TribunPekanbaru/

Kepulauan Meranti

Begini Plus Minus Dicabutnya Izin Operasional PT RAPP di Meranti 

Berhentinya operasi perusahaan HTI di Pulau Padang berdampak negatif bagi masyarakat yang terlanjur menggantungkan hidupnya.

Begini Plus Minus Dicabutnya Izin Operasional PT RAPP di Meranti 
Foto/Istimewa
Manager Estate RAPP Marzum Hamid meninjau Pos Pemantau Api Blok Sei Hiyu Sektor Pulau Padang beberapa waktu lalu. Tim Laskar Api ini dibentuk untuk mencegah terjadinya Karlahut di Pulau Padang, Kabupaten Kepulauan Meranti. 

Namun, berhentinya operasi perusahaan HTI di Pulau Padang juga berdampak negatif bagi masyarakat yang sudah terlanjur menggantungkan hidupnya di perusahaan tersebut.

Sementara Pemda Kabupaten Kepulauan Meranti belum siap untuk mengurangi tingkat pengangguran di Meranti.

Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja (DPMPTSPTK) Kabupaten Kepulauan Meranti melalui Kabid Ketenagakerjaan, Syarifuddin Y Kai mengungkapkan, dari data 2015 lalu, jumlah pengangguran di Meranti paling tinggi di Riau dengan angka 11,7 persen.

"Sementara jumlah tenaga kerja kita hanya 3.141," ujar Syarifuddin.

Menurut Syarifuddin, minimnya jumlah tenaga kerja di Meranti disebabkan minimnya perusahaan yang beroperasi.

"Perusahaan yang beroperasi di Meranti hanya 153. Namun hanya sedikit perusahaan besar yang beroperasi di Meranti. Mayoritas, perusahaannya hanya berbentuk pabrik sagu skala kecil dan dapur arang," ujarnya.

Sementara, pihaknya belum bisa melakukan upaya konkret untuk menekan angka pengangguran di Meranti.

"Kita memang ada Balai Latihan Kerja (BLK), namun tidak dipakai karena butuh rehab dan penambahan perlengkapan pelatihan," ujarnya.

Saat ini kata Syarifuddin, pihaknya butuh anggaran sebesar Rp 1,5 miliar untuk mengaktifkan kembali BLK.

"BLK saat ini masih banyak yang kurang, namun kami telah mengajukan anggaran untuk mengaktifkan BLK itu pada 2018 mendatang," ujar Syafruddin.

Ia mengakui, berhentinya perusahaan HTI di Pulau Padang akan menambah angka pengangguran di Meranti.

Saat ini kata Syarifuddin, jumlah anak tempatan yang bekerja di PT RAPP sekitar 117 orang.

"Itu belum termasuk pekerja-pekerja lepas yang bekerja secara musiman disana. Mungkin ada seribuan warga yang akan kehilangan tumpuan hidup," ujarnya.

Penulis: Guruh Budi Wibowo
Editor: M Iqbal
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help