TribunPekanbaru/

DPRD Riau Anggap Sia-sia Anggaran Rp 200 Miliar untuk Sosialisasi BRG

Noviwaldy Jusman mengatakan, anggaran sebanyak itu bukanlah sedikit untuk pelaksanaan sosialisasi Bandan Restorasi Gambut (BRG).

DPRD Riau Anggap Sia-sia Anggaran Rp 200 Miliar untuk Sosialisasi BRG
TribunPekanbaru/Melvinas Priananda
Petugas pemadam berusaha memadamkan api yang membakar kawasan belukar lahan gambut di Jalan Duyung Pekanbaru, Selasa (4/10/2016). Peristiwa yang terjadi di dekat pemukiman penduduk tersebut diduga dilakukan dengan sengaja untuk tujuan membersihkan lahan 

Laporan Wartawan Tribun Pekanbaru, Alexander

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU -- Pihak DPRD Riau menyayangkan masih bersifat sosialisasi kegiatan di Bandan Restorasi Gambut (BRG) hingga saat ini, apalagi degan menggunakan anggaran hinggga Rp 200 miliar.

Wakil Ketua DPRD Riau, Noviwaldy Jusman mengatakan, anggaran sebanyak itu bukanlah sedikit untuk pelaksanaan sosialisasi BRG. Walau menggunakan APBN, namun menurutnya hal tersebut tetap mesti dicermati penggunaan anggarannya.

Anggaran Rp 200 miliar, menurut dia terlalu sia-sia digunakan, jika tidak ada kerja yang telah dihasilkan. "Kalau Rp 200 miliar untuk sosialisasi, itu buang-buang duit namanya, untuk apa anggaran sebanyak itu jika hasilnya tidak tampak," kata Noviwaldy, Senin (13/11).

Menurut pria yang akrab disapa Dedet ini, cukup banyak kegiatan yang bisa dilakukan sosialisasi, misalnya dengan pembuatan pemetaan gambut yang lebih jelas dan rinci di tiap daerah.

Ketika posisinya sudah jelas, maka menurut Noviwaldy di lokasi tersebutlah yang perlu dilakukan sosialisasi, bukan merata ke seluruh daerah. Karena lahan gambut di Riau walau cukup luas, tapi tidak seluruh daerah memiliki kawasan gambut tersebut.

"Urutan kerjanya harus jelas dan tertata. Dibuat zona dan pemetaan secara jelas, kemudian di situ dilakukan sosialisasi secara maksimal, jangan merata di seluruh daerah," imbuhnya.

Tidak hanya sosialisasi yang dilakukan di sana, tapi BRG menurutnya bisa melakukan penataan ulang, misalnya ada penggunaan lahan yang tidak tepat, kemudian dipindahkan berdasarkan kebutuhan dan kondisi lahan.

Selain itu, masyarakat saat ini menurut Dedet butuh kepastian, dan penejalsan soal lahan gambut. Mana yang gambut dalam dan mana yang gambut gubah. Dijelaskannya, gambut dalam yaitu yang memiliki kedalaman 3 meter, sedangkan gambut gubah memiliki kedalaman lebih dari 3 meter.

Jika sudah diketahuinya lahan gambut gubah dan gambut dalam tersebut, masyarakat juga barua diberi tahu, tanaman apa yang cocok untuk kedua lahan tersebut, dan bagaimana pengelolaannya.

"Masyarakat butuh kepastian terkait lahan yang akan mereka tanami. Jika sudah jelas apa yang akan ditanami, masyarakat tidak ragu lagi," tuturnya. (ale)

Penulis: Alex
Editor: Teddy Yohannes Tarigan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help