TribunPekanbaru/

Gelar Sosialisasi 4 Pilar, Rosti Uli Ajak Warga Riau Perkuat Toleransi Beragama

Menurut Rosti Uli Purba, usaha untuk membumikan nilai-nilai empat pilar harus terus dilakukan. Salah satunya

Gelar Sosialisasi 4 Pilar, Rosti Uli Ajak Warga Riau Perkuat Toleransi Beragama
Istimewa
Rosti Uli Purba di Gedung Senayan DPD RI 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Provinsi Riau adalah daerah yang majemuk dan menjadi miniatur Indonesia. Segala suku dan agama hadir dan turut berkontribusi dalam membangun Riau. Kesatuan dan toleransi antar warga yang berbeda suku dan agak harus diperkuat guna mencegah terjadinya gejolak sosial dalam masyarakat.

Hal tersebut disampaikan anggota Dewan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Rosti Uli Purba saat menggelar acara sosialisasi empat pilar kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika) di Gedung Debora, Jalan Soekarno-Hatta, Pekanbaru, Sabtu (17/6/2017) lalu. Hadir sejumlah masyarakat dari lapisan sosial dan agama yang antusias mengikuti kegiatan tersebut.

Menurut Rosti Uli Purba, usaha untuk membumikan nilai-nilai empat pilar harus terus dilakukan. Salah satunya dengan terus menyemai jiwa dan semangat kebersamaan dalam masyarakat. Terlebih, perbedaaan SARA kerap bisa dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk kepentingan pribadi yang mengganggu stabilitas masyarakat.

"Masyarakat jangan gampang diadu-domba oleh isu-isu SARA. Bahwa kita berbeda adalah merupakan fakta yang tak bisa dipungkiri. Namun dalam perbedaan itu sesungguhnya kita adalah bangsa yang kaya yang tidak ada duanya di bumi ini. Kita harus rawat dan syukuri keanekaragaman dalam masyarakat ini. Mari kita perkuat toleransi dalam kehidupan beragama," tegas Rosti Uli yang merupakan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dapil Provinsi Riau via rilis yang diterima Tribun.

Senator perempuan ini menegaskan, kesenjangan sosial memang bisa memicu terjadinya gejolak dalam masyarakat. Namun, ketimpangan sosial tersebut tak harus dikait-kaitkan dengan isu SARA, karena hal tersebut merupakan dua hal yang berbeda. Masing-masing masyarakat memiliki hak untuk ikut ambil bagian dalam proses pembangunan dan kegiatan apapun sepanjang itu tidak dilarang.

"Isu kesenjangan sosial tak boleh dipelintir menjadi isu SARA. Ini amat berbahaya. Mari kita semua untuk berusaha melakukan kerja yang terbaik tanpa diskriminasi," tegasnya.

Ia menambahkan, empat pilar kebangsaan harus menjadi panduan bersama hidup bermasyarakat. Semua warga Indonesia terikat secara utuh untuk mengamalkan nilai-nilai empat pilar dalam hidup bermasyarakat.

"Dalam ranah publik, empat pilar tersebut adalah pijakan, pegangan dan pondasi kita berpikir maupun bertindak. Empat pilar ini merupakan mahakarya yang telah menjadi konsensus para pendiri bangsa. Tak ada yang boleh mengobok-obok, apalagi menggantinya dengan palsafah yang lain," pungkas Rosti. (*)

Editor: Raya Desmawanto Nainggolan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help