TribunPekanbaru/

Hari Ini, Kota Padang Genap Berusia 348 Tahun

Wilayah ini dihuni oleh perantau Minangkabau yang berasal dari dataran tinggi atau lebih dikenal dengan darek

Hari Ini, Kota Padang Genap Berusia 348 Tahun
KOMPAS/ISMAIL ZAKARIA
Wisatawan menikmati suasana Pulau Pasumpahan yang berada di Kelurahan Sungai Pisang, Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang, Sumatera Barat. Pulau Pasumpahan merupakan salah satu destinasi wisata yang makin diminati wisatawan baik yang berasal dari Sumatera Barat maupun di luar Sumatera Barat. Setiap bulan, wisatawan yang berkunjung kesana mencapai sekitar 2.000 orang. 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PADANG – Kota Padang hari ini, Senin 7 Agustus 2017 genap berusia ke 348 tahun.

Dikutip dari padangmedia.com dalam sejarahnya, Kota Padang dulu merupakan kawasan rantau. Wilayah ini dihuni oleh perantau Minangkabau yang berasal dari dataran tinggi atau lebih dikenal dengan darek. Pada awalnya, mereka menempati wilayah perkampungan yang berada di pinggiran selatan, Batang Arau. Pada saat ini, wilayah tersebut diberi nama Seberang Pebayan.

Pada zaman dahulu, wilayah ini berada di bawah pengaruh kekuasan Pagaruyung. Namun, sekitar abad ke-17, wilayah ini masuk ke dalam kedaulatan kesultanan Aceh. Hadirnya pendatang ke kota ini membawa perkembangan yang sangat pesat. Para pendatang ini, menetapkan dan memajukan perekonomian kota padang. Perkembangan tersebutlah yang pada akhirnya mendorong untuk terbentuknya sebuah struktur pemerintahan.

Akan tetapi, kedatangan penjajah Belanda menghapuskan pengaruh Kesultanan Aceh di wilayah tersebut. Pada tahun 1663 VOC datang ke Padang dan kemudian tertarik untuk membangun pelabuhan serta permukiman baru di patai barat Sumatera. Hal tersebut bertujuan agar mempermudah akses masuknya perdagangan dengan kawasan pedalaman di Minangkabau. Pada akhirnya, Belanda secara perlahan-lahan berhasil menanamkan pengaruhnya di sepanjang pantai Barat Sumatera.

Selain itu, Belanda juga ingin melanjutkan hubungan kerjasama dalam hal perdagangan dan pendistribusian emas ke kota tersebut dengan mengirimkan surat kepada Raja Pagaruyung. Pada tanggal 7 Agustus 1669 sempat terjadi pergejolakan antara masyarakat Pauh dan Koto Tangah. Tanggal tersebutlah yang kemudian dijadikan sebagai dasar lahirnya Kota Padang. Namun, pada akhirnya pergejolakan tersebut dapat diatasi oleh VOC yang membuat keadaan kembali aman dan terkendali.

Kota Padang kemudian berkembang dengan semakin pesat dan ramai. Sehingga membuat wilayah tersebut menjadi cocok untuk tempat mendistribusikan hasil bumi dari pedalaman Minangkabau. VOC terus melakukan usaha agar mendapatkan keuntungan lebih besar. Salah satunya adalah dengan mengadakan kontrak dengan pemerintah Padang dan kemudian pada akhirnya berhasil memonopoli serta memperoleh keuntungan. Dengan kontrak tersebut membuat Belanda mendapatkan keuntungan besar. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya catatan sejak tahun 1770 diberangkatkannnya 0.3 miliar pikul lada dan 0.2 miliar gulden emas pertahunnya dari Pelabuhan Muara.

Setelah proklamasi kemerdekaan RI, Mr. Abubakar Jaar diangkat menjadi walikota pertama kota Padang dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau merupakan seorang pamong sejak zaman Belanda yang kemudian menjadi residen di Sumatera Utara.

Saat ini, di usianya yang ke 348, Kota Padang sudah jauh berubah. Paling mencolok adalah objek wisata andalan Pantai Padang yang sudah ditata sedemikian rupa. Kawasan Pantai Padang diperancak dengan kawasan pedestrian dan Tugu Merpati Perdamaian. Tugu IORA juga berdiri, penanda kalau Padang pernah menjadi tempat pelaksana pertemuan negara-negara yang berada di sepanjang Samudera Hindia. Sekaligus mempertegas Padang sebagai pintu gerbang di bagian barat Indonesia. Praktis, Pantai Padang menjadi destinasi wisata bagi wisatawan saat libur dan hari besar.

Kawasan perekonomian, Pasar Raya juga semakin rapi. Pasar yang dulunya semrawut, kini berubah baik. Terlebih dengan telah dibangunnya beberapa blok. Wajah pasar tidak lagi usang, berubah seperti mall. Setiap bangunan blok, berdiri menjulang. Dikelir warna terang. Walikota menyulap pasar menjadi pasar modern. Jika tak ada aral melintang, Pasar Raya Padang diresmikan Presiden Joko Widodo, Oktober nanti.

Semuanya tak terlepas dari kepemimpinan Mahyeldi dan Emzalmi dalam menjalankan roda pemerintahan. Kerja keras yang dilakukan, menggerakkan seluruh lini sehingga pekerjaan selesai dengan yang diharapkan. Kini, masyarakat telah merasakan pembangunan itu. Perekonomian bergerak kencang. Ibaratnya, Padang kini seperti gula tang dikerubungi semut. Tempat yang pas untuk berinvestasi dan singgah untuk melihat keindahan kota. 

Editor: Teddy Yohannes Tarigan
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help