TribunPekanbaru/

Indragiri Hilir

Di Tengah Kemeriahan Festival Kelapa Internasional, Petani Kelapa Inhil Masih Alami Hal Miris Ini.

"Padahal kebutuhan industri tergantung hasil produksi kelapa petani. Kalau produksi kelapa menurun berpengaruh juga kebutuhan bahan baku industri,”

Di Tengah Kemeriahan Festival Kelapa Internasional, Petani Kelapa Inhil Masih Alami Hal Miris Ini.
tribunpekanbaru/muhammadfadhli
Suasana Stand Perpekindo di Pameran FKI saat Ketua Umum Perpekindo Nasional Muhaimin Tallo (tiga dari kiri) berserta anggota lainnya berdialog bersama Anggota DPRD Provinsi Riau asal Inhil, HM. Arpah Randye dan Abd. Rasyid Nur Mantan Dinas Perkebunan Inhil yang sekarang sebagai petani kelapa. 

Laporan Wartawan Tribun Pekanbaru, T. Muhammad Fadhli.

TRIBUNPEKANBARU.COM, TEMBILAHAN – Dibalik meriahnya perhelatan Festival Kelapa Internasional di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) dengan kedatangan berbagai tamu delegasi negara luar, negara penghasil kelapa, organisasi, lembaga dan perusahan yang berkaitan dengan perkelapaan.

Ternyata kenyataan miris bagi para petani kelapa di Inhil masih terus terjadi, khususnya masih kurangnya perhatian pihak perusahaan di Kabupaten Inhil terhadap petani yang nyatanya adalah sebagai produsen utama bahan baku.

Meskipun satu diantara perusahaan terbesar di Inhil yang hadir di seminar FKI mengklaim telah melakukan berbagai hal untuk petani, namun kenyataan di lapangan tidak semanis yang di katakan.

Baca: Lebih Bahaya dari Kokain, Dampak Mengerikan Flakka Atau Pil PCC Ini Ditanggung Seumur Hidup

Ketua Umum Perhimpunan Petani Kelapa Indonesia (Perpekindo) Nasional, Muhaimin Tallo sangat tegas membantah jika perusahaan memperhatikan nasib petani, menurutnya, industri khususnya di Inhil belum bisa meningkatkan ekonomi petani, karena selalu membeli kelapa di bawa harga produksi, apalagi membantu untuk memperbaiki kebun kelapa.

“Iya kenyataan di lapangan, banyak sekali teman - teman petani yang datang ke Stand Perpekindo untuk mengadu, karena penerimaan harga kelapa saat ini murah tidak sesuai dengan ongkos kerja,” ujar Muhaimin kepada Tribun Pekanbaru, Rabu (13/9/2017).

Baca: Tolak Tinggal di Istana, Presiden Terpilih Singapura Halimah Yacob Tetap Tinggal di Rusun

Lebih lanjut pria asal Inhil ini menjelaskan, kunci utama permasalahan kerusakan kebun kelapa petani di Inhil maupun di wilayah lain di Indonesia saat ini adalah dari segi harga jual buah kelapa yang selalu tidak menguntungkan petani, harga beli industri di wilayah Inhil selalu berada di tataran cost of production (hanya menutupi ongkos kerja) dan belum bisa meningkatkan pendapatan petani apalagi untuk mensejahterakan petani.

“Kalau harga jual menguntungkan petani permasalahan kerusakan kebun akan diselesaikan oleh petani sendiri,” tukasnya.

Halaman
12
Penulis: T. Muhammad Fadhli
Editor: Afrizal
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help