuhan pembangunan dan peningkatan urbanisasi di kota Dumai, apalagi sejak ditetapkan nya Dumai sebagai salah satu kota Industri Strategis Nasional, bukan tidak mungkin “tenggelam” nya kota Dumai akan semakin cepat.

Permasalahan
Sebagai kota yang berada di pesisir pantai, tentunya kota Dumai mengalami persoalan yang tak terlepas dari pengaruh pasang air laut. Persoalan ini juga dihadapi oleh kota-kota di belahan dunia lain, sebut saja kota Chiba di Jepang dan kota Amsterdam di Belanda, Goaldcoast di Australia dan lain-lain. Namun kota-kota di Negara maju tersebut tidak pernah mengalami banjir saat pasang laut terjadi. Hal ini tentu dipengaruhi oleh tata kelola pemukiman yang baik di kota-kota tersebut.

Halaman
12
Editor: harismanto
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help