Festival Perahu Baganduang di Kuansing, Tradisi Lama yang Sudah Berusia Seabad Lamanya

Perahu yang oleh masyarakat setempat disebut Perahu Baganduang tersebut dibuat dalam rangka melaksanakan

Festival Perahu Baganduang di Kuansing, Tradisi Lama yang Sudah Berusia Seabad Lamanya
Tribun Pekanbaru/ Ikhwanul Rubby
Pagi hari ke 4 lebaran ratusan muda mudi daerah Lubuk Jambi Kecamatan Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi beramai-ramai berkumpul di tepian Sungai Kuantan. Tidak hanya berkumpul, para muda mudi ini juga berpasang-pasangan menaiki perahu yang terbuat dari buluh ditepian sungai tersebut. 

Laporan wartawan Tribun Pekanbaru, Ikhwanul Rubby

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Pagi hari ke 4 lebaran ratusan muda mudi daerah Lubuk Jambi Kecamatan Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi beramai-ramai berkumpul di tepian Sungai Kuantan. Tidak hanya berkumpul, para muda mudi ini juga berpasang-pasangan menaiki perahu yang terbuat dari buluh ditepian sungai tersebut.

Sebanyak 20 perahu yang dibuat bersama-sama oleh masyarakat sekitar untuk dinaiki para muda - mudi yang berjumlah 30 orang, Selasa (28/6).

Perahu yang oleh masyarakat setempat disebut Perahu Baganduang tersebut dibuat dalam rangka melaksanakan tradisi adat yang telah dilakukan masyarakat terus menerus selama kurang lebih satu abad lamanya.

Tradisi yang disebut masyarakat Festival Perahu Baganduang tersebut dijalankan oleh para muda-mudi mulai dari malam terakhir Bulan Ramadhan.

Tokoh Masyarakat Daerah Lubuk Jambi, Raja Mahadi bercerita pada malam takbiran tersebut para pemuda yang masih lajang membawa mangkok berisikan beberapa buah jeruk untuk diberikan kepada pemudi yang diinginkannya untuk bersanding dalam festival tersebut.

"Dalam adat, jeruk ini diperuntukkan sebagai bahan yang dipakai mandi para remaja putri di Subuh hari pertama lebaran 1 Syawal," tuturnya.

Sebagai puncak acara, pada hari raya ke empat para pemuda dan pemudi yang ikut serta didandingkan bersama diatas perahu yang sebelumnya diarak masyarakat kampung.

Dalam festival tersebut para muda mudi yang bersanding dan masyarakat yang hadir melihat disuguhkan berbagai hiburan seperti Rarak Calempong, Panjek Pinang, pertunjukan seni tari daerah, kabaret dan kegiatan Potang Tolugh.

Raja Mahadi bercerita awal mula diadakannya tradisi ini sebagai wujud rasa syukur masyarakat setempat dulu atas berhasilnya panen sawah padi.

"Sebagai penghargaan atas tenaga yang dikeluarkan oleh para muda - mudi saat panen maka dilaksanakanlah kegiatan ini," ujarnya.

Tradisi ini dari semenjak dahulu dipertahankan masyarakat sebagai ritual yang terus dilaksanakan tiap tahunnya pada momen Hari Raya Idul Fitri.

Tak jarang ajang ini jadi suatu kegiatan pertemuah jodoh para muda mudi masyarakat sekitar, karena yang terlibat tidak hanya masyarakat setempat tetapi juga ada masyarakat sekitar dari luar kampung.

Banyak dari masyarakat sekitar dari acara ini bersanding dan lanjut menjadi sebuah kesatuan keluarga. (*)

Penulis: Ikhwanul Rubby
Editor: Raya Desmawanto Nainggolan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved