TribunPekanbaru/

PT Hutahaean Tersangka Kasus di Lahan KKPA, Bekas Ketua Koperasi Setia Baru Bungkam

Lahan bermasalah yang dipersoalkan Polda Riau tersebut berada di afdeling VIII, perbatasan wilayah operasi PT

PT Hutahaean Tersangka Kasus di Lahan KKPA, Bekas Ketua Koperasi Setia Baru Bungkam
internet
Ilustrasi kebun sawit lebat 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Ditetapkannya PT Hutahaean sebagai tersangka dalam kasus perambahan hutan dan izin perkebunan ilegal diprediksi akan melibatkan sejumlah pihak. Soalnya, objek hukum yang dibidik oleh Polda Riau tersebut adalah lahan yang merupakan KKPA perusahaan tersebut yang bermitra dengan KUD Setia Baru.

Diduga, lahan yang awalnya seluas 2.380 hektar tersebut menjadi objek kasus yang diduga merupakan kawasan hutan yang belum dibebaskan. Belakangan, PT Hutahaean hanya mengakui menguasai seluas 786 hektar saja, karena sebagian besar lagi telah dikelola oleh pihak lain, termasuk masyarakat yang mengambil alih lahan tersebut dan menyerahkannya kepada PT Torus Ganda (Torganda).

Bekas Ketua KUD Setia Baru, Porkot Hasibuan irit bicara saat ditanya soal kilas balik penyerahan lahan tersebut ke PT Hutahaean. Ia tak mau berkomentar dan hanya memberi jawaban singkat via pesan layanan seluler.

"Konfirmasi saja ke Polda," terangnya. Lebih dari itu, Porkot yang enggan menjawab panggilan telepon Tribun, tak bersedia memberikan penjelasan.

Lahan bermasalah yang dipersoalkan Polda Riau tersebut berada di afdeling VIII, perbatasan wilayah operasi PT Torganda dengan PT Hutahaean. Lokasinya kini berada di Desa Tingkok, Kecamatan Tambusai, Rokan Hulu. Sebelumnya, Desa Tingkok merupakan bagian dari Desa Tambusai Timur. Namun kini Tambusai Timur telah dimekarkan menjadi tiga desa yakni Desa Tingkok berpusat di Tingkok dan Desa Lubuk Soting berpusat di Lubuk Soting serta Desa Tambusai Timur berpusat di Setia Baru yang berada di Kecamatan Tambusai dengan ibukotanya Dalu-dalu.

Sumber Tribun menyebutkan kalau Porkot Hasibuan yang baru beberapa bulan dilantik menjadi anggota DPRD Rokan Hulu tersebut merupakan Ketua Koperasi Setia Baru. Ia yang dipercaya oleh masyarakat setempat untuk mewakili pengikatan kerjasama dengan PT Hutahaean. Porkot merupakan anak mantan kepala desa setempat, sehingga dikenal sebagai tokoh.

"Dulu dia agak menonjol pengetahuannya, sehingga ditunjuk oleh masyarakat untuk menyerahkan lahan itu," kata sumber Tribun tersebut.

Diwartakan sebelumnya, PT Hutahaean mengaku kalau perusahan itu pernah mengikat perjanjian kerja sama dengan KUD Setia Baru di Tambusai Timur pada tahun 1999 silam. Perjanjian pengelolaan lahan atau yang dikenal dengan KKPA tersebut yakni menyangkut pengelolaan seluas 2.380 hektar yang hasilnya akan dibagi dengan perbandingan 65-35. Sebanyak 65 persen atau seluas 1.547 adalah untuk masyarakat dan 35 persen atau seluas 833 hektar untuk perusahaan.

Namun dalam perjalanannya, proses pengerjaan lahan tersebut tersandung masalah. Sebagian masyarakat sepihak menarik diri dan mengelola lahan itu sendiri. Sebagian lagi menyerahkannya kepada PT Torganda sebagai bapak angkat. (*)

Editor: Raya Desmawanto Nainggolan
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help