TribunPekanbaru/

Sema Antau dan Nagoghi Malako Kociek

Ketika Rakyat Gunung Sahilan 76 Tahun Merindukan Datangnya Raja

Di rumah singgah raja di wilayah Khalifah Batu Sanggan, raja dan para petinggi istana berdiskusi dan melakukan

Ketika Rakyat Gunung Sahilan 76 Tahun Merindukan Datangnya Raja
Istimewa
Selama 76 tahun sejak tahun 1941, Kerajaan Gunung Sahilan di kecamatan Gunung Sahilan, Kabupaten Kampar, Riau, mengalami 'kekosongan kekuasaan'. Kerajaan ini tidak memiliki raja, sampai akhirnya pada bulan Februari 2017, putra mahkota yang merupakan putra dari raja terakhir Kerajaan Gunung Sahilan, Tengku Ghazali, dinobatkan menjadi raja baru Kerajaan Gunung Sahilan. 

TRIBUNPEKANBARU.COM, KAMPAR - Selama 76 tahun sejak tahun 1941, Kerajaan Gunung Sahilan di kecamatan Gunung Sahilan, Kabupaten Kampar, Riau, mengalami 'kekosongan kekuasaan'. Kerajaan ini tidak memiliki raja, sampai akhirnya pada bulan Februari 2017, putra mahkota yang merupakan putra dari raja terakhir Kerajaan Gunung Sahilan, Tengku Ghazali, dinobatkan menjadi raja baru Kerajaan Gunung Sahilan.

Kerajaan Gunung Sahilan pun kini menjalankan fungsinya kembali sebagai kerajaan sebagaimana mestinya dibawah pimpinan Raja H. Tengku Muhammad Nizar SH, M.Hum yang menjadi raja keduabelas bagi kerajaan ini.

Sejak dinobatkan menjadi raja dan mendapat gelar Yang Mulia Sultan Tengku M. Nizar Yang Dipertuan Agung, pun tidak berlama-lama untuk segera menjalankan tugas kerajaannya. Sebagai tugas pertamanya adalah melakukan pertemuan antara raja dan seluruh petinggi kerajaannya, seperti para khalifah, ninik mamak, hulubalang dan petinggi lainnya untuk mulai membicarakan agenda kerja kerajaan.

Marta Uli Emmelia, yang merupakan Ketua Komunitas Lestari dan Budaya Riau mendapatkan kehormatan menerima undangan dari Raja Tengku M. Nizar secara langsung untuk dapat hadir dalam pertemuan ini dan berkenalan dengan para petinggi kerajaan tersebut. Dalam pertemuan tersebut, Yang Mulia Tengku M. Nizar mengundang kembali komunitas kami untuk dapat mengikuti acara tersebut bertajuk "Sema Antau dan Nagoghi Pekan Malako Kociek", berlangsung pada tanggal 17-20 Mei 2017 lalu.

Bentuk acara tersebut pada tanggal 17-18, dimeriahkan dengan acara rakyat seperti pacu galah, mencoko ikan (menangkap ikan) di lubuk larangan, seni teater dari Akademi Kesenian Melayu Riau (AKNR), silat Bungo khas Sungai Sebayang dan acara tradisional lainnya.

Keesokan harinya, Yang Mulia Raja Gunung Tahilan, “turun dari singgasana” untuk bertemu langsung dengan rakyatnya. Sambutan berlangsung sangat meriah dan gegap gempita oleh rakyatnya, seolah-olah ada kerinduan terpendam, betapa masyarakat di Gunung Sahilan selama ini menantikan raja mereka yang terhenti di Raja Kesebelas pada tahun 1941 lalu.

Ada dua agendanya yakni “Sema Antau” dan “Nagoghi Pekan Malako Kociek”. Diawali dengan keberangkatan Sang Raja dan istri, Hj Lely Hayani yang bergelar permaisuri kerajaan Gunung Sahilan dari Pekanbaru menuju desa Tanjung Belit. Lalu dari sana, bersama para pengikutnya menaiki sampan kerajaan menyusuri Sungai Subayang menuju ke Desa Khalifah Batu Sanggan untuk menemui khalifah bersama ninik mamak selama lebih dari satu jam perjalanan.

Di rumah singgah raja di wilayah Khalifah Batu Sanggan, raja dan para petinggi istana berdiskusi dan melakukan salat Zuhur berjamaah, kemudian berangkat kembali menyusuri sungai menuju Desa Tanjung Baringin di wilayah Kampar Kiri Hulu.

Setibanya di Desa Tanjung Baringin, masyarakat tumpah ruah di pinggir sungai untuk melihat raja barunya. Jalan kecil menuju tengah desa begitu padat dengan iring-iringan. Naiknya raja ke daratan Desa Tanjung Baringin disambut dengan tarian selamat datang dan musik tradisional yang dimainkan oleh para anak muda.

Iring-iringan tersebut kemudian menuju ke sebuah rumah Persukuan Datuk Marajo untuk beristirahat sebentar sebelum melakukan makan siang bersama. Acara makan siang dihadiri oleh raja, khalifah, hulubalang, ninik mamak dan masyarakat ini, mengandung makna kebersamaan antara raja dengan rakyatnya.

Santap siang bersama dilakukan di sebuah tanah lapang, dua buah tenda dipasang menjadi pelindung dari terik matahari. Makanan yang tersedia terdiri dari menu-menu tradisional seperti sambal ikan pantau khas Sebayang. Acara makan siang ini tidak begitu lama, karena setelah itu, sang Raja kembali segera menaiki sampan kerajaan untuk melakukan acara Sema Antau yang akan dilakukan di wilayah sungai Subayang perbatasan Desa Tanjung Baringin dengan Desa Gajah Bertalut.

Menepi di perbatasan tersebut, raja dan para petinggi istana turun, lalu bersama-sama melakukan doa-doa keselamatan tolak bala yang dipimpin oleh alim ulama. Lalu raja menaiki sampan menyeberangi sisi sungai, titik lokasi untuk melakukan pelemparan kepala kerbau. Sebagai simbol ritual Sema Antau Nagowi.

Selesai acara ini, maka iring-iringan kembali ke Desa Tanjung Baringin untuk istirahat magrib dan makan malam. Kemudian dilanjutkan dengan rapat khalifah dengan pembesar raja yang dipimpin langsung oleh raja. Agendanya membahas perkembangan dan permasalahan di wilayah Khalifah Batu Sanggan. Acara ini berlangsung sampai pukul sebelas malam.

Paginyadilakukan kunjungan rumah Sompu (kepala suku) Desa Tanjung Baringin dengan tujuan mendengar masukan-masukan dari lima Persukuan Ninik Mamak.

Acara Sema Antau di Malako Kociek selesai dan ditutup pada Hari Minggu. Sebuah acara langka yang patut dilestarikan dan menjadi pengetahuan tradisi bagi masyarakat Riau pada khususnya. Serta menjadi keinginan pula untuk menjadikannya sebagai sebuah even pariwisata yang dapat mengundang banyak wisatawan. Ritul ini perlu 'diformat' agar makna slogan "Riau, The Homeland of Melayu' makin konkret dan membumi.

Dikirim oleh: Christian Panjaitan

Editor: Raya Desmawanto Nainggolan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help