TribunPekanbaru/

Nasib si Bawang Merah, Antara Surplus dan Impor

Kemungkinan besar kondisi ini akan memaksa daerah penghasil (petani) nantinya akan menurunkan produksinya secara massive

Nasib si Bawang Merah, Antara Surplus dan Impor
istimewa
Ingot Ahmad Hutasuhut: Kadis Perindag Kota Pekanbaru 

Ingot Ahmad Hutasuhut, Kadis Perindustrian dan Perdagangan Pekanbaru

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - PREDIKSI kami dalam waktu dekat daerah kami segera surplus bawang merah Pak. Saat ini kami berpacu mengupayakan pasarnya, karena kalau tidak begitu maka petani kami akan mengalami pukulan telak.

Demikian kata Pak Wakil Bupati dari salah satu kabupaten di provinsi tetangga ketika beliau berkunjung melihat prospek pasar di Pekanbaru.

Begitu banyak informasi yang disampaikan pada perbincangan singkat itu (tidak hanya komoditi bawang merah saja) yang akhirnya membawa pada kesimpulan bahwa kita harus segera berhitung kembali sembari mempersiapkan diri menangkap peluang, sekaligus mengantisipasi tantangan yang akan segera tiba.

Pertemuan itu menjadi semakin bermakna, karena terjadi di tengah upaya kita menjalin kerjasama dengan beberapa daerah penghasil kebutuhan pokok dan kebutuhan penting masyarakat, dalam rangka mengupayakan stabilitas harga di Kota Pekanbaru.

Tanpa kita sadari, disisi lain disana telah terjadi kebijakan peningkatan produksi yang dalam waktu dekat agaknya akan segera mempengaruhi kemampuan suplai akan komoditi tertentu. Sebuah kondisi yang plus minus tentunya.

Boleh jadi kondisi itu akan menguntungkan bagi masyarakat konsumen di Pekanbaru (Riau) karena logikanya dengan suplai yang sedemikian tinggi akan terjadi penurunan harga secara signifikan.

Namun disisi lainnya akan sangat mengenaskan bagi para petani. Kemungkinan besar kondisi ini akan memaksa daerah penghasil (petani) nantinya akan menurunkan produksinya secara massive demi menjaga kontinuitas usaha pertaniannya.

Nah, dalam konteks negara kesatuan dimana Kota Pekanbaru (Riau) yang notabene adalah pasar dari produk pertanian tersebut, tentu perlu jugalah menyikapi ataupun "memanfaatkan" kondisi ini dengan baik.

Artinya kita perlu berupaya mengimbanginya dengan peningkatan daya serap agar petani di daerah penghasil tidak mengalami nasib yang memprihatinkan.
Kata seorang teman yang kompeten, salah satu upaya yang perlu segera dilakukan adalah mendorong diversifikasi pemanfaatan komoditi.

Misalnya kalau lazimnya bawang merah diserap oleh kebutuhan rumah tangga yang daya serapnya cenderung stabil, maka perlu dikondisikan peningkatan daya serap melalui konsumen lainnya, misalnya sektor industri. Baik jenis industri kuliner maupun lainnya.

Jelas hal ini merupakan tantangan tersendiri. Sangat diperlukan inovasi dan kreasi, bahkan sentuhan tekhnologi sehingga dimensi pemanfaatan komoditi menjadi semakin luas. Bersamaan dengan itu langkah konkrit menangkal suplai ilegal tentu menjadi sangat penting.
Dengan semangat saling mengerti dalam bingkai persatuan nasional menuju swasembada, maka harapan ini akan dapat terwujud, insya Allah. (*)

Editor: M Iqbal
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help