TribunPekanbaru/

Tahukah Anda, Mengapa Kita Menangis Saat Bahagia?

Pernahkah Anda meneteskan air mata saat bahagia? Misalnya saat kelahiran anak atau saat mengucapkan janji perkawinan?

Tahukah Anda, Mengapa Kita Menangis Saat Bahagia?
Foto/net
ilustrasi 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Pernahkah Anda meneteskan air mata saat bahagia? Misalnya saat kelahiran anak atau saat mengucapkan janji perkawinan? Ternyata menangis saat hati senang itu normal. Seseorang bisa saja mempunyai ekspresi yang kesannya negatif padahal perasaannya positif.

Dahulu beberapa peneliti menduga, air mata bahagia muncul karena rasa sedih, putus asa, atau kehilangan yang terlepas. Namun menurut psikolog yang mempelajari emosi dan ekspresi wajah, Oriana R. Aragon, orang bisa saja menangis saat perasaan mereka bahagia, tanpa harus melibatkan rasa sedih.

Baca: Kaum Hawa Waspadalah! Kini di Pekanbaru Mulai Banyak Begal Mesum Berkeliaran

Selain itu beberapa penelitian juga mendapati bahwa kita tidak perlu menjadi orangtua baru untuk menangis saat bahagia. Kita hanya perlu memiliki perasaan, dan air mata tentunya.

Tapi mengapa bahagia juga memunculkan air mata? Jawaban mudahnya, menurut Aragon, adalah karena menangis bisa menguatkan saat-saat bahagia. Ketika seseorang meneteskan air mata, ada senyawa leucine enkephalin yang terlepas. Senyawa ini berfungsi untuk menghilangkan rasa sakit.

Baca: Heboh Penculikan di Dumai, Polisi Selidiki Pelaku yang Mendekati dan Menggendong Siswa

Ketika seseorang menangis karena sedih, senyawa ini akan sedikit mengobati rasa itu. Namun saat orang menangis senang, leucine enkephalin membuat mereka merasa lebih bahagia.

Penjelasan yang lebih kompleks soal air mata bahagia memasukkan teori bahwa otak kita tidak selalu mengetahui perbedaan antara emosi negatif atau positif. Bagian otak yang bernama hypothalamus merespon emosi melalui sinyal saraf tanpa selalu menyadari apakah sinyal yang dikirim sedih atau senang.

Menurut Jordan Gaines Lewis, profesor psikiatri dari Penn State, saat sinyal sedih dan bahagia muncul, sistem saraf parasympathetic akan aktif, dan melepaskan acetylcholine. Acetylcholine ini memerintahkan kelenjar air mata untuk berproduksi, dan menangislah kita.

Dalam penelitian yang dimuat di journal Evolutionary Psychology tahun 2009, periset Oren Hasson mengajukan teori yang menyebut bahwa menangis adalah petunjuk sosial yang seolah berarti: “Jangan sakiti aku, atau aku membutuhkan seseorang, atau aku tidak akan melukaimu.” Karenanya masuk akal bila seseorang menangis dalam situasi sedih maupun gembira.

Anak-anak juga mungkin mengeluarkan air mata bahagia seperti orang dewasa, kata Aragon. Dan pria juga bisa menangis bahagia seperti wanita. Menariknya, kebanyakan orang akan berusaha menenangkan dan bukannya merayakan seseorang yang menangis gembira. Dan mungkin memang itulah yang benar. Karena saat bahagia pun kita ingin berbagi.

Editor: Muhammad Ridho
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help