TribunPekanbaru/

Siswi di Kampar Bunuh Diri

Jadi Korban Perundungan, Sebelum Bunuh Diri Elva Meringis Diejek Wanita Murahan, Miskin dan Jelek

Elva Sulastri, 16 tahun, telah pergi untuk selamanya. Ia nekat mengakhiri hidupnya dengan menenggelamkan diri di Sungai Kampar.

Jadi Korban Perundungan, Sebelum Bunuh Diri Elva Meringis Diejek Wanita Murahan, Miskin dan Jelek
Flickr
Menurut data statistik nasional Belgia, semakin banyak orang-orang muda di negara itu yang mengajukan permohonan mati secara legal. Alasan terbesar karena mengalami depresi dan tak tahan menanggung penderitaan yang luar biasa. 

Laporan Wartawan Tribun Pekanbaru, Fernando Sihombing

TRIBUNPEKANBARU.COM, BANGKINANG - Elva Sulastri, 16 tahun, telah pergi untuk selamanya. Ia nekat mengakhiri hidupnya dengan menenggelamkan diri di Sungai Kampar. Namun ia meninggalkan rekaman suara di telepon genggamnya.

Rekaman itu menjadi petunjuk bahwa jalan pintas yang dipilih Siswi Kelas X SMA Negeri 1 Bangkinang Ini bukan tanpa sebab. Ia seakan ingin mengungkap bahwa dirinya adalah korban perundungan atau bullying. Kakek Elva, Juliardi memberikan dua bukti rekaman itu.

Pertama berdurasi 27 menit 8 menit dan kedua selama 2 menit 52 detik. Terdengar suara ‎putri pasangan Panda Nasution, 42 tahun, dan Helmi A, 33 tahun, itu meringis. Hampir semua bagian rekaman berisi suara tangisannya.

Di balik suara Elva, terdengar begitu bising. Sepertinya berada di dalam ruangan kelas dimana siswa lain juga ada. Suara beraneka ragam itu membuat hasil rekaman kurang jernih. Hanya suara Elva yang terdengar lebih jelas karena dekat dengan perekam telepon genggam miliknya.

Sambil menangis, Elva sepertinya melampiaskan sakit hati yang terpendam. Berawal dari suara seperti sedang curhat dengan temannya. Ia tidak terima disebut wanita murahan. "Siapa yang sanggup dibilang-bilang wanita murahan," katanya.

Teman lain berusaha menenangkan Elva. Ada yang menyarankan agar ia melapor saja. "Kalau didiamkan, makin sakit hati," sahut teman yang lain.

Elva juga mengeluh diejek miskin dan jelek. Sembari meminta, ia ke sekolah untuk belajar. Bukan untuk diejek.

"Tau aku jelek. Iya aku jelek. Tau aku miskin, iya aku miskin. Salah aku lahir dari ibuku," ketusnya dalam bahasa Ocu melampiaskan kesal.

Di akhir rekaman, suasana tiba-tiba hening. Sepertinya guru masuk ruangan kelas. Jelas terdengar sahutan para murid,

"Walaikumsalam Warahmatullahi Wa........". Rekaman pun berhenti.

SUBSCRIBE Youtube: Tribun Pekanbaru,

LIKE Halaman Facebook: Tribun Pekanbaru,

FOLLOW Twitter @tribunpekanbaru.

Penulis: nando
Editor: Ariestia
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help