TribunPekanbaru/

Kisruh di Bank Nagari, PDI Perjuangan akan Panggil Tiga Pemegang Saham

PDI Perjuangan Sumbar, akan meminta penjelasan dari tiga orang kadernya yang tengah menjabat kepala daerah

Kisruh di Bank Nagari, PDI Perjuangan akan Panggil Tiga Pemegang Saham
TRIBUNPEKANBARU.COM/THEO RIZKY
Warga menukarkan uang kartal untuk keperluan lebaran pada hari kedua penukaran uang di halaman Kantor Bank Indonesia Perwakilan Riau, Pekanbaru, Kamis (15/6/2017). Bank Indonesia menyiapkan Rp 4,4 milyar setiap hari selama waktu penukaran uang di tempat tersebut dan bekerjasama dengan 30 bank untuk menyalurkannya. Penukaran uang ini akan berlangsung lagi pada Senin sampai Rabu (19-21/6/2017). Bank Indonesia menghimbau agar masyarakat dapat menukarkan uangnya di bank-bank dan bukan pada jasa penukaran uang yang marak ada di pinggir jalan. (TRIBUN PEKANBARU/THEO RIZKY). 

TRIBUNPEKANBARU.COM - PDI Perjuangan Sumbar, akan meminta penjelasan dari tiga orang kadernya yang tengah menjabat kepala daerah, seputar polemik di internal PT Bank Pembangunan Sumbar yang lebih dikenal dengan Bank Nagari.

"Bank Nagari itu merupakan perusahaan daerah yang jadi kebanggaan Sumatera Barat. Kita tak ingin kasusnya seperti PT Semen Padang. Untuk dijadikan pelaksana tugas (Plt) Komisaris Utama saja pascaditinggal Saldi Isra jadi Hakim Konstitusi, orang Minang tak pula dipercaya pemegang saham. Padahal, ada dua orang Minang yang duduk jadi komisaris periode ini di perusahaan semen itu," ungkap Ketua DPD PDI Perjuangan Sumbar, Alex Indra Lukman dikutip dari valora.co.id, Rabu (2/8/2017).

Pernyataan ini disampaikan Alex, setelah menggelar rapat dengan pengurus bersama anggota DPRD Sumbar dari PDI Perjuangan, Rabu sore. Rapat ini tak ditampik Alex juga berkaitan dengan kejadian hampir semua pejabat eksekutif (Kepala divisi dan cabang), melayangkan surat mosi tidak percaya untuk Direktur Utama dan Direktur Kredit. Surat tersebut juga ditujukan ke gubernur, walikota, bupati serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Kita sudah mendengar informasi dari kader kita di lembaga legislatif. Tentu kita juga perlu mendengar informasi dari kepala daerah yang notabene adalah pemegang saham di bank milik Pemprov Sumbar ini," terangnya.

Diketahui, tiga kader PDI Perjuangan, saat ini tengah menjabat kepala daerah di Sumbar. Yakni Bupati Dharmasraya, St Riska Tuanku Kerajaan, Irfendi Arbi (Bupati Limapuluh Kota) dan Yudas Sabagalet (Bupati Kepulauan Mentawai). Dari ketiga kepala daerah itu, Mentawai tercatat sebagai pemegang saham terbesar ketiga di bank tersebut.

Dikatakan Alex, PDI Perjuangan merasa khawatir dengan keberlanjutan perusahaan yang telah berbadan hukum perseroan terbatas itu. Selama ini, tambah Alex, Bank Nagari merupakan penyumbang terbesar bagi pendapatan asli daerah (PAD).

"Sejak masuk direksi yang baru, terjadi gejolak diinternal sehingga mengganggu kinerja perusahaan secara umum. Gejolak ditingkat direksi ini juga tak mampu dikendalikan oleh para komisarisnya," terang Alex yang didampingi Rizanto Algamar (anggota Komisi V DPRD Sumbar) dan Albert Hendra Lukman (Ketua Fraksi PDIP, PKB dan PBB DPRD Sumbar).

Informasi yang didapat, terang Alex, pencapaian kuartal I Bank Nagari baru mencapai angka Rp77,15 miliar lebih. Sementara, target tahunan yang telah ditetapkan pemegang saham sebesar Rp430 miliar lebih. Jika dibandingkan pencapaian laba tahun lalu di periode yang sama, terjadi penurunan sebesar 30,76 persen. Pada periode yang sama tahun lalu, Bank Nagari masih sanggup membukukan keuntungan Rp111,44 miliar.

"Jika kita lihat kinerja direksi dan komisaris dari sisi pencapaian laba, masih jauh dari target yang dibebankan. Ini perlu kita cari tahu penyebabnya, kenapa sampai terjun bebas pendapatan laba ini," terang Alex yang juga anggota Komisi V DPR RI itu.

"Jangan sampai kasusnya seperti PT Semen Padang ini. Sudah lah kontribusi bagi pendapatan daerah tak signifikan, dipercaya jadi Plt Komisaris Utama tidak pula oleh pemegang sahamnya," tambah anggota DPR RI Dapil Sumbar I ini.

Informasi yang didapat, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) di tiga bulan perdana 2017, terjadi pembengkakan ke angka 3,24% (gross) atau mencapai Rp443,76 miliar dari posisi sebelumnya 3,16%. Persentase kredit produktif dengan konsumtif, juga semakin melebar.

Pada periode Januari hingga Maret tahun lalu, porsi kredit produktif berada di angka 30% dan 70% sisanya merupakan kredit konsumtif. Saat ini, porsi kredit produktif menyusut ke angka 22% dan kredit konsumtif meningkat menjadi 78%.

Rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) juga tercatat naik ke angka 83,83%, bandingkan dengan BOPO Bank Nagari di tiga bulan pertama tahun ini yang masih bertengger di angka 76,38%.

Rasio keuangan lainnya seperti return on asset (ROA) juga turun ke angka 1,65,% dari posisi sebelumnya 2,82%. Return on equity (ROE) perusahaan juga ikut turun ke angka 13,35% dari posisi sebelumnya 22,43%. (*)

Editor: Teddy Yohannes Tarigan
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help