TribunPekanbaru/

KBRI Kairo Akui Pembebasan Mahasiswa Asal Kampar Masih dalam Proses

Pihak KBRI Kairo terus berupaya membebaskan mahasiswa Indonesia yang ditahan Pihak Kepolisian Nasr City II

KBRI Kairo Akui Pembebasan Mahasiswa Asal Kampar Masih dalam Proses
NET
Ilustrasi

Laporan Wartawan Tribun Pekanbaru, Fernando Sikumbang

TRIBUNPEKANBARU.COM,KAIRO- Pihak KBRI Kairo terus berupaya membebaskan mahasiswa Indonesia yang ditahan Pihak Kepolisian Nasr City II. Satu dari lima mahasiwa asal Kabupaten Kampar, Provinsi Riau kini masih dalam penahanan pihak kepolisian setempat. Ia adalah Muhammad Fitrah Nur Akbar.

Mahasiswa tingkat II Fakultas Syariah Universitas Al Azhar ini sedang dalam proses pembebasan. KBRI Kairo berjanji akan segera memberi informasi terkini keadaan Fitrah kepada keluarga.

"Saat ini masih dalam proses. Informasi terakhir yang kami terima seperti itu," ujar Pihak KBRI Kairo melalui Pelaksana Fungsi Pensosbud, Musa Derek Sairwona kepada Tribun, Kamis (7/12/2017) sore waktu setempat.

Menurutnya, Fitra dalam proses deportasi. Informasi yang beredar ia kini sedang menanyi proses administrasi selama tiga hari. Pihak KBRI Kairo bersama Anggota DPR RI sudah melihat kondisi terkini Fitra yang masih ditahan.

Ia menegaskan bahwa pihak KBRI Kairo teru menekan agar proses pembebasan terhadap Fitra bisa dilakukan. "Kita tentu prihatin dengan kondisi mahasiswa yang dalam penahanan pihak kepolisian," terangnya.

Menurutnya, pihak Kepolisian Nasr City II sempat menahan lima mahasiswa asal Indonesia pada 22 November 2017 lalu. Mereka adalah Dodi Firmansyah Damhuri, Muhammad Jafar, Muhammad Fitrah Nur Akbar, Ardinal Khairi dan Hartopo Abdul Jabbar.

Mereka terjaring razia aparat keamanan Mesir di kawasan Tabbah, Nasr City. Petugas langsung membebaskan Dodi Firmansyah Damhuri dan Muhammad Jafar karena masih memiliki ijin tinggal yang masih valid.

Polisi mendeportasi dua mahasiswa lagi. Fitrah sampai saat ini masih dalam tahanan Kantor Polisi Nasr City II. Musa menyebut
KBRI telah menyampaikan nota diplomatik ke Kemlu Mesir, Kantor Grand Syaikh Al Azhar dan National Security untuk meminta Pemerintah Mesir membebaskan mahasiswa asal Indonesia.

KBRI Kairo juga telah mengupayakan kondisi yang layak selama berada di dalam tahanan. Seperti memberikan bantuan berupa makanan dan kebutuhan sehari-hari. "Kita menyayangkan proses penangkapan mahasiswa Indonesia tanpa notifikasi kepada KBRI Kairo," ulas Musa.

Mereka mengaku tidak mendapat notifikasi terkait penahanan mahasiswa RI, Fitrah hingga 4 Desember 2017. KBRI Kairo kembali menyampaikan nota diplomatik kepada Kemlu Mesir, Grand Shekh Al Azhar dan National Security, Kementerian Dalam Negeri Mesir, agar segera membebaskan satu WNI.

Hal ini mempertimbangkan Fitrah yang masih berstatus sebagai mahasiswa Al Azhar dan memiliki izin tinggal yang valid hingga tahun 2018. Musa mengaku sejak ditetapkannya state of emergency di Mesir pada April 2017 dan selanjutnya diperpanjang mulai 13 Oktober 2017 hingga Desember 2017.

Aparat keamanan Mesir atau National Security rutin melakukan razia terhadap warga negara asing dalam rangka penertiban keamanan di Mesir. Saat ini KBRI Kairo sudah memfasilitasi deportasi 18 siswa atau mahasiswa.

Jumlah WNI di Mesir hingga Oktober 2017 adalah sejumlah 7.594. 4.975 diantaranya adalah mahasiswa. Musa menyebut KBRI Kairo telah mengkomunikasikan saran tindak lanjut terhadap kasus ini kepada instansi terkait di Indonesia. Hal ini mempertimbangkan besarnya jumlah mahasiswa di Mesir yang potensial sebagai sasaran razia aparat keamanan Mesir.

"Satu pertinlmbangan lainnya adalah menghentikan pengiriman mahasiswa ke Mesir selama situasi dan prosedur keamanan di Mesir belum kondusif," terangnya. (fer)

Penulis: Fernando
Editor: Teddy Yohannes Tarigan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help