TribunPekanbaru/

Jikalahari : BRG Sudah Bekerja, TRGD Yang Tidak Ada Aksi

Sebelumnya Deputi Bidang Penelitian dan pengembangan BRG Haris Gunawan menjelaskan pihak BRG menghabiskan Rp200 Miliar

Jikalahari : BRG Sudah Bekerja, TRGD Yang Tidak Ada Aksi
TribunPekanbaru/Melvinas Priananda
Petugas pemadam gabungan dari berbagai unsur berjibaku untuk memadamkan api di lokasi kebakaran lahan gambut yang berada di Kelurahan Air Hitam, Payung Sekaki, Pekanbaru, Kamis (11/8/2016). Selain melibatkan puluhan personel pemadam, dua alat berat juga bekerja sepanjang hari untuk membangun embung penampung air akibat jauhnya sumber air hingga menyulitkan proses pemadaman. 

Laporan wartawan Tribun Pekanbaru, Nasuha Nasution

TRIBUNPEKANBARU.com, PEKANBARU - Wakil Kordinator Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) menilai pernyataan Haris Gunawan Deputi di Badan Restorasi Gambut (BRG) adalah pernyataan yang kurang tepat dan mengecewakan publik terkait kinerja BRG.

"Padahal mandat BRG bukan hanya melakukan sosialisasi jauh dari itu melakukan restorasi di areal bekas terbakar dan membangun basis data gambut Riau,"ujar Made Ali kepada Tribun menanggapi pernyataan BRG sebelumnya yang belum bisa memperlihatkan hasil kerjanya di Riau.

Karena sebelumnya Deputi Bidang Penelitian dan pengembangan BRG Haris Gunawan menjelaskan pihak BRG menghabiskan Rp200 Miliar dan terbanyak melakukan sosialisasi kepada masyarakat selain ada aksi nyata juga.

"Kalau hanya melakukan sosialisasi, apa gunanya BRG?. Padahal cita cita BRG dibentuk untuk melindungi gambut yang telah dirusak oleh korporasi,"ujar Made.

Jikalahari melihat bahkan BRG sudah bekerja di lapangan dengan melibatkan banyak pihak, termasuk mahasiswa dan NGo lainnya yang peduli dengan ancaman kebakaran di areal gambut.

"Dari pantauan Jikalahari, untuk di Riau yang sama sekali tidak jalan dan bekerja adalah Tim Restorasi Gambut Daerah (TRGD) yang diketuai oleh Sekda. TRGD sama sekali tidak terdengar kerjanya,"ujar Made.

Seharusnya menurut Made, TRGD ini harus melakukan sosialisasi dan membangun komunikasi insentif dengan masyarakat di areal gambut termasuk mencarikan alternatif tanaman yang cocok digambut.

"Kemudian memetakan areal gambut seluas 5 juta hektar di Riau untuk diawasi khususnya untuk fungsi lindung gambutnya,"ujar Made.

Tahun depan, Jikalahari mengharapkan agar TRGD mengawal dan mengawasi restorasi areal korporasi bekas terbakar, mendorong lahan gambut untuk pertanian ramah gambut seperti sagu. "Gubernur Riau juga sudah mencanangkan makan sagu pengganti nasi. Apalagi sagu terbaik dari gambut," jelas Made.

Penulis: Nasyuha
Editor: Teddy Yohannes Tarigan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help