Fokuslah Pada Isu-Isu Besar, Jangan Terkecoh dengan Isu Kecil

Penggiringan opini, penggorengan isu membuat kita terpaku dan fokus pada isu-isu kecil yg dimunculkan.

Fokuslah Pada Isu-Isu Besar, Jangan Terkecoh dengan Isu Kecil
Istimewa
Andres Pransiska Guru SMP Islam Terpadu Madani 

Citizens Journalism

Oleh: Andres Pransiska Guru SMP Islam Terpadu Madani

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Strategi perang Cina kuno dalam buku "Memancing Harimau Turun Gunung, 36 Strategi Perang Cina Kuno GAO YUAN" yakni, "Mengecoh Langit Menyeberangi Lautan" adalah kata yang tepat untuk menggambarkan situasi dan kondisi publik Indonesia saat ini. Penuh penyesatan atau pengelabuan. Banyak Rahasia yang bersembunyi dalam keterbukaan. Semakin jelas sebuah situasi, semakin dalam rahasia yang mungkin tersembunyi di dalamnya, dan orang cenderung mengabaikan hal yang biasa dijumpai.

Saat ini kita sedang diajak untuk masuk dalam sebuah perangkap. Penggiringan opini, penggorengan isu membuat kita terpaku dan fokus pada isu-isu kecil yg dimunculkan.

Gorengan isu "Pribumi" yang muncul pascapelantikan Gubernur DKI Jakarta terpilih, memicu terus timbul kegaduhan sosial politik. Media sosial disibukan dengan postingan-postingan, klarifikasi, hujatan dan lain sebagainya dalam hal isu yang sepele. Bahkan parahnya memunculkan hal primordial, SARA, dan membuat semakin terkotak-kotakan. Bagi yang Pro dengan isu tersebut semakin menggoreng isu, memunculkan narasi-narasinya, dan semakin memperkeruh suasana. Bagi yang kontra akan isu tersebut hadir dengan klarifikasinya, perbandingan-perbandingan pembenaran, narasi-narasinya, dan dialektikanya. Menambah semakin viralnya isu-isu kecil tersebut.

Misi-misi taktis para cyber media boleh dikatakan hampir berhasil. Kita hanyut akan gorengan isu, sehingga kita lupa akan isu-isu besar lainnya yang lebih strategis dan subtansial yang sedang menghinggapi bangsa Indonesia saat ini. Sebut saja misalnya rencana penjualan puluhan BUMN, penyerahan pelabuhan baik laut maupun bandara udara kepada swasta (asing), atau proyek reklamasi pulau Teluk Jakarta yang sampai sekarang tarik ulur dari beberapa stakeholder, Kota Meikarta yang sudah dibangun tapi belum mendapatkan Izin dari Pemprov Jabar, Kasus Mega Korupsi E-Ktp yang melibatkan bintang lapangan Setya Novanto yang sampai saat ini belum ditangka2, atau Perpu Ormas yang sekarang tidak tahu kabar beritanya, masalah korupsi, masalah kembali maraknya Muncul Ideologi Komunis, langkanya BBM berjenis Premium, kenaikan TDL listrik, dan lainnya.

Belum lagi diperparah dengan kebanyakan media propaganda yang hari ini cenderung pro kepada pemerintah semakin memperlancar dan menguatkan isu-isu tersebut agar dikonsumsi publik. Sadar atau tidak, media masa saat ini adalah sebuah pilar yang sangat efektif untuk membentuk opini publik. Publik disesatkan, publik di doktrin, publik dijejali akan isu-isu kecil yang sebenarnya tidak layak dikonsumsi atau dibahas. Sebaliknya isu-isu besar nan strategis ditutup-tutupi.

Dalam geopolitik, bahwa pelemparan isu ke publik memiliki beberapa maksud. Pertama, sebagai agenda settingan atau pembentukan opini publik. Kedua, Pelemparan isu ke publik juga sebagai media propaganda sebagai sarana penggiringan opini, membentuk mindset berfikir dan media doktrin-doktrin pemikiran kepada masyarakat. Ketiga, test the water, isu adalah sebagai metode yang sifatnya untuk memancing reaksi publik. Ada aksi, ada reaksi. Keempat, isu sebagai pola adalah agenda lanjutan usai isu ditebar. Isu - agenda -skema. Itulah urut-urutannya.

Skema besar apakah saat ini yang sedang dirancang dan dijalankan?. Apalagi dalam waktu dekat agenda terbesar berikutnya adalah tahun-tahunnya politik Indonesia.

Semakin dalam kita terseret arus gorengan isu tadi maka akan semakin berhasil pula strategi berpura-pura menyerang ke timur padahal menyerang ke barat. (Nol)

Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved