TribunPekanbaru/

Maju Jadi Calon Ketua PWI Riau, Yanto Budiman: Kita Tak Bisa Lagi Bergantung Pada APBD!

"Anggota harus mendapat manfaat langsung atau tidak langsung. Ini akan kita terjemahkan dalam sejumlah program yang sudah kita rancang

Maju Jadi Calon Ketua PWI Riau, Yanto Budiman: Kita Tak Bisa Lagi Bergantung Pada APBD!
Istimewa
Ir Yanto Budiman Situmeng 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Wartawan senior Ir Yanto Budiman Situmeng memantapkan langkahnya untuk maju dalam pencalonan sebagai ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau dalam konferensi provinsi yang akan berlangsung pada 15 Juli mendatang di Pelalawan. Niatan maju tersebut tak sekadar untuk merebut 'kekuasaan' belaka, namun ia bertekad membawa perubahan dan terobosan di tubuh organisasi wartawan tertua di Indonesia tersebut.

"Dorongan dari rekan-rekan disertai oleh motivasi internal untuk membangun PWI ke arah yang lebih baik. Ada banyak hal yang harus dilakukan untuk kepentingan para anggota ke depan," kata Yanto Budiman, Sabtu (17/6/2017) soal alasannya maju dalam konferprov tersebut.

Menurutnya, apa yang sudah dilakukan oleh kepengurusan saat ini sudah cukup baik. Hal-hal positif yang sudah diraih akan diteruskan. Namun, beberapa pekerjaan rumah (PR) yang tertunda harus segera dieksekusi. PWI ke depan, jika amanah jabatan ketua diberikan kepadanya akan menitikberatkan pada kepentingan anggota PWI secara bersama-sama.

"Anggota harus mendapat manfaat langsung atau tidak langsung. Ini akan kita terjemahkan dalam sejumlah program yang sudah kita rancang," kata Yanto yang merupakan Pelaksana Tugas Bendahara PWI Riau saat ini.

Ia menjelaskan, setiap organisasi harus memberi manfaat nyata bagi anggotanya. Itu sebabnya, program-program ke depan akan dititikberatkan pada penguatan fungsi organisasi untuk memberikan pelayanan maksimal bagi anggota. Satu yang terpenting yakni menyangkut sejauh mana organisasi bisa memberikan kontribusi pada kesejahteraan para anggota.

"Titik berat saya adalah pada upaya mewujud-nyatakan manfaat organisasi pada anggota. Yakni PWI berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan para anggotanya. Ini sebenarnya problem mendasar yang harus dilakukan," tegasnya.

Salah satu di antaranya yakni dengan membangun badan usaha koperasi yang kuat, di antaranya melalui kegiatan simpan pinjam. Program ini katanya, didasari oleh suara akar rumput yang kerap mendapatkan hambatan masalah keuangan. Di satu sisi, para anggota memiliki penghasilan dengan melakukan profesi wartawan, namun pada waktu tertentu ada kebutuhan-kebutuhan mendadak yang tidak bisa dipenuhi.

"Lewat koperasi simpan pinjam ini, para anggota akan terbantu menghadapi masalah-masalah keuangan. Ini kan berkaitan langsung dengan kebutuhan riil. Tidak mungkin ada logika, jika logistik tidak ada," bebernya.

Selain itu, peningkatan profesionalisme wartawan anggota PWI juga akan terus dibangun. Melalui kerjasama dengan Dewan Pers dan organisasi lain, profesionalisme para anggota ditingkatkan lewat uji kompetensi wartawan secara periodik.

"Profesionalisme dan kesejahteraan itu setali tiga uang. Jadi, keduanya harus beriringan dibangun. Nah, PWI yang harus menggerakkannya.

Ia juga ingin menjadikan PWI sebagai rumah besar para wartawan dan jurnalis di Riau. Kantor PWI Riau yang berada di Jalan Arifin Ahmad akan dioperasionalkan secara terbuka bagi setiap insan pers dan pekerja pers.

"Baik itu anggota PWI atau bukan anggota PWI. Kantor PWI itu rumah besar wartawan di Riau. Kita senasib sepenanggungan," jelas Yanto yang berperan aktif dalam lobi penuntasan kantor PWI tersebut.

Nah, bukankah untuk menggerakkan organisasi dan mewujudkan program kerja mumpuni tersebut dibutuhkan dana? Yanto menegaskan, ke depan PWI tak boleh lagi bergantung pada bantuan dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). Pengurusnya ke depan akan secara kreatif dan inovatif menggali sumber-sumber pendanaan secara berkelanjutan dari beragam stakeholders yang ada di Riau.

"Kita tak boleh lagi bergantung ke APBD. APBD terus mendapat tekanan untuk pembiayaan publik. Aturan makin ketat soal pengaturan dana publik. Jadi, saya akan mencarikan sumber-sumber pendanaan taktis maupun strategis agar program yang sudah dirancang bisa diwujudkan. Potensi pendanaan tersebut besar asal dikelola secara transparan dan akuntabel," pungkasnya. (*)

Editor: Raya Desmawanto Nainggolan
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help