TribunPekanbaru/

Kasus Penipuan 2 WNA, Yusuf Daeng: Itu Perjanjian Perdata

Karena masalah ini terkait perdata, Yusuf menegaskan kliennya merasa nama baiknya dicemarkan.

Kasus Penipuan 2 WNA, Yusuf Daeng: Itu Perjanjian Perdata
istimewa
Yusuf Daeng 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU- Wanita berinisial UN yang disebut-sebut melakukan penipuan terhadap dua warga negara asing (WNA) asal Malaysia menyebut kedua pelapornya itu telah mencemarkan nama baiknya. UN bakal melaporkan dua WNA tersebut ke polisi.

Rencana pelaporan itu disampaikan oleh kuasa hukum UN, Dr HM Yusuf Daeng M SH MH dan rekan. Dalam rilisnya, Kamis (12/10/2017), Yusuf Daeng menjelaskan bahwa kasus yang menimpa kliennya itu sudah masuk dalam pemberitaan di Tribun Pekanbaru.com pada hari Selasa 10 Oktober 2017 lalu. Di samping itu, berita serupa juga dimuat oleh beberapa media lainnya.

Di dalam pemberitan itu, disebutkan ada dua WNA asal Malaysia dikabarkan menjadi korban kasus dugaan penipuan dan penggelapan yang dilakukan wanita berinisial UN. Bahkan, UN ditetapkan sebagai tersangka.

Yusuf Daeng menyebut kasus yang dialami kliennya menyangkut perjanjian perdata yang dilakukan di hadapan notaris Puji Sunanto SH yang sama sekali tidak ada unsur pidananya.

Ditambahkan Yusuf Daeng, kliennya juga sangat koperatif setiap kali dipanggil oleh pihak kepolisian. Karena masalah ini terkait perdata, Yusuf menegaskan kliennya merasa nama baiknya dicemarkan. Sehingga UN akan melaporkan dua WNA tadi.

Tak hanya itu, tambah Yusuf Daeng, kliennya membeberkan salah seorang pelapornya yang bernama Jailani Elhabshee diduga memalsukan identitas. Karena dalam transaksi kontrak perjanjian kerjasama Investasi Agen Pemasok Elpiji, Jailani disebutnya memakai kartu keluarga keluaran Pemerintah Kota Pekanbaru. Dia menduga, WNA itu telah melakukan pemalsuan dokumen negara.

Diberitakan sebelumnya, dua orang WNA asal Malaysia dikabarkan menjadi korban kasus dugaan penipuan yang dilakukan seorang wanita berinisial UN. Peristiwa ini sendiri terjadi sekitar bulan Mei 2015 silam. Akibat peristiwa ini, dua WNA yang masing-masing bernama Jailani Alhabsy dan Baharuddin ini mengalami total kerugian Rp 2,4 miliar lebih.

Kuasa Hukum kedua korban, Refi Yulianto, SH, Selasa (10/10) menuturkan, adapun modus terlapor (UN) dalam melancarkan aksinya adalah dengan mengaku sebagai pimpinan sebuah perusahaan resmi yang berada di bawah naungan PT Pertamina.

Kepada kedua korbannya UN menyatakan, perusahaannya sudah diangkat oleh PT. Pertamina menjadi agen defenitif elpiji 3 kilogram. Ia lalu menawarkan kepada kedua korbannya investasi dan kerjasama dibidang keagenan gas elpiji 3 kilogram tersebut dan menjanjikan keuntungan berlipat ganda.

Namun apa yang dijanjikan terlapor ternyata tidak terealisasi. Akibat merasa dirugikan, keduanya akhirnya sepakat menempuh jalur hukum. (rls/rzk)

Editor: M Iqbal
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help